Hidradenitis supuratifHidradenitis suppurativa

SKDI 2012 memberi 4A tanpa kualifikasi apa pun pada butir 45, sedangkan penyakitnya sendiri bertingkat: entri PPK FKTP memuat dua sistem klasifikasi keparahan, Hurley dan Sartorius, dan menguraikan tahap III sebagai beberapa saluran sinus yang saling berhubungan dengan abses yang melibatkan seluruh daerah anatomi. Tidak ada satu pun dari kedua sistem itu yang dipakai sebagai pemicu rujukan pada entri yang sama. Kriteria rujukan yang dimuat hanya dua, yaitu penyakit tidak sembuh dengan pengobatan oral dan lesi kambuh setelah insisi dan drainase. Karena itu 4A di sini bukan pernyataan bahwa setiap derajat dapat dituntaskan di layanan primer, melainkan tingkat kompetensi tanpa pembatas yang bertemu dengan pedoman yang juga tidak memberi pembatas derajat. Penilaian derajat tetap perlu dikerjakan, karena derajatlah yang menentukan apakah insisi satu abses akan menyelesaikan masalah atau hanya membuka satu simpul dari jaringan sinus yang lebih luas.SKDI 2012 grants 4A on item 45 without any qualifier, while the disease itself is graded: the PPK FKTP entry carries two severity classifications, Hurley and Sartorius, and describes stage III as several interconnected sinus tracts with abscesses involving a whole anatomical region. Neither system is used as a referral trigger anywhere in that same entry. The referral criteria it does carry are only two, disease that does not resolve on oral treatment and lesions that recur after incision and drainage. So 4A here is not a statement that every grade can be completed in primary care; it is an unqualified competency level meeting a guideline that also sets no grade limit. Grading still has to be done, because the grade decides whether incising one abscess settles the problem or only opens one node of a wider sinus network.

Hidradenitis supuratif, yang juga disebut akne inversa, adalah peradangan kronis dan supuratif pada kelenjar apokrin 1. Penyakitnya berjalan pada usia pubertas sampai dewasa muda, dengan prevalensi keseluruhan sekitar 1% dan rasio wanita terhadap pria 3 banding 1 1. Sepertiga pasien punya kerabat dengan penyakit yang sama, sehingga riwayat keluarga layak ditanyakan 1.

Yang membuat penyakit ini sering salah dikenali adalah tampilan awalnya: satu nodus nyeri di ketiak atau lipat paha terlihat persis seperti bisul biasa. Yang membedakan adalah perjalanannya, yaitu berulang di tempat yang sama, lalu meninggalkan sinus dan jaringan parut 1. Sekali sinus terbentuk, penyakitnya tidak lagi selesai dengan menangani satu lesi. Tingkat kemampuan 4A 2.

Faktor risiko 1:

  • Merokok.
  • Obesitas.
  • Banyak berkeringat.
  • Pemakaian deodoran.
  • Menggunting rambut ketiak.
    • Ketiga hal terakhir bekerja lewat trauma dan mikrotrauma pada kulit, yang sering mendahului munculnya lesi.

Hidradenitis suppurativa, also called acne inversa, is a chronic suppurative inflammation of the apocrine glands 1. It runs from puberty into young adulthood, with an overall prevalence of about 1% and a female to male ratio of 3 to 1 1. One third of patients have a relative with the same disease, so a family history is worth asking about 1.

What makes it so often misread is how it starts: a single painful nodule in the axilla or the groin looks exactly like an ordinary boil. What separates it is the course, recurring at the same site and then leaving sinus tracts and scarring 1. Once sinuses have formed, the disease no longer settles by treating one lesion. Competency level 4A 2.

Risk factors 1:

  • Smoking.
  • Obesity.
  • Sweating heavily.
  • Use of deodorant.
  • Trimming axillary hair.
    • The last three work through trauma and microtrauma to the skin, which often precedes the appearance of lesions.

MengenaliRecognising it

Anamnesis.

  • Keluhan awalnya gatal, eritema, dan hiperhidrosis setempat 1.
  • Tanpa pengobatan penyakitnya berkembang dan pasien merasakan nyeri di lesi, jadi nyeri menandakan lesi yang sudah berjalan, bukan lesi yang baru muncul 1.
  • Tanyakan apakah lesi berulang di tempat yang sama, karena pengulangan itulah yang memisahkannya dari furunkel 1.
  • Tanyakan riwayat keluarga, kebiasaan merokok, berat badan, dan perawatan ketiak berupa deodoran atau menggunting rambut 1.

History.

  • It begins with itch, erythema and local hyperhidrosis 1.
  • Without treatment the disease progresses and the patient feels pain in the lesion, so pain marks an established lesion rather than a new one 1.
  • Ask whether lesions recur at the same site, because that recurrence is what separates this from a furuncle 1.
  • Ask about family history, smoking, body weight, and axillary care in the form of deodorant or hair trimming 1.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 25 Hidradenitis Supuratif, halaman lampiran -610- sampai -614-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, subkelompok Kelainan Kelenjar Sebasea dan Ekrin, butir 45 Hidradenitis supuratif (4A). pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode ED92.0 dan judulnya dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  4. 4.Hidradenitis Suppurativa. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.