GastritisGastritis
Daftar Penyakit SKDI 2012 menaruh gastritis pada nomor 25, subkelompok Lambung, Duodenum, Jejunum, Ileum, dengan tingkat kemampuan 4A tanpa kualifikasi, dan PPK FKTP memberi tingkat yang sama. Tidak ada butir dispepsia tersendiri di seluruh daftar itu, sehingga keluhan dispepsia di layanan primer hampir selalu bermuara ke entri ini atau ke tetangganya. Dua tetangga yang menentukan batas kerja dokter umum: ulkus gaster dan duodenum ada di nomor 28 dengan tingkat 3A, dan perdarahan gastrointestinal di nomor 36 dengan tingkat 3B. Karena itu yang membatasi bukan tingkat kemampuannya melainkan arah perjalanan penyakitnya: begitu keluhan gastritis berubah menjadi ulkus atau perdarahan, pasien sudah berada di luar entri ini.The SKDI 2012 disease list places gastritis at item 25, Stomach, Duodenum, Jejunum, Ileum subgroup, competency level 4A with no qualifier, and PPK FKTP gives the same level. There is no separate dyspepsia item anywhere on that list, so a dyspepsia complaint in primary care almost always lands on this entry or one of its neighbours. Two neighbours set the real boundary of GP work: gastric and duodenal ulcer sit at item 28 with level 3A, and gastrointestinal bleeding at item 36 with level 3B. What limits the GP is therefore not the competency level but the direction the disease takes: once gastritis turns into an ulcer or into bleeding, the patient is already outside this entry.
Gastritis adalah peradangan pada lapisan mukosa dan submukosa lambung, sebuah mekanisme pertahanan mukosa ketika bakteri atau bahan iritan lain menumpuk di dalamnya, dan prosesnya dapat berjalan akut maupun kronis serta merata maupun terbatas pada satu bagian 1. Pasien datang dengan nyeri dan rasa panas seperti terbakar di perut bagian atas; hubungannya dengan makan tidak selalu sama, sebab keluhan bisa mereda maupun justru memberat sesudah makan, dan biasanya disertai mual, muntah dan kembung 1. Sebagian besar kasus di layanan primer berhenti pada diagnosis klinis, dan pemeriksaan penunjang baru diperlukan bila perjalanannya kronis 1. Yang membuat keluhan ini tidak boleh dianggap sepele adalah lanjutannya, sebab mukosa yang terus meradang dapat berdarah, menjadi ulkus, bahkan berlubang 1. Tingkat kemampuan dokter umum 4A 3.
Faktor risiko 1:
- Pola makan yang tidak baik: waktu makan terlambat, makanan pedas, porsi makan yang besar.
- Sering minum kopi dan teh.
- Infeksi bakteri atau parasit.
- Pemakaian obat analgetik dan steroid.
- Usia lanjut.
- Alkoholisme.
- Stres.
- Penyakit lain: refluks empedu, penyakit autoimun, HIV/AIDS, penyakit Crohn.
Gastritis is inflammation of the gastric mucosa and submucosa, a mucosal defence mechanism set off when bacteria or other irritants accumulate there, and it can run acutely or chronically and be either diffuse or confined to one area 1. The patient presents with pain and burning heat in the upper abdomen; its relation to eating is not fixed, since the complaint may ease or worsen after a meal, and it usually comes with nausea, vomiting and bloating 1. Most primary-care cases stop at a clinical diagnosis, and investigations become necessary only once the course is chronic 1. What makes this more than a trivial complaint is where it can go, because a mucosa kept inflamed can bleed, ulcerate, and even perforate 1. GP competency is 4A 3.
Risk factors 1:
- Poor eating habits: late meals, spicy food, large portions.
- Frequent coffee and tea.
- Bacterial or parasitic infection.
- Use of analgesics and steroids.
- Older age.
- Alcoholism.
- Stress.
- Other disease: bile reflux, autoimmune disease, HIV/AIDS, Crohn disease.
MengenaliRecognising it
Anamnesis. Nyeri dan rasa panas seperti terbakar di perut bagian atas adalah keluhan pembukanya. Hubungannya dengan makan perlu ditanyakan secara tegas dan bukan diasumsikan, sebab panduan menyebutkan keluhan itu dapat mereda maupun memberat sesudah makan 1. Mual, muntah dan kembung menyertainya 1.
Riwayat yang perlu digali, karena setiap butirnya menentukan apa yang harus dihentikan 1:
- Waktu makan yang terlambat, makanan pedas, dan porsi makan yang besar.
- Kebiasaan minum kopi dan teh.
- Infeksi bakteri atau parasit.
- Pemakaian analgetik dan steroid.
- Butir ini paling sering terlewat, sebab pasien membeli sendiri obat nyerinya dan tidak menganggapnya sebagai obat.
- Usia lanjut.
- Alkoholisme.
- Stres.
- Penyakit lain: refluks empedu, penyakit autoimun, HIV/AIDS, penyakit Crohn.
History. Pain and burning heat in the upper abdomen is the opening complaint. Its relation to eating must be asked about explicitly rather than assumed, since the guideline states that the complaint may either ease or worsen after a meal 1. Nausea, vomiting and bloating go with it 1.
History worth drawing out, because each item decides what has to stop 1:
- Late meals, spicy food, and large portions.
- Habitual coffee and tea.
- Bacterial or parasitic infection.
- Use of analgesics and steroids.
- This is the item most often missed, because the patient buys the painkiller over the counter and does not think of it as medicine.
- Older age.
- Alcoholism.
- Stress.
- Other disease: bile reflux, autoimmune disease, HIV/AIDS, Crohn disease.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, entri Gastritis. manuver.tireg7.net
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, entri Refluks Gastroesofageal, daftar gejala alarm. peraturan.bpk.go.id
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas, butir 25, 28 dan 36. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Penjelasan Badan POM RI tentang Produk Ranitidin yang Dapat Diedarkan Kembali. 21 November 2019. pom.go.id
- 5.Azer SA, Awosika AO, Akhondi H. Gastritis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan (further reading); bukan sumber isi entri ini dan tidak ada kalimatnya yang dikutip. ncbi.nlm.nih.gov