Gangguan PsikotikPsychotic Disorder

SKDI 2012 menempatkan gangguan psikotik pada tabel PSIKIATRI, kelompok yang judulnya berbunyi Psikosis dengan empat penyakit di dalamnya, butir 7, dengan tingkat kemampuan 3A [2]. Empat butir dalam kelompok itu, seluruhnya 3A [2]: - Butir 5, skizofrenia. - Butir 6, gangguan waham. - Butir 7, gangguan psikotik. - Butir 8, gangguan skizoafektif. Judul kelompoknya menyebut skizofrenia, gangguan waham menetap, psikosis akut, dan skizoafektif [2]. Tiga dari empat nama itu terpakai pada butir 5, 6, dan 8, sehingga nama yang tersisa untuk butir 7 adalah psikosis akut. Itulah penyakit yang dibahas halaman ini: episode psikotik yang baru muncul, yang belum dapat digolongkan, dan yang datang ke puskesmas hari ini. Arti 3A menurut definisi SKDI sendiri [2]: - Dokter menegakkan diagnosis klinis dan memberi terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. - Dokter menentukan rujukan yang paling tepat, lalu menindaklanjuti pasien sesudah kembali dari rujukan. Angka 3A itu masih berlaku, dan hal ini perlu dinyatakan karena mudah keliru. Keputusan Menteri Kesehatan 1936/2022 menambahkan dua entri baru sesudah angka 5 Gangguan Psikotik dalam Huruf I Psikiatri, yaitu Gangguan Depresi Ringan-Sedang dan Gangguan Skizofrenia Tanpa Penyulit, dan entri skizofrenia yang baru itu berkepala 4A [4]. Penambahan bukan perubahan: angka 5 Gangguan Psikotik tidak diubah, sehingga tingkat kemampuannya tetap 3A dan teks 1186/2022 masih yang berlaku [1][4]. Angka 4A pada halaman skizofrenia tidak menular ke halaman ini. Batas antara halaman ini dan halaman skizofrenia adalah waktu. Gambaran psikotik yang memenuhi syarat gejala tetapi berlangsung kurang dari satu bulan, diobati maupun tidak, didiagnosis sebagai gangguan psikotik akut lir skizofrenia, bukan skizofrenia [4]. Halaman ini adalah bulan pertama itu. Halaman gangguan waham memuat bentuk yang wahamnya menetap dan berdiri sendiri, dan halaman skizofrenia memuat bentuk yang sudah melewati satu bulan. Keduanya tidak diulang di sini.SKDI 2012 places psychotic disorder in the PSIKIATRI table, in the group headed Psikosis with four diseases inside it, item 7, at competency level 3A [2]. The four items in that group, all at 3A [2]: - Item 5, schizophrenia. - Item 6, delusional disorder. - Item 7, psychotic disorder. - Item 8, schizoaffective disorder. The group heading names schizophrenia, persistent delusional disorder, acute psychosis and schizoaffective disorder [2]. Three of those four names are taken by items 5, 6 and 8, so the name left for item 7 is acute psychosis. That is the disease this page covers: a psychotic episode that has just begun, that cannot yet be classified, and that walks into the health centre today. What 3A means in SKDI's own definition [2]: - The doctor makes the clinical diagnosis and gives initial treatment in a situation that is not an emergency. - The doctor chooses the most appropriate referral, then follows the patient up after she or he returns from it. That 3A still stands, and this needs saying because it is easy to get wrong. Ministerial Decree 1936/2022 added two new entries after item 5 Gangguan Psikotik in Huruf I Psikiatri, namely mild to moderate depressive disorder and uncomplicated schizophrenia, and that new schizophrenia entry is headed 4A [4]. Adding is not amending: item 5 Gangguan Psikotik was not changed, so its competency level remains 3A and the 1186/2022 text still governs [1][4]. The 4A on the schizophrenia page does not spread to this one. The boundary between this page and the schizophrenia page is time. A psychotic picture that meets the symptom requirement but lasts less than one month, treated or not, is diagnosed as acute schizophrenia-like psychotic disorder rather than schizophrenia [4]. This page is that first month. The delusional disorder page carries the form in which the delusion persists and stands alone, and the schizophrenia page carries the form that has passed one month. Neither is repeated here.

Gangguan psikotik adalah hilangnya kemampuan menilai kenyataan secara berat, yang tampak sebagai halusinasi, waham, pembicaraan dan perilaku yang kacau 1. Yang dilihat dokter layanan primer hampir selalu adalah episodenya, bukan penyakitnya: seseorang yang beberapa hari atau beberapa minggu terakhir berubah, dibawa keluarga, dan belum punya diagnosis.

Karena itu halaman ini bukan halaman skizofrenia. Gambaran psikotik yang berlangsung kurang dari satu bulan digolongkan sebagai gangguan psikotik akut, bukan skizofrenia, dan skizofrenia sendiri tidak dapat ditegakkan bila ada penyakit otak yang nyata atau bila pasien sedang mengalami intoksikasi maupun putus zat 4. Tiga kalimat itu menentukan urutan berpikirnya.

Urutannya: singkirkan penyebab tubuh lebih dulu, singkirkan zat, baru sebut penyakit jiwa. Panduan Indonesia memintanya secara langsung, yaitu menyingkirkan kemungkinan penyakit fisik seperti demam tinggi, kejang, dan trauma kepala, serta penggunaan zat psikoaktif sebagai penyebab timbulnya keluhan 1. Urutan itu bukan kehati-hatian akademis. Psikosis yang sebenarnya adalah ensefalitis, malaria serebral, hipoglikemia, atau delirium karena infeksi berat akan membaik dengan pengobatan penyebabnya dan akan memburuk bila hanya diberi antipsikotik.

Yang menentukan kecepatan bukan beratnya waham, melainkan keselamatan. Panduan menempatkan agitasi yang berbahaya bagi pasien, keluarga, dan masyarakat sebagai keadaan yang membutuhkan rawat inap atau pengamatan ketat di tempat yang aman 1.

Tingkat kemampuan 3A menentukan bentuk halaman ini. Tugas dokter layanan primer adalah mengenali episodenya, menyingkirkan penyebab organik dan zat, menilai risiko, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk untuk konfirmasi diagnosis; sesudah pasien kembali, pengobatannya dilanjutkan di puskesmas 12.

Hukum ikut menentukan jalannya. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa mengatur siapa yang boleh menegakkan diagnosis, bagaimana persetujuan tindakan diberikan ketika pasien tidak cakap memutuskan, apa yang boleh dilakukan ketika perilakunya membahayakan, dan siapa yang bertanggung jawab atas pasien yang tidak memiliki keluarga 3. Pemasungan adalah tindak pidana 3.

A psychotic disorder is a severe loss of the ability to judge reality, appearing as hallucinations, delusions, and disordered speech and behaviour 1. What a primary care doctor almost always sees is the episode rather than the disease: someone who has changed over the last days or weeks, brought in by family, and who has no diagnosis yet.

So this is not the schizophrenia page. A psychotic picture lasting less than one month is classified as acute psychotic disorder rather than schizophrenia, and schizophrenia itself cannot be diagnosed where there is overt brain disease or where the patient is intoxicated or in withdrawal 4. Those three statements set the order of thinking.

The order: exclude a bodily cause first, exclude substances, and only then name a psychiatric illness. The Indonesian guideline asks for this directly, requiring exclusion of physical illness such as high fever, seizures and head injury, and of psychoactive substance use, as the cause of the presentation 1. That order is not academic caution. A psychosis that is really encephalitis, cerebral malaria, hypoglycaemia or delirium from severe infection will improve when its cause is treated and will worsen if only an antipsychotic is given.

What sets the speed is not the severity of the delusion but safety. The guideline places agitation that is dangerous to the patient, the family and the community among the situations requiring admission or close observation in a safe place 1.

Competency level 3A shapes this page. The primary care doctor's job is to recognise the episode, exclude organic and substance causes, assess risk, give initial treatment, then refer for diagnostic confirmation; once the patient returns, treatment continues at the health centre 12.

The law shapes the route as well. Law 18 of 2014 on Mental Health governs who may make the diagnosis, how consent to treatment is given when the patient cannot decide, what may be done when behaviour is dangerous, and who is responsible for a patient with no family 3. Shackling is a criminal offence 3.

MengenaliRecognising it

Pengenalannya terdiri dari tiga langkah yang tidak boleh ditukar urutannya: kenali psikosisnya, singkirkan penyebab tubuh dan zat, lalu nilai risikonya.

Keluhan yang membawa pasien datang, dari entri panduan 1:

  • Sulit berpikir atau sulit berkonsentrasi.
  • Tidak dapat tidur dan tidak mau makan.
  • Gelisah, tidak dapat tenang, ketakutan.
  • Bicara kacau yang tidak dapat dimengerti.
  • Mendengar suara orang yang tidak didengar orang lain.
  • Pikiran aneh yang tidak sesuai kenyataan.
  • Marah tanpa sebab yang jelas, kecurigaan yang berat, perilaku kacau, perilaku kekerasan.
  • Menarik diri dari lingkungan dan tidak merawat diri dengan baik.
    • Hampir semua keluhan ini disampaikan keluarga, bukan pasien. Alo-anamnesis bukan pelengkap di sini, melainkan sumber utamanya.

Recognition has three steps whose order must not be swapped: recognise the psychosis, exclude bodily and substance causes, then assess risk.

The complaints that bring the patient in, from the guideline entry 1:

  • Difficulty thinking or concentrating.
  • Not sleeping and not eating.
  • Restlessness, inability to settle, fearfulness.
  • Incomprehensible, disordered speech.
  • Hearing voices that other people cannot hear.
  • Strange ideas that do not match reality.
  • Anger without clear cause, severe suspiciousness, disordered behaviour, violent behaviour.
  • Withdrawal from surroundings and poor self care.
    • Almost all of these are reported by the family rather than the patient. A collateral history is not an accessory here; it is the main source.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf I Psikiatri, angka 5 Gangguan Psikotik, Tingkat Kemampuan 3A, halaman lampiran -415- sampai -421-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Psikiatri, kelompok Psikosis, butir 7 Gangguan psikotik, Tingkat Kemampuan 3A, beserta butir 5 Skizofrenia, butir 6 Gangguan waham, dan butir 8 Gangguan skizoafektif yang seluruhnya 3A. Definisi tingkat kemampuan 3A dan 3B pada halaman cetak 31. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, Lembaran Negara Tahun 2014 Nomor 185. Pasal 19 sampai Pasal 22 mengenai penegakan diagnosis, sistem rujukan, persetujuan tindakan medis, dan tindakan pada perilaku berbahaya; Pasal 70 mengenai hak; Pasal 80 dan Pasal 81 mengenai tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah; Pasal 86 mengenai ketentuan pidana. peraturan.bpk.go.id
  4. 4.Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Pasal I dipakai sebagai pembanding negatif bagi tingkat kemampuan entri ini, dan Lampiran I Huruf I Psikiatri angka 7 Gangguan Skizofrenia Tanpa Penyulit dipakai untuk batas satu bulan, daftar kondisi medis umum, kriteria rujukan, dan prognosis episode psikotik pertama. diskes.badungkab.go.id
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa, Keputusan Menteri Kesehatan HK.02.02/MENKES/73/2015, disusun Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Bagian delirium dipakai untuk haloperidol pada agitasi, peringatan mengenai obat antikolinergik, dan pernyataan bahwa fiksasi adalah pilihan terakhir. kemkes.go.id
  6. 6.Calabrese J, Al Khalili Y. Psychosis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.