Hernia Nukleus Pulposus (HNP)Herniated Nucleus Pulposus

SKDI 2012 menempatkan Hernia nucleus pulposus (HNP) pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang, butir nomor 56, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas. Tingkat 3A berarti dokter mampu membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. SKDI tidak memisahkan HNP servikal dari HNP lumbal, dan tingkatnya berlaku untuk keduanya. Isi halaman ini berpusat pada bentuk lumbal karena bentuk itu yang paling sering dijumpai di layanan primer dan karena sumbernya memuat bab tersendiri untuknya; bentuk servikal disebut pada bagian yang relevan. Tetangganya dalam subkelompok yang sama menentukan cara membaca halaman ini, dan susunannya tidak seperti yang diduga banyak orang: - Butir 55 Radicular syndrome 3A, yaitu sindrom yang paling sering ditimbulkan HNP. - Butir 54 Acute medulla compression 3B, sehingga penekanan medula yang akut justru diberi tingkat kegawatdaruratan. - Butir 49 Sindrom kauda equine tingkat 2, yaitu komplikasi HNP yang paling ditakuti, dan tingkat 2 berarti dokter layanan primer mengenali lalu merujuk tanpa menanganinya sendiri. - Butir 50 Neurogenic bladder 3A dan butir 48 Complete spinal transaction 3B. Bacaan yang masuk akal dari susunan itu: HNP tanpa penyulit ditangani awal dan dirujuk, sedangkan begitu gambarannya berubah menjadi penekanan akut atau sindrom kauda equina, kewenangan layanan primer menyempit menjadi mengenali dan mengirim secepat mungkin.SKDI 2012 places Hernia nucleus pulposus (HNP) in the SISTEM SARAF table, subgroup Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang, item 56, at competency 3A with no qualifying words. Level 3A means the doctor makes the clinical diagnosis, gives initial treatment in a situation that is not an emergency, decides the most appropriate referral, and follows the patient up afterwards. SKDI does not separate cervical from lumbar disc herniation, and the grade covers both. This page centres on the lumbar form because that is the one met most often in primary care and because the source carries a chapter of its own for it; the cervical form is named where it is relevant. Its neighbours in the same subgroup decide how this page should be read, and the arrangement is not what most people assume: - Item 55 Radicular syndrome at 3A, the syndrome disc herniation most often produces. - Item 54 Acute medulla compression at 3B, so acute cord compression is graded as an emergency. - Item 49 Sindrom kauda equine at level 2, the most feared complication of disc herniation, and level 2 means the primary care doctor recognises it and refers without managing it. - Item 50 Neurogenic bladder at 3A and item 48 Complete spinal transaction at 3B. The sensible reading of that arrangement: uncomplicated disc herniation is treated initially and referred, but as soon as the picture turns into acute compression or a cauda equina syndrome, primary care authority narrows to recognising it and sending the patient as fast as possible.

Hernia nukleus pulposus adalah keluarnya bahan diskus intervertebralis dari tempatnya, berupa bulging, protrusi, ekstrusi atau sekuestrasi, dan bahan yang keluar dapat berasal dari nukleus pulposus, annulus fibrosus, atau keduanya 1. Bentuk lumbal adalah yang paling sering menyebabkan nyeri pinggang.

Satu hal perlu diketahui sebelum membaca sisanya: herniasi diskus tidak langsung menimbulkan nyeri dan dapat sama sekali tanpa gejala. Nyerinya lahir dari proses biokimia dan mekanikal sekaligus 1. Konsekuensinya besar untuk praktik, karena bulging diskus ditemukan pada 60 persen orang tanpa gejala dan protrusi diskus pada 36 persen orang di atas usia 50 tahun 1. Gambaran pada pencitraan karena itu tidak dengan sendirinya menjelaskan nyeri pasien.

Letaknya hampir selalu di bawah. Pada data operasi saraf skiatika, 95 persen kelainan diskus berada di antara L4-L5 atau L5-S1, sehingga pemeriksaan fisiknya difokuskan pada penjalaran saraf L5 dan S1 1.

Perjalanannya biasanya baik. Sebagian besar pasien tidak memerlukan operasi segera, dan pada satu penelitian 87 persen di antaranya cukup mendapat analgesik oral dengan nyeri yang berkurang dalam 3 bulan; walaupun begitu, penyembuhannya lebih lambat daripada nyeri punggung bawah yang tidak spesifik 1.

Faktor risiko radikulopati lumbal, yaitu sindrom yang paling sering ditimbulkan penyakit ini 2:

  • Obesitas.
  • Laki-laki.
  • Merokok.
  • Riwayat nyeri lumbal sebelumnya.
  • Cemas dan depresi.
  • Pekerjaan yang menuntut berdiri atau membungkuk lama.
  • Pekerjaan manual berat dan mengangkat benda berat.
  • Terpapar getaran.

Kompetensi dokter layanan primer 3A 4. Yang membuat penyakit ini berbeda dari kebanyakan penyakit 3A adalah kewenangannya yang lebih luas: bab sumbernya menyerahkan tata laksananya kepada dokter di layanan primer, dengan rujukan ke spesialis saraf mengikuti algoritma 1. Yang membalik keadaan itu adalah defisit neurologis, dan yang membatalkan seluruh percobaan pengobatan adalah gambaran kauda equina.

A herniated nucleus pulposus is intervertebral disc material displaced from its place as a bulge, a protrusion, an extrusion or a sequestration, and the material may come from the nucleus pulposus, the annulus fibrosus, or both 1. The lumbar form is the one that most often causes back pain.

One thing has to be known before reading the rest: a disc herniation does not directly cause pain and may be entirely asymptomatic. The pain arises through biochemical and mechanical processes together 1. The consequence for practice is large, because a bulging disc is found in 60 per cent of people without symptoms and a disc protrusion in 36 per cent of people over the age of 50 1. An imaging finding therefore does not by itself explain a patient's pain.

Its location is almost always low. In sciatic nerve surgical data, 95 per cent of disc abnormalities sat at L4-L5 or L5-S1, so the examination concentrates on the L5 and S1 distributions 1.

The course is usually good. Most patients need no immediate surgery, and in one study 87 per cent of them needed only oral analgesia and their pain settled within 3 months; even so, recovery is slower than in non-specific low back pain 1.

Risk factors for lumbar radiculopathy, the syndrome this disease most often produces 2:

  • Obesity.
  • Male sex.
  • Smoking.
  • Previous lumbar pain.
  • Anxiety and depression.
  • Work demanding prolonged standing or bending.
  • Heavy manual work and lifting heavy objects.
  • Vibration exposure.

Primary care competency is 3A 4. What sets this disease apart from most 3A diseases is a wider grant of authority: the source chapter leaves the management to the doctor in primary care, with referral to a neurologist following the treatment algorithm 1. What reverses that is a neurological deficit, and what cancels the whole trial of treatment is a cauda equina picture.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Keluhan yang paling sering 1:

  • Nyeri pada punggung bawah atau daerah pantat.
  • Parestesia mengikuti penjalaran saraf skiatika, dengan nyeri yang terasa sampai di bawah lutut.
  • Gejala sensorik yang tipikal mengikuti dermatom saraf yang terkena.
  • Nyeri yang meningkat saat batuk, bersin dan mengejan.
    • Ketiganya menaikkan tekanan di dalam ruang diskus dan kanalis, sehingga jawabannya berguna sebagai penyaring cepat.

History. The commonest complaints 1:

  • Pain in the low back or the buttock.
  • Paraesthesia following the sciatic distribution, with pain felt below the knee.
  • Sensory symptoms that typically follow the dermatome of the affected nerve.
  • Pain that increases on coughing, sneezing and straining.
    • All three raise the pressure inside the disc space and the canal, which makes the answer a quick screening question.

Two pain patterns to separate from the history onwards, because they point to different diseases 2:

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Kelainan Diskus Intervertebral Lumbal, halaman 98 sampai 102, termasuk algoritma tata laksana, tabel obat, dan bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
  2. 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab pendamping pada dokumen yang sama: Nyeri Punggung Bawah halaman 89 sampai 93, Radikulopati Lumbal halaman 94 sampai 97, dan Cervical Disk Disorder dengan Radikulopati halaman 82 sampai 88. snars.web.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi. Dipakai untuk menunjukkan bahwa Huruf H tidak memuat entri hernia nukleus pulposus maupun nyeri punggung bawah. manuver.tireg7.net
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, subkelompok Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang, butir 56 Hernia nucleus pulposus (HNP), Tingkat Kemampuan 3A. pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Stretanski MF, Hu Y, Mesfin FB. Disk Herniation. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.