Gangguan keinginan dan gairah seksualSexual desire and arousal disorder

Butir ini ada di tabel PSIKIATRI, bukan di tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih maupun Sistem Reproduksi. SKDI 2012 menempatkan gangguan keinginan dan gairah seksual pada kelompok Kelainan dan Disfungsi Seksual di dalam tabel Psikiatri, butir 45, dengan Tingkat Kemampuan 3A [1]. Dua butir di bawahnya berpasangan dengannya dan sama-sama 3A: butir 46 gangguan orgasmus termasuk ejakulasi dini, dan butir 47 sexual pain disorder termasuk vaginismus dan dispareunia. Butir 44 parafilia hanya tingkat 2. Letak tabel itu menentukan isi halaman ini, dan pembaca perlu mengetahuinya sebelum memakainya. Pada tabel Sistem Reproduksi, SKDI memberi butir 90 gangguan ereksi Tingkat Kemampuan 2, dan daftar masalah pada dokumen yang sama memakai istilah gangguan fungsi ereksi yang organik [1]. Jadi dokumen yang sama memberi angka lebih tinggi pada gangguan hasrat dan gairah daripada pada gangguan ereksi organik. Pembacaan yang masuk akal: yang 3A adalah keluhan seksual yang dinilai sebagai masalah psikoseksual, sedangkan kelainan ereksi yang organik disingkirkan lalu diserahkan. Kedua angka itu tidak berselisih, karena keduanya adalah butir yang berbeda pada tabel yang berbeda. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini [3]. Huruf I Psikiatri pada lampiran itu hanya memuat lima entri, yaitu gangguan somatoform, demensia, insomnia, gangguan campuran anxietas dan depresi, serta gangguan psikotik. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa 2015 juga tidak memuat bab untuk disfungsi seksual; di dalamnya disfungsi seksual muncul sebagai efek samping obat antidepresan [4]. Sumber klinis yang paling dekat karena itu adalah panduan Ikatan Ahli Urologi Indonesia mengenai disfungsi seksual pria [2], dan panduan itu hanya membahas laki-laki sedangkan butir SKDI tidak menyebut jenis kelamin. Kesenjangan itu dinyatakan pada bidang yang dibaca pengguna.This item sits in the PSYCHIATRY table, not in the kidney and urinary tract table and not in the reproductive system table. SKDI 2012 places sexual desire and arousal disorder in the sexual disorders and dysfunctions group of the psychiatry table, item 45, at competency level 3A [1]. Two items below it belong with it and share the grade: item 46, orgasmic disorders including premature ejaculation, and item 47, sexual pain disorder including vaginismus and dyspareunia. Item 44, paraphilia, is only level 2. Where the item sits decides what this page is about, and the reader needs to know that before using it. In the reproductive system table SKDI grades item 90, erectile disorder, at competency level 2, and the problem list in the same document uses the term organic erectile dysfunction [1]. The same document therefore grades desire and arousal disorder higher than organic erectile dysfunction. The sensible reading: what is 3A is a sexual complaint assessed as a psychosexual problem, while an organic erectile disorder is excluded and then handed on. The two numbers are not in conflict, because they are different items in different tables. The primary care clinical practice guideline carries no entry for this condition [3]. Section I on psychiatry in that annex carries five entries only: somatoform disorder, dementia, insomnia, mixed anxiety and depressive disorder, and psychotic disorder. The 2015 national psychiatry guideline likewise has no chapter on sexual dysfunction; there, sexual dysfunction appears as an adverse effect of antidepressants [4]. The nearest clinical source is therefore the Indonesian Urological Association guideline on male sexual dysfunction [2], and that guideline covers men only while the SKDI item names no sex. That gap is stated in the reader facing fields.

Gangguan keinginan dan gairah seksual adalah berkurangnya dorongan seksual, fantasi seksual, atau kemampuan terangsang, sampai pada taraf yang mengganggu pasien atau hubungannya. SKDI menempatkannya di tabel psikiatri dan bukan di tabel urologi 1, dan letak itu bukan urusan administrasi: halaman ini karena itu berisi penilaian psikoseksual dengan penyingkiran sebab organik dan sebab obat, bukan pemeriksaan alat kelamin.

Hasrat seksual sendiri bukan besaran sederhana. Panduan nasional untuk laki-laki menyusunnya dari tiga hal yang bekerja bersama, yaitu proses berpikir seperti fantasi dan bayangan, mekanisme saraf berupa gairah pusat, dan komponen perasaan berupa suasana hati serta keadaan emosional 2. Satu keluhan yang sama karena itu dapat berasal dari tiga tempat yang berbeda.

Yang perlu dipegang di layanan primer:

  • Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A 1. Menilai, menyingkirkan sebab yang dapat dikoreksi, dan memulai penjelasan ada di sini; terapi hormonal, pencitraan hipofisis, dan psikoterapi seksual terstruktur tidak.
  • Kriteria waktunya jelas: keluhan disebut hasrat seksual rendah bila kurangnya minat terhadap seks bermakna selama satu bulan terakhir, dan kriteria frekuensinya berupa gejala yang hadir pada 75% atau lebih hubungan seksual 2.
  • Panduan membagi hasrat seksual rendah menjadi tiga bentuk: seumur hidup dan menyeluruh, didapat dan menyeluruh, serta didapat tetapi hanya pada keadaan tertentu 2. Bentuk yang didapat dan situasional adalah bentuk yang paling lazim pada laki-laki menurut pendapat para ahli.
  • Yang membedakan ketiganya adalah dua pertanyaan: apakah dulu pernah ada, dan apakah hilang pada semua keadaan atau hanya dengan pasangan saat ini. Dua pertanyaan itu mengubah arah seluruh penilaian.
  • Pendekatan yang dianjurkan memusatkan perhatian pada perbedaan hasrat antara kedua pihak dalam pasangan, bukan pada pihak yang hasratnya lebih rendah, karena cara itu mengurangi stigma dan membuka jalan pengelolaannya 2.

Faktor risiko yang perlu ditanyakan 2:

  • Usia lanjut, terutama rentang 60 sampai 69 tahun dan 70 sampai 80 tahun.
  • Kesehatan yang buruk dan penyakit pembuluh darah.
  • Merokok.
  • Keyakinan bahwa usia menurunkan kemampuan seksual.
  • Perceraian dalam 3 tahun terakhir, dan masalah keuangan dalam 3 tahun terakhir.
  • Depresi berat, dan kekhawatiran akan masa depan hubungan berpasangan.
  • Frekuensi hubungan seksual kurang dari satu kali seminggu.
  • Ejakulasi prematur, disfungsi ereksi, dan gejala saluran kemih bagian bawah, yang ketiganya berhubungan dengan hasrat seksual rendah.

Sexual desire and arousal disorder is a reduction in sexual drive, sexual fantasy, or the capacity to become aroused, to a degree that distresses the patient or the relationship. SKDI places it in the psychiatry table rather than the urology table 1, and that placement is not an administrative detail: this page is therefore about psychosexual assessment with organic and drug causes excluded, not about examining the genitals.

Sexual desire is not a simple quantity. The national guideline for men builds it from three things working together: internal cognitive processes such as fantasy and imagination, a neurophysiological mechanism of central arousal, and an affective component of mood and emotional state 2. One identical complaint can therefore come from three different places.

What to hold on to in primary care:

  • Primary care competency is 3A 1. Assessing, excluding correctable causes and starting the explanation belong here; hormonal treatment, pituitary imaging and structured sex therapy do not.
  • The time criterion is explicit: the complaint counts as low sexual desire where the loss of interest in sex has been significant over the past month, and the frequency criterion is symptoms present in 75% or more of sexual encounters 2.
  • The guideline divides low sexual desire into three forms: lifelong and generalised, acquired and generalised, and acquired but only in particular situations 2. The acquired situational form is, in expert opinion, the commonest subtype in men.
  • What separates the three are two questions: was it ever there, and is it absent in every situation or only with the current partner. Those two questions redirect the whole assessment.
  • The recommended approach focuses on the difference in desire between the two people in the couple rather than on the one whose desire is lower, because that reduces stigma and opens a way to manage it 2.

Risk factors to ask about 2:

  • Older age, above all the ranges 60 to 69 and 70 to 80 years.
  • Poor health and vascular disease.
  • Smoking.
  • Believing that age reduces sexual capability.
  • Divorce in the past 3 years, and financial difficulty in the past 3 years.
  • Major depression, and worry about the future of the relationship.
  • Sexual activity less than once a week.
  • Premature ejaculation, erectile dysfunction and lower urinary tract symptoms, all three of which are associated with low sexual desire.

MengenaliRecognising it

Pengenalan pada penyakit ini hampir seluruhnya berupa anamnesis, dan yang paling sering menghambatnya bukan kesulitan klinis melainkan keengganan bertanya. Keluhan ini jarang disampaikan lebih dulu oleh pasien, sehingga sering ditemukan hanya ketika dokter menanyakannya dalam kalimat yang biasa dan tidak menghakimi.

Riwayat medis dan seksual yang menyeluruh sebaiknya dilakukan pada pasien dengan keluhan hasrat seksual rendah, dan penilaian depresi serta masalah dengan pasangan sebaiknya ditanyakan 2.

Recognition here is almost entirely history taking, and what usually obstructs it is not clinical difficulty but reluctance to ask. Patients rarely raise this complaint first, so it is often found only when the doctor asks about it in ordinary, non judgemental language.

A thorough medical and sexual history should be taken in a patient complaining of low sexual desire, and depression and partner problems should be asked about 2.

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit. Tabel Psikiatri, kelompok Kelainan dan Disfungsi Seksual, butir 45 Gangguan keinginan dan gairah seksual, Tingkat Kemampuan 3A, halaman cetak 36. Tabel Sistem Reproduksi, kelompok Masalah Reproduksi Pria, butir 90 Gangguan ereksi, Tingkat Kemampuan 2, halaman cetak 50, dikutip sebagai pembanding untuk menunjukkan bahwa kelainan ereksi yang organik adalah butir lain dengan angka yang lebih rendah. pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Panduan Tata Laksana Disfungsi Seksual Pria, 2023. BAB IV Gangguan Keinginan Seksual yang Rendah dan Hasrat Seksual Hipoaktif pada Pria, halaman 147 sampai 153, termasuk Tabel 42 penyebab hasrat seksual rendah pada pria dan Tabel 43 rekomendasi terapi. Dokumen ini membahas laki-laki saja. iaui.or.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Bab II Huruf I Psikiatri, dicari seluruhnya dan hanya memuat lima entri, yaitu gangguan somatoform, demensia, insomnia, gangguan campuran anxietas dan depresi, serta gangguan psikotik. Dikutip sebagai dasar pernyataan bahwa pedoman layanan primer tidak memuat entri untuk kondisi ini. manuver.tireg7.net
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa, Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.02.02/MENKES/73/2015. Dicari seluruhnya dan tidak memuat bab mengenai disfungsi seksual; Tabel 3 Jenis Obat Antidepresan, Dosis dan Efek Samping mencantumkan disfungsi seksual di antara efek samping golongan penghambat ambilan kembali serotonin selektif. kemkes.go.id
  5. 5.Female Sexual Interest and Arousal Disorder. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini; dicantumkan karena sisi perempuan adalah kekosongan terbesar pada sumber nasional yang dijangkau. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.