Glomerulonefritis akutAcute glomerulonephritis
SKDI 2012 memberi glomerulonefritis akut Tingkat Kemampuan 3A pada tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, butir 2, tepat di bawah infeksi saluran kemih yang 4A dan tepat di atas glomerulonefritis kronik yang juga 3A [2]. Tingkat 3A berarti dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi penanganan awal, lalu merujuk. Angka itu berdiri sendiri di sini. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini, sehingga tidak ada angka kedua yang bisa dibandingkan [1]. Huruf M Ginjal dan Saluran Kemih pada lampiran induk hanya memuat empat entri, yaitu infeksi saluran kemih, pielonefritis tanpa komplikasi, fimosis, dan parafimosis; perubahannya menambahkan satu entri lagi mengenai penyakit ginjal diabetik ringan [1][3]. Glomerulonefritis akut hanya muncul di lampiran itu sebagai salah satu komplikasi faringitis akut [1]. Isi halaman ini mengikuti angka 3A. Pengenalan dan rujukan diberi porsi terbesar, tata laksana dibatasi pada apa yang dikerjakan sebelum dan selama rujukan, dan biopsi ginjal, imunosupresi serta dialisis dinyatakan sebagai pekerjaan pusat rujukan.SKDI 2012 gives acute glomerulonephritis competency level 3A in the Sistem Ginjal dan Saluran Kemih table, item 2, directly below urinary tract infection at 4A and directly above chronic glomerulonephritis, which is also 3A [2]. Level 3A means the primary care doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, then refers. That number stands alone here. The primary care clinical practice guideline carries no entry for this disease, so there is no second grading to compare it with [1]. Section M on the kidney and urinary tract in the parent annex carries four entries only: urinary tract infection, uncomplicated pyelonephritis, phimosis and paraphimosis; the amendment adds one more, on mild diabetic kidney disease [1][3]. Acute glomerulonephritis appears in that annex only as one of the complications of acute pharyngitis [1]. The page follows the 3A grading. Recognition and referral carry the weight, treatment is limited to what is done before and during transfer, and renal biopsy, immunosuppression and dialysis are named as work belonging to the referral centre.
Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus yang timbul mendadak dan tampil sebagai sindrom nefritik: hematuria, hipertensi, edema, dan produksi urin yang berkurang. Bentuk yang paling sering ditemui di layanan primer Indonesia adalah bentuk pasca infeksi streptokokus, yang menyusul faringitis atau infeksi kulit oleh streptokokus beta hemolitikus grup A. Lampiran PPK FKTP menempatkan glomerulonefritis akut di daftar komplikasi faringitis akut, berdampingan dengan demam reumatik akut 1.
Dua penyakit berbeda karena itu berangkat dari infeksi yang sama, dan keduanya sudah punya halaman sendiri di Atlas: demam reumatik menyerang jantung, glomerulonefritis akut menyerang ginjal. Yang membedakan pada anamnesis adalah jeda waktunya. Nefritis muncul beberapa minggu sesudah infeksinya, dan pada saat pasien datang tenggorokannya sudah lama sembuh, sehingga hubungan itu hanya terlihat kalau ditanyakan.
Yang perlu dipegang di layanan primer:
- Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A 2. Diagnosis dan penanganan awal dikerjakan di layanan primer, tata laksana definitifnya tidak.
- Penyakit ini punya dua wajah. Sebagian besar anak sembuh sendiri, tetapi sebagian kecil masuk ke gagal ginjal akut, kelebihan cairan, dan hipertensi berat dalam hitungan hari.
- Bahaya yang membunuh lebih dulu bukan ginjalnya, melainkan tekanan darah dan cairannya: ensefalopati hipertensi, edema paru, dan gagal jantung 4.
- Kelompok yang paling sering terkena adalah anak usia sekolah, tetapi penyakit ini juga terjadi pada dewasa dan pada dewasa perjalanannya lebih sering tidak sembuh sempurna.
Faktor yang menaikkan kecurigaan:
- Faringitis atau tonsilitis streptokokus dalam beberapa minggu terakhir 1.
- Infeksi kulit dengan nanah, misalnya impetigo atau pioderma, dalam beberapa minggu terakhir.
- Lingkungan padat dan higiene terbatas, tempat infeksi streptokokus mudah menyebar.
- Anak usia sekolah, dengan laki-laki lebih sering daripada perempuan.
Acute glomerulonephritis is sudden inflammation of the glomeruli presenting as the nephritic syndrome: haematuria, hypertension, oedema and reduced urine output. The form most often met in Indonesian primary care follows streptococcal infection, arriving after pharyngitis or after a skin infection with group A beta haemolytic streptococcus. The primary care annex lists acute glomerulonephritis among the complications of acute pharyngitis, alongside acute rheumatic fever 1.
Two different diseases therefore start from the same infection, and both already have their own Atlas page: rheumatic fever strikes the heart, acute glomerulonephritis strikes the kidney. What separates them in the history is the interval. The nephritis appears some weeks after the infection, and by the time the patient arrives the throat has long settled, so the link is only visible if it is asked about.
What to hold on to in primary care:
- Primary care competency is 3A 2. Diagnosis and initial treatment belong here, definitive management does not.
- The disease has two faces. Most children recover on their own, but a minority move into acute kidney injury, fluid overload and severe hypertension within days.
- What kills first is not the kidney but the blood pressure and the fluid: hypertensive encephalopathy, pulmonary oedema and heart failure 4.
- School age children are the commonest group, but adults get it too, and in adults it less often resolves completely.
What raises the suspicion:
- Streptococcal pharyngitis or tonsillitis in the past few weeks 1.
- A purulent skin infection such as impetigo or pyoderma in the past few weeks.
- Crowded living conditions and limited hygiene, where streptococcal infection spreads easily.
- School age children, boys more often than girls.
MengenaliRecognising it
Diagnosis di layanan primer bertumpu pada empat hal yang muncul bersama sesudah infeksi streptokokus: urin berwarna, tekanan darah naik, kelopak mata bengkak, dan jumlah urin berkurang. Tidak ada satu pun pemeriksaan tunggal yang menegakkan penyakit ini di puskesmas, sehingga yang dinilai adalah pola dan kecepatannya.
Anamnesis:
- Urin berwarna merah, coklat, atau seperti air teh, biasanya tanpa nyeri berkemih. Adanya nyeri berkemih dan demam justru mengarah ke infeksi saluran kemih, bukan ke nefritis.
- Bengkak yang mulai di kelopak mata pada pagi hari lalu menyebar ke tungkai dan wajah.
- Jumlah urin berkurang, kadang sampai tidak ada sama sekali 4.
- Sakit kepala, lemah, dan pucat 4.
- Riwayat radang tenggorokan atau infeksi kulit bernanah beberapa minggu sebelumnya. Jeda inilah kuncinya, karena keluhan tenggorokannya sudah hilang saat pasien datang.
The diagnosis in primary care rests on four things appearing together after a streptococcal infection: coloured urine, a rising blood pressure, puffy eyelids and a falling urine output. No single test settles it at a puskesmas, so what is judged is the pattern and its speed.
History:
- Urine that is red, brown or the colour of tea, usually without pain on passing it. Pain on passing urine with fever points to urinary tract infection rather than nephritis.
- Swelling that starts at the eyelids in the morning and then spreads to the legs and face.
- Urine output falling, sometimes to nothing at all 4.
- Headache, weakness and pallor 4.
- A sore throat or a purulent skin infection some weeks earlier. That interval is the key, because the throat symptoms have gone by the time the patient arrives.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf M Ginjal dan Saluran Kemih, halaman lampiran -695- sampai -712-, dicari seluruhnya dan tidak memuat entri glomerulonefritis akut. Sebutan satu-satunya ada pada Huruf J Respirasi angka 2 Faringitis Akut, daftar Komplikasi, halaman lampiran -427-. Dikutip sebagai dasar pernyataan bahwa pedoman layanan primer tidak memuat entri untuk penyakit ini. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, butir 2 Glomerulonefritis akut, Tingkat Kemampuan 3A, halaman cetak 47. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Perubahan atas Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022. Huruf F Kardiovaskular angka 6 Hipertensi Esensial, bagian Pengobatan Hipertensi pada Anak, halaman lampiran -137- sampai -138-, memuat pilihan diuretik pada glomerulonefritis akut pasca streptokokus serta pemakaian penghambat ACE dan ARB untuk menurunkan proteinuria. diskes.badungkab.go.id
- 4.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis, Jilid 2, Edisi II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2011. Bab Gagal Ginjal Akut, halaman 85 sampai 87, yang menempatkan glomerulonefritis sebagai penyebab gagal ginjal akut renal dan memuat gejala, tanda, pemeriksaan penunjang, tata laksana serta rujukannya; dan bab Gagal Ginjal Kronik, halaman 90 sampai 93, yang menempatkan glomerulonefritis di antara penyebab tersering gagal ginjal kronik pada anak. galihendradita.wordpress.com
- 5.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi Dewasa, Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/4634/2021. Bagian Hipertensi Krisis, yang memuat gambaran hipertensi emergensi dan ensefalopati hipertensi serta prinsip penanganannya di rumah sakit. kemkes.go.id
- 6.Infection-Related Glomerulonephritis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov