HifemaHyphaema
SKDI 2012 memberi butir 33 Hifema tingkat 3A pada tabel Sistem Indra bagian Mata, subkelompok Anterior Chamber, halaman 37 [2]. Header entri PPK FKTP mencantumkan angka yang sama, jadi kedua dokumen sepakat dan tidak ada pertentangan tingkat untuk penyakit ini [1][2]. Tetangganya pada subkelompok yang sama, butir 34 Hipopion, juga 3A [2]. Arti 3A di sini sudah dijalankan penuh oleh entri PPK: diagnosis ditegakkan di layanan primer, penanganan awal diberikan, lalu setiap pasien dirujuk ke dokter spesialis mata [1]. Tidak ada bentuk hifema yang dituntaskan di puskesmas, dan tidak ada bagian entri ini yang memberi kewenangan menghentikan darahnya, menilai sudut bilik mata, atau mengeluarkan bekuannya. Teks yang berlaku untuk entri ini adalah lampiran induk. Dokumen perubahan KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 tidak menyebut kelompok Mata dan tidak menyentuh entri ini [4].SKDI 2012 gives item 33 Hifema level 3A in the Sistem Indra table under Mata, subgroup Anterior Chamber, on page 37 [2]. The PPK FKTP entry header carries the same figure, so the two documents agree and there is no competing grade for this disease [1][2]. Its neighbour in the same subgroup, item 34 Hipopion, is also 3A [2]. What 3A means here is already worked through by the PPK entry: the diagnosis is made in primary care, initial handling is given, and every patient is then referred to an ophthalmologist [1]. No form of hyphaema is completed at a health centre, and nothing in this entry gives authority to stop the bleeding, assess the drainage angle, or evacuate the clot. The text in force for this entry is the parent annex. The amending decision KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 does not mention the eye group and does not touch this entry [4].
Hifema adalah darah yang terkumpul di bilik mata depan 1. Penyebabnya hampir selalu trauma; bentuk spontan jarang, dan ketika muncul ia menjadi petunjuk ke penyakit lain, yaitu neovaskularisasi iris, gangguan pembekuan darah, penyakit herpes, masalah pada lensa intraokular, retinoblastoma, dan leukemia 1. Trauma yang menimbulkannya jarang hanya merusak satu struktur, sehingga hifema kerap ditemani abrasi kornea, iritis, midriasis, atau kerusakan lain di mata yang sama 1.
Yang membuat hifema penting bukan darah yang terlihat pada hari pertama, melainkan apa yang terjadi sesudahnya: perdarahan ulang, tekanan bola mata yang naik, dan kornea yang terwarnai darah 1.
Kompetensi dokter layanan primer 3A 12. Diagnosis ditegakkan di layanan primer, mata dilindungi dan pasien ditenangkan, lalu setiap pasien dirujuk ke dokter spesialis mata 1. Tidak ada bentuk hifema yang selesai di puskesmas.
Faktor risiko 1:
- Laki-laki usia muda, kelompok yang paling sering mengalami hifema karena trauma.
- Neovaskularisasi iris, misalnya pada diabetes melitus dan oklusi vena retina, yang mendasari hifema spontan.
- Koagulopati.
- Pemakaian antikoagulan.
- Tiga yang terakhir menjelaskan hifema tanpa riwayat benturan, dan menemukannya berarti mencari penyakit di belakang matanya.
Hyphaema is blood collected in the anterior chamber 1. The cause is nearly always trauma; the spontaneous form is uncommon, and when it appears it points to another disease, namely iris neovascularisation, a clotting disorder, herpes disease, a problem with an intraocular lens, retinoblastoma, and leukaemia 1. The trauma that produces it rarely damages one structure alone, so hyphaema often arrives alongside a corneal abrasion, iritis, mydriasis, or other damage in the same eye 1.
What makes hyphaema matter is not the blood visible on day one but what follows it: a second bleed, a rise in the pressure inside the eye, and a cornea stained by blood 1.
Primary care competence is 3A 12. The diagnosis is made in primary care, the eye is protected and the patient settled, and every patient is then referred to an ophthalmologist 1. No form of hyphaema is finished at a health centre.
Risk factors 1:
- Young men, the group in whom traumatic hyphaema is most often seen.
- Iris neovascularisation, for example in diabetes and retinal vein occlusion, which underlies spontaneous hyphaema.
- Coagulopathy.
- Anticoagulant use.
- The last three explain a hyphaema with no history of a blow, and finding one means looking for the disease behind the eye.
MengenaliRecognising it
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik 1. Tidak ada pemeriksaan laboratorium, tidak ada pencitraan, dan tidak ada skor.
Keluhan 1:
- Nyeri pada mata.
- Penglihatan terganggu, dan ini muncul bila darahnya menutupi sumbu penglihatan.
- Silau.
- Ketiganya tidak khas untuk hifema. Yang mengarahkan diagnosis adalah riwayat benturan pada mata, dan pada pasien tanpa riwayat itu justru penyebab spontannya yang perlu dicari.
The diagnosis rests on history and examination 1. There is no laboratory test, no imaging, and no score.
Complaints 1:
- Eye pain.
- Disturbed vision, which appears when the blood covers the visual axis.
- Photophobia.
- None of the three is specific to hyphaema. What points to the diagnosis is a history of a blow to the eye, and in a patient without one it is the spontaneous cause that has to be looked for.
What the history must cover 1:
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf D Mata, angka 19 Hifema, halaman lampiran -247- sampai -249-. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Indra bagian Mata, subkelompok Anterior Chamber, butir 33, halaman 37. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf G Sistem Indera, angka 5 Pemeriksaan Media Refraksi dan angka 7 Pemeriksaan Tekanan Intraokular Dengan Palpasi Dan Tonometer Schiotz, keduanya Tingkat Keterampilan 4A. manuver.tireg7.net
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai sebagai pembanding negatif: Pasal I tidak menyebut Huruf D Mata, sehingga teks lampiran induk yang berlaku untuk entri ini. diskes.badungkab.go.id
- 5.Gragg J, Blair K, Baker MB. Hyphema. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov