Fraktur TertutupClosed Fracture
SKDI 2012 tidak memisahkan fraktur tertutup dari fraktur terbuka. Keduanya berada pada satu butir, yaitu butir 2 tabel Sistem Muskuloskeletal, Fraktur terbuka, tertutup, dengan Tingkat Kemampuan 3B [3]. Tingkat pada halaman ini dan tingkat pada halaman Fraktur Terbuka karena itu berasal dari baris yang sama, dan keduanya berarti: didiagnosis, diberi penanganan gawat darurat, lalu dirujuk. SPARK memuat keduanya sebagai dua halaman karena PPK FKTP memuatnya sebagai dua entri dengan penanganan yang berbeda [1]. Halaman ini membawa penilaian look-feel-move, foto polos dua proyeksi, teknik pembidaian, dan sindrom kompartemen, karena keempatnya berlaku untuk kedua bentuk. Kontaminasi, antibiotik, dan pencegahan tetanus tidak ada di sini dan diuraikan pada halaman Fraktur Terbuka. Daftar Keterampilan Klinis SKDI memberi batas yang lebih tajam daripada tingkat penyakitnya, dan batas itulah yang menentukan apa yang boleh dikerjakan sendiri [3]: - Stabilisasi fraktur tanpa gips 4A, artinya membidai dikerjakan sendiri sampai tuntas. - Melakukan dressing berupa sling dan bandage 4A. - Reposisi fraktur tertutup hanya tingkat 3, artinya pernah dikerjakan di bawah supervisi dan bukan kewenangan mandiri. - Reduksi dislokasi juga tingkat 3. Jadi pada penyakit bertingkat 3B ini, tindakan yang paling menggoda untuk dikerjakan sendiri, yaitu meluruskan tulang yang bengkok, justru bukan kewenangan layanan primer. Yang menjadi kewenangan penuh adalah membidainya apa adanya lalu merujuk.SKDI 2012 does not separate closed fracture from open fracture. Both sit in one item, item 2 of the musculoskeletal table, Fraktur terbuka, tertutup, at competency level 3B [3]. The level on this page and the level on the Fraktur Terbuka page therefore come from the same line, and both mean: diagnose, give emergency treatment, then refer. SPARK carries them as two pages because PPK FKTP carries them as two entries with different handling [1]. This page carries the look, feel and move assessment, the two view plain film, splinting technique and compartment syndrome, because all four apply to both forms. Contamination, antibiotics and tetanus prevention are not here and are set out on the Fraktur Terbuka page. The SKDI clinical skills list draws a sharper line than the disease level does, and that line decides what may be done unsupervised [3]: - Fracture stabilisation without a cast, 4A, meaning splinting is done independently and to completion. - Dressing as a sling and bandage, 4A. - Closed fracture reduction, only level 3, meaning performed under supervision and not an independent authority. - Dislocation reduction, also level 3. So in this 3B disease, the most tempting thing to do unsupervised, straightening the deformed bone, is not a primary care authority. What is fully authorised is splinting it as it lies and referring.
Fraktur tertutup adalah patah tulang yang tidak berhubungan dengan lingkungan luar, karena kulit di atasnya utuh 1. Kulit yang utuh menghilangkan masalah kontaminasi, tetapi tidak menghilangkan masalah yang lain: tulang yang patah tetap berdarah ke dalam, tetap dapat mengiris pembuluh darah dan saraf di sekitarnya, dan tetap dapat menaikkan tekanan di dalam kompartemen otot sampai jaringan di dalamnya mati.
Penanganannya di FKTP pendek dan tidak boleh dilebihkan: semua fraktur dikelola secara gawat darurat dengan metode ATLS, distabilkan dengan bidai sambil mewaspadai sindrom kompartemen, lalu segera dirujuk ke layanan sekunder 1.
SKDI menilai fraktur terbuka dan tertutup sebagai satu butir bertingkat 3B: didiagnosis, ditangani secara gawat darurat, lalu dirujuk 3. Yang perlu diingat adalah batas keterampilannya. Membidai dinilai 4A, sedangkan mereposisi fraktur tertutup hanya dinilai 3 3. Godaan untuk meluruskan tulang yang bengkok sebelum merujuk adalah godaan yang perlu ditolak.
SPARK sudah memuat halaman Fraktur Terbuka dari butir SKDI yang sama; antibiotik, irigasi luka, dan pencegahan tetanus diuraikan di sana dan tidak diulang di sini. SPARK juga memuat Kekerasan Tumpul untuk sisi kedokteran forensik cedera tumpul.
Faktor risiko dan siapa yang perlu dipikirkan 1:
- Osteoporosis, satu-satunya faktor risiko yang dinamai entri sumber. Patah tulang dapat terjadi pada trauma yang ringan.
- Korban jatuh, kecelakaan lalu lintas, dan kecelakaan kerja.
- Pasien lanjut usia yang jatuh di rumah dan tidak dapat menumpu berat badan setelahnya.
- Anak dengan riwayat jatuh dan anggota gerak yang tidak mau digerakkan.
- Pasien multitrauma, karena patah tulang mudah terlewat saat perhatian tertuju ke tempat lain.
A closed fracture is a broken bone with no communication with the outside environment, because the skin over it is intact 1. Intact skin removes the contamination problem but not the others: the broken bone still bleeds inwards, can still cut the vessels and nerves beside it, and can still raise the pressure inside a muscle compartment until the tissue within dies.
Primary care handling is short and must not be stretched: every fracture is managed as an emergency on ATLS lines, stabilised with a splint while watching for compartment syndrome, then referred at once to secondary care 1.
SKDI grades open and closed fracture as a single item at 3B: diagnose, treat as an emergency, then refer 3. What has to be remembered is the skills boundary. Splinting is graded 4A, while closed fracture reduction is graded only 3 3. The urge to straighten the deformed bone before referring is an urge to resist.
SPARK already carries a Fraktur Terbuka page from the same SKDI item; antibiotics, wound irrigation and tetanus prevention are set out there and are not repeated here. SPARK also carries Kekerasan Tumpul for the forensic side of blunt injury.
Risk factor and who to think about 1:
- Osteoporosis, the only risk factor the source entry names. A fracture can follow trivial trauma.
- Casualties of falls, road traffic accidents and work accidents.
- The older patient who falls at home and cannot bear weight afterwards.
- A child with a history of a fall who will not move a limb.
- The multiply injured patient, because a fracture is easy to miss while attention is elsewhere.
MengenaliRecognising it
Diagnosisnya klinis, ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan foto polos 1. Yang perlu dijawab di FKTP adalah apakah ini benar patah tulang, apakah kulitnya benar utuh, dan apakah ada ancaman pada pembuluh darah, saraf, atau kompartemen di sekitarnya.
Satu kaidah dari panduan keterampilan pada keputusan menteri yang sama pantas berdiri di depan semuanya: kadang tidak mudah membedakan kontusio, keseleo, dan fraktur dari anamnesis dan pemeriksaan fisik saja, dan bila masih ragu, tangani sebagai fraktur 4.
The diagnosis is clinical, made from the history, the examination and a plain film 1. What primary care has to answer is whether this really is a fracture, whether the skin really is intact, and whether the vessels, nerves or muscle compartments beside it are threatened.
One rule from the clinical skills annex of the same ministerial decision deserves to stand in front of everything else: contusion, sprain and fracture are not always easy to tell apart from the history and examination alone, and where doubt remains, treat it as a fracture 4.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf G Muskuloskeletal angka 2 Fraktur Tertutup, halaman lampiran -297- sampai -299-. manuver.tireg7.net
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Trauma. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/132/2017, bagian skema alur dan rujukan pengelolaan pasien trauma halaman -10- sampai -11-, penilaian awal dan resusitasi halaman -39- sampai -41-, dan Huruf O Fraktur Tulang Panjang halaman -128- sampai -131-. kemkes.go.id
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Muskuloskeletal, butir 2 Fraktur terbuka, tertutup dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 53. Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Muskuloskeletal, butir 26 Reposisi fraktur tertutup tingkat 3, butir 27 Stabilisasi fraktur (tanpa gips) 4A, butir 28 Reduksi dislokasi tingkat 3, butir 29 Melakukan dressing (sling, bandage) 4A. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, angka 4 Penilaian dan Stabilisasi Fraktur (Tanpa Gips), Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -1125- sampai -1127-. manuver.tireg7.net
- 5.Torlincasi AM, Lopez RA, Waseem M. Acute Compartment Syndrome. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov