Gagal jantung kronikChronic heart failure
SKDI 2012 memisahkan dua penyakit yang sering disebut dengan satu nama. Pada tabel SISTEM KARDIOVASKULAR halaman 42, butir 6 Gagal jantung akut bertingkat kemampuan 3B dan butir 7 Gagal jantung kronik bertingkat kemampuan 3A. Rekaman ini membawa butir 7, yaitu penyakit jangka panjangnya. Bedanya bukan administratif. Pada 3A dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memulai pengobatan awal, dan merujuk; pengobatan awal di sini benar-benar dimulai dan dititrasi di FKTP selama berbulan-bulan, dan itulah sebabnya halaman ini memuat obat sedangkan halaman akutnya tidak. Pada 3B dokter mengenali, menstabilkan, lalu merujuk segera; jendela waktunya jam, bukan minggu. Pasien yang sama dapat berpindah di antara keduanya. Pasien kronik yang memburuk dengan cepat berhenti menjadi masalah titrasi dan menjadi masalah oksigen, diuretik injeksi, dan rujukan segera; sejak saat itu jalurnya adalah entri gagal-jantung-akut. Sebaliknya, pasien yang sudah stabil sesudah dirawat kembali ke jalur halaman ini lewat tatalaksana rujuk balik. Entri PPK FKTP memuat kedua bentuk sekaligus dan mencantumkan kedua tingkat kemampuan itu berdampingan pada headernya, sehingga isinya harus dipilah menurut bentuk penyakitnya, bukan disalin utuh ke salah satu halaman.SKDI 2012 separates two diseases that are usually called by one name. In the cardiovascular table on page 42, item 6 acute heart failure is graded 3B and item 7 chronic heart failure is graded 3A. This record carries item 7, the long term disease. The difference is not administrative. At 3A the primary care doctor makes the diagnosis, starts initial treatment and refers; initial treatment here really is started and titrated at the puskesmas over months, which is why this page carries drugs and the acute page does not. At 3B the doctor recognises, stabilises and refers at once; that window is hours, not weeks. The same patient moves between the two. A chronic patient who deteriorates quickly stops being a titration problem and becomes an oxygen, injectable diuretic and immediate referral problem; from that moment the pathway is the gagal-jantung-akut entry. In the other direction, a patient who has been stabilised in hospital returns to this page through shared care on discharge. The PPK FKTP entry covers both forms at once and carries both competency grades side by side in its header, so its content has to be sorted by form of disease rather than copied whole onto either page.
Gagal jantung kronik adalah sindrom yang menetap, bukan satu serangan. Jantung tidak lagi sanggup memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh pada tekanan pengisian yang normal, dan keadaan itu berjalan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun sebagai periode stabil yang diselingi perburukan. Bebannya terletak pada kualitas hidup yang menurun, rawat inap berulang karena kekambuhan yang tinggi, dan angka kematian yang meningkat 1.
Prevalensinya naik seiring umur, berkisar 0,7% pada usia 40 sampai 45 tahun, 1,3% pada usia 55 sampai 64 tahun, dan 8,4% pada usia 75 tahun ke atas. Pada usia 40 tahun, risiko mengalami gagal jantung sekitar 21% untuk laki-laki dan 20,3% untuk perempuan. Lebih dari 40% pasien gagal jantung memiliki fraksi ejeksi di atas 50%, angka yang penting justru karena ia berlawanan dengan dugaan umum: fungsi pompa yang tampak normal tidak menyingkirkan diagnosis 1.
Tingkat kompetensinya 3A. Dokter layanan primer menegakkan diagnosis klinis tanpa ekokardiografi, memulai dan menitrasi obat yang tercantum dalam entri PPK, mengajari pasien mengenali perburukannya sendiri, lalu merujuk. Penilaian fraksi ejeksi dan penambahan kelas obat di luar daftar entri itu ada di pusat rujukan. Pasien yang memburuk dengan cepat berpindah ke jalur gagal jantung akut yang bertingkat 3B; lihat entri gagal-jantung-akut 12.
Faktor risiko:
Chronic heart failure is a persistent syndrome, not a single attack. The heart can no longer meet the circulatory needs of the body at normal filling pressures, and that state runs for months to years as stable periods punctuated by deterioration. Its burden lies in reduced quality of life, repeated admission from a high rate of relapse, and increased mortality 1.
Prevalence rises with age, running at about 0.7% between 40 and 45, 1.3% between 55 and 64, and 8.4% from 75 upwards. At the age of 40 the risk of developing heart failure is around 21% for men and 20.3% for women. More than 40% of patients with heart failure have an ejection fraction above 50%, a figure that matters precisely because it cuts against the usual assumption: pump function that looks normal does not exclude the diagnosis 1.
The competency grade is 3A. The primary care doctor makes the clinical diagnosis without echocardiography, starts and titrates the drugs the PPK entry names, teaches the patient to recognise their own deterioration, then refers. Measuring ejection fraction and adding drug classes beyond that list belong to the referral centre. A patient who deteriorates quickly moves onto the acute heart failure pathway graded 3B; see the gagal-jantung-akut entry 12.
Risk factors:
MengenaliRecognising it
Diagnosis di FKTP ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, EKG, dan rontgen toraks. Ekokardiografi tidak tersedia di layanan primer, sehingga diagnosis di sini adalah diagnosis klinis dan bukan diagnosis fungsional 1.
Anamnesis 1:
- Sesak saat beraktivitas, dan yang lebih berguna lagi, berkurangnya jarak atau beban yang masih sanggup ditempuh dibandingkan beberapa bulan lalu.
- Gangguan napas yang berubah menurut posisi, sehingga pasien tidak dapat berbaring datar.
- Sesak napas yang membangunkan pasien pada malam hari.
- Lemas, mual, dan muntah. Pada orang tua dapat disertai gangguan mental, dan pada kelompok ini keluhan sesaknya sering justru tidak menonjol.
At a puskesmas the diagnosis rests on history, examination, ECG and chest radiograph. Echocardiography is not available in primary care, so the diagnosis made here is a clinical one and not a functional one 1.
History 1:
- Breathlessness on exertion, and more useful still, the fall in the distance or workload the patient can still manage compared with a few months ago.
- Breathing that changes with position, so the patient cannot lie flat.
- Breathlessness that wakes the patient at night.
- Weakness, nausea and vomiting. In older people there may be mental disturbance, and in this group breathlessness is often the complaint that stands out least.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri Gagal Jantung Akut Dan Kronik sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf F Kardiovaskular, angka 4, halaman lampiran 117 sampai 122. diskes.badungkab.go.id
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Kardiovaskular, butir 7 Gagal jantung kronik dengan Tingkat Kemampuan 3A dan butir 6 Gagal jantung akut dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 42. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Heart Failure (Congestive Heart Failure). StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov