Hernia UmbilikalisUmbilical Hernia

Tingkat 3A berarti mendiagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk. Satu hal pada baris ini perlu dinyatakan terbuka karena mudah salah baca. Pada tabel SKDI yang sama, hernia inguinalis, femoralis dan skrotalis yang reponibilis maupun irreponibilis hanya bernilai 2, sedangkan hernia umbilikalis bernilai 3A, dan bentuk strangulata serta inkarserata bernilai 3B [1]. Jadi daftar itu menaruh hernia umbilikalis lebih tinggi daripada hernia inguinalis yang masih dapat dimasukkan kembali. Dokumen tidak menjelaskan alasannya, dan entri ini tidak menebaknya. Yang dapat dinyatakan adalah akibatnya pada pekerjaan: pada tingkat 2 seorang dokter cukup mengenali dan meneruskan, sedangkan pada 3A ia berkewajiban memulai sesuatu lebih dulu. Pada hernia umbilikalis, memulai sesuatu berarti memastikan hernianya masih dapat dimasukkan kembali, menyingkirkan inkarserasi, menghilangkan sebab tekanan perut yang menetap, memberi keluarga daftar tanda bahaya beserta tanggal kontrol, lalu mengatur pendapat bedah. Yang tidak termasuk di dalamnya adalah memaksa memasukkan hernia yang sudah tidak dapat dimasukkan, dan memperbaiki defeknya. PPK FKTP tidak memuat entri hernia sama sekali, sehingga tidak ada dokumen yang lebih baru yang menilai butir ini kembali [2].Level 3A means diagnose, give initial treatment, then refer. One thing on this line has to be said openly because it is easy to misread. In the same SKDI table, inguinal, femoral and scrotal hernia, whether reducible or irreducible, is graded only 2, while umbilical hernia is graded 3A, and the strangulated and incarcerated forms are graded 3B [1]. The list therefore places umbilical hernia above an inguinal hernia that can still be pushed back. The document does not explain why, and this entry does not guess. What can be stated is the consequence for the work: at level 2 a doctor recognises and passes the patient on, while at 3A the doctor is obliged to start something first. In umbilical hernia, starting something means confirming that the hernia still reduces, excluding incarceration, removing the causes of sustained abdominal pressure, giving the family the warning signs together with a review date, and then arranging a surgical opinion. What it does not include is forcing back a hernia that no longer reduces, or repairing the defect. The PPK FKTP carries no hernia entry at all, so no newer document regrades this item [2].

Hernia umbilikalis adalah tonjolan isi rongga perut melalui cincin umbilikus, yaitu lubang pada dinding perut tempat pembuluh tali pusat dahulu lewat. Pada bayi, tali pusat biasanya lepas pada hari ketujuh dan lukanya sembuh sekitar hari kelima belas 2; cincinnya kemudian mengecil seiring dinding perut menguat. Bila penutupan itu tidak lengkap, tersisa defek yang menonjol setiap kali tekanan di dalam perut naik.

Cara membedakannya dari hal lain di pusar yang bukan hernia:

  • Tonjolan bertambah besar saat bayi menangis, batuk atau mengejan, dan mengecil atau hilang saat tenang dan berbaring. Pola muncul dan hilang itulah yang menandai hernia.
  • Kemerahan, bengkak, bau dan nanah di pangkal tali pusat adalah infeksi umbilikus, bukan hernia. Penyakit itu bertingkat 4A dan dituntaskan di FKTP 12.
  • Tonjolan yang menetap sejak lahir dan tidak berubah dengan tangisan bukan hernia umbilikalis sederhana.

Yang membuat tekanan di dalam perut menetap tinggi, dan karena itu perlu dicari 3:

  • Batuk menahun. Pedoman anak nasional mencantumkan hernia umbilikalis dan inguinalis serta prolaps rekti sebagai penyulit pertusis, dan itu contoh paling jelas bagaimana tekanan yang berulang membuka cincin yang seharusnya menutup.
  • Konstipasi dan mengejan berkepanjangan.
  • Menangis berkepanjangan yang tidak tertangani sebabnya.
  • Pada dewasa: obesitas, kehamilan berulang, asites, dan pekerjaan mengangkat beban berat.

Yang berbahaya bukan tonjolannya melainkan saat tonjolan itu berhenti dapat dimasukkan kembali. Hernia yang terjepit menghentikan aliran isi usus dan aliran darahnya, dan daftar penyebab obstruksi usus pada pedoman anak nasional memuat hernia pada obstruksi usus halus maupun usus besar 3.

Tingkat kemampuan dokter umum 3A, yaitu mendiagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk 1.

An umbilical hernia is a protrusion of abdominal contents through the umbilical ring, the opening in the abdominal wall where the cord vessels once passed. In an infant the cord usually separates on the seventh day and the wound heals around the fifteenth 2; the ring then narrows as the abdominal wall strengthens. Where that closure is incomplete, a defect remains that protrudes whenever pressure inside the abdomen rises.

How to separate it from other things at the navel that are not hernias:

  • The swelling grows when the baby cries, coughs or strains, and shrinks or disappears when calm and lying down. That appearing and disappearing is what marks a hernia.
  • Redness, swelling, odour and pus at the base of the cord is umbilical infection, not hernia. That disease is graded 4A and is completed in primary care 12.
  • A swelling present since birth that does not change with crying is not a simple umbilical hernia.

What keeps intra-abdominal pressure persistently high, and therefore has to be looked for 3:

  • Chronic cough. The national paediatric guideline lists umbilical and inguinal hernia and rectal prolapse among the complications of pertussis, and that is the clearest example of how repeated pressure opens a ring that should be closing.
  • Constipation and prolonged straining.
  • Prolonged crying whose cause has not been addressed.
  • In adults: obesity, repeated pregnancy, ascites, and work involving heavy lifting.

What is dangerous is not the swelling but the moment it stops going back in. A trapped hernia stops the passage of bowel contents and its blood supply, and the national paediatric list of causes of bowel obstruction includes hernia for both small and large bowel 3.

General practitioner competency is level 3A: diagnose, give initial treatment, then refer 1.

MengenaliRecognising it

Anamnesis:

  • Kapan tonjolan pertama terlihat, dan apakah muncul sesudah tali pusat lepas.
  • Apakah tonjolan membesar saat menangis, batuk, atau mengejan, dan mengecil saat tenang.
  • Apakah tonjolan masih bisa masuk kembali, dan apakah ada saat ketika tidak bisa.
  • Apakah pernah nyeri. Nyeri pada hernia umbilikalis bayi adalah keluhan yang tidak biasa dan harus ditelusuri, bukan diobati.
  • Muntah, perut kembung, dan tidak buang angin atau buang air besar.
  • Rewel terus menerus pada bayi yang sebelumnya tenang.
  • Sebab tekanan perut yang menetap: batuk lama, konstipasi, menangis berkepanjangan, dan pada dewasa obesitas, kehamilan, asites, serta pekerjaan mengangkat beban.
  • Apa yang sudah dilakukan keluarga di rumah terhadap pusarnya. Pertanyaan ini penting dan sering tidak ditanyakan.
  • Riwayat kelahiran: usia gestasi, berat lahir, dan cara perawatan tali pusatnya.

History:

  • When the swelling was first seen, and whether it appeared after the cord separated.
  • Whether it enlarges with crying, coughing or straining, and shrinks when calm.
  • Whether it still goes back in, and whether there has ever been a time when it did not.
  • Whether it has ever been painful. Pain in an infant's umbilical hernia is an unusual complaint and must be pursued rather than treated.
  • Vomiting, abdominal distension, and absence of flatus or stool.
  • Continuous irritability in a baby who was previously settled.
  • Causes of sustained abdominal pressure: prolonged cough, constipation, prolonged crying, and in adults obesity, pregnancy, ascites, and heavy lifting work.
  • What the family has already been doing to the navel at home. This question matters and is often not asked.
  • Birth history: gestational age, birth weight, and how the cord was cared for.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier, dan Pankreas, subkelompok Dinding, Rongga Abdomen, dan Hernia, butir 19 Hernia umbilikalis (3A) dengan butir 16 (tingkat 2), butir 17 (3B), butir 20 Peritonitis (3B) dan butir 23 Infeksi pada umbilikus (4A) sebagai pembanding, halaman cetak 44; serta Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, sistem yang sama, butir 4, 5 dan 7. pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran II Panduan Keterampilan Klinis butir 5 Pemeriksaan Inguinal (Hernia), halaman lampiran -1031- sampai -1032-, dan Lampiran I Huruf A butir 8 Infeksi Pada Umbilikus, halaman lampiran -54- sampai -57-. Lampiran I diperiksa seluruhnya dan tidak memuat entri hernia. manuver.tireg7.net
  3. 3.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis, Edisi II, 2011, bab Pertusis tabel Penyulit (halaman 226) dan bab Obstruksi Intestinal (halaman 201 sampai 203). galihendradita.wordpress.com
  4. 4.Coste AH, Jaafar S, Parmely JD. Umbilical Hernia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan dan tautan saja; bukan sumber isi entri ini dan tidak ada kalimatnya yang dikutip. ncbi.nlm.nih.gov
  5. 5.Troullioud Lucas AG, Jaafar S, Mendez MD. Pediatric Umbilical Hernia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan dan tautan saja; bukan sumber isi entri ini dan tidak ada kalimatnya yang dikutip. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.