Flu BurungAvian Influenza

SKDI 2012 menilai flu burung 3B [3]. Butir itu berdiri pada tabel Sistem Respirasi, di antara SARS yang juga 3B dan kelompok laring serta faring, dan hanya muncul sekali pada seluruh Daftar Penyakit. Dua tetangganya menjelaskan letak batasnya. Influenza pada daftar yang sama bernilai 4A, dan pneumonia serta bronkopneumonia juga 4A [3]. Jadi pasien dengan gejala mirip flu boleh dituntaskan di layanan primer, kecuali bila ada riwayat pajanan unggas, dan riwayat itulah yang memindahkannya ke jalur 3B. Pada tingkat ini pekerjaannya adalah mengenali kasus suspek, memberi oseltamivir sedini mungkin, mengambil spesimen, melaporkan dalam 24 jam, lalu merujuk [1].SKDI 2012 grades avian influenza 3B [3]. The item sits in the Respiratory System table between SARS, also 3B, and the larynx and pharynx group, and it appears only once in the whole Disease List. Two of its neighbours explain where the boundary lies. Influenza on the same list is 4A, and pneumonia and bronchopneumonia are 4A as well [3]. So a patient with flu like symptoms may be treated to completion in primary care, unless there is a history of poultry exposure, and it is that history which moves them onto the 3B track. At this level the job is to recognise a suspect case, give oseltamivir as early as possible, take specimens, notify within 24 hours, then refer [1].

Flu burung pada manusia adalah infeksi virus influenza A subtipe H5N1 yang berpindah dari unggas ke orang 1. Gambaran awalnya menyerupai flu biasa, dan itulah masalahnya: yang membedakannya bukan gejalanya melainkan riwayat pajanan 1.

Masa inkubasinya rata-rata 3 hari, dengan rentang 1 sampai 7 hari 1. Masa infeksius pada manusia berlangsung sejak 1 hari sebelum gejala sampai 3 hingga 5 hari sesudahnya, dan pada anak dapat sampai 21 hari 1.

Angkanya menjelaskan mengapa kewaspadaannya tinggi. Sejak kasus manusia pertama dilaporkan pada 2005 sampai catatan Februari 2020, Indonesia mencatat 200 kasus terkonfirmasi dengan 168 kematian, yaitu angka kematian kasus 84 persen 1. Jumlahnya menurun tajam, dari 162 kasus sepanjang 2003 sampai 2009 menjadi 1 kasus terkonfirmasi pada 2017, dan sampai penyusunan pedoman ini belum ada penularan antar manusia yang efisien dan berkelanjutan, baik secara epidemiologis maupun virologis 1. Virus H5N1 pada unggas sendiri masih bersirkulasi sejak wabahnya mulai pada Oktober 2003 1.

Kelompok yang berisiko tinggi 1:

  • Kontak erat dalam jarak sekitar 1 meter dengan pasien suspek, probabel, atau konfirmasi, misalnya merawat, berbicara, atau bersentuhan.
  • Kontak langsung dengan ternak unggas, bangkai unggas, atau burung peliharaan, misalnya memegang, menyembelih, mencabuti bulu, memotong, atau mempersiapkannya untuk konsumsi.
  • Kontak tidak langsung berupa berada di lingkungan yang tercemar sekret atau kotoran unggas, seperti pasar, peternakan, tempat pemotongan unggas, atau pengepul unggas, di wilayah terjangkit dalam satu bulan terakhir. Unggas air seperti bebek, itik, entok, dan angsa berperan sebagai pembawa virus.
  • Mengonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak sempurna dari wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau manusia terinfeksi dalam satu bulan terakhir.
  • Kontak erat dengan binatang lain di luar unggas, misalnya kucing atau babi, yang sudah dikonfirmasi terinfeksi.
  • Memegang atau menangani sampel hewan maupun manusia yang dicurigai mengandung virus, di laboratorium atau di tempat lain.

Penyakit ini tidak punya entri sendiri pada PPK FKTP, sehingga entri Atlas ini bersandar pada pedoman penanggulangan nasional 12.

Avian influenza in humans is infection with influenza A virus subtype H5N1 crossing from poultry to people 1. Its early picture resembles ordinary flu, and that is the problem: what separates it is not the symptoms but the exposure history 1.

The incubation period averages 3 days, with a range of 1 to 7 days 1. The infectious period in humans runs from 1 day before symptoms to 3 to 5 days after, and in children it can last up to 21 days 1.

The figures explain why the alert level is high. From the first human case reported in 2005 to the February 2020 count, Indonesia recorded 200 confirmed cases with 168 deaths, a case fatality of 84 percent 1. The number fell sharply, from 162 cases across 2003 to 2009 down to 1 confirmed case in 2017, and up to the writing of this guideline there was no efficient sustained human to human transmission, either epidemiologically or virologically 1. H5N1 itself still circulates in poultry, where the outbreak began in October 2003 1.

The high risk groups 1:

  • Close contact within about 1 metre of a suspect, probable, or confirmed patient, for example nursing, talking to, or touching them.
  • Direct contact with poultry, poultry carcasses, or pet birds, for example handling, slaughtering, plucking, butchering, or preparing them for eating.
  • Indirect contact, that is being in an environment contaminated by poultry secretions or droppings, such as a market, a farm, a slaughter point, or a poultry collection point, in an affected area within the past month. Waterfowl such as ducks and geese act as carriers of the virus.
  • Eating raw or undercooked poultry products from an area where an infected animal or person is suspected or confirmed within the past month.
  • Close contact with an animal other than poultry, for example a cat or a pig, confirmed to be infected.
  • Handling animal or human samples suspected of containing the virus, in a laboratory or anywhere else.

This disease has no entry of its own in the PPK FKTP, so this Atlas entry rests on the national control guideline 12.

MengenaliRecognising it

Gejala klinis. Gambarannya pada umumnya menyerupai flu biasa 1:

  • Yang paling sering: demam 38 derajat Celsius atau lebih, batuk, dan nyeri tenggorok.
  • Gejala lain: pilek, sakit kepala, nyeri otot, infeksi selaput mata, diare, dan gangguan saluran cerna lain.
  • Sesak napas menandai kelainan saluran napas bawah, dan bagian inilah yang dapat memburuk dengan cepat.

Riwayat pajanan, yang harus ditanyakan pada setiap pasien dengan gejala mirip flu, dan yang dihitung adalah 7 hari sebelum gejala mulai 1:

Clinical features. The picture generally resembles ordinary flu 1:

  • The commonest: fever of 38 degrees Celsius or more, cough, and sore throat.
  • Other features: coryza, headache, muscle pain, conjunctival infection, diarrhoea, and other gastrointestinal upset.
  • Breathlessness marks lower airway involvement, and that is the part that can deteriorate quickly.

The exposure history, which has to be asked of every patient with flu like symptoms, and what counts is the 7 days before symptoms began 1:

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Penanggulangan Flu Burung. Jakarta; 2023. ISBN 978-623-301-419-9. Bab Definisi Kasus, Masa Inkubasi dan Masa Infeksius, Faktor Risiko, Gejala Klinis, Pemberian Oseltamivir, serta Penanganan Kasus di FKTP dan FKTL. repository.kemkes.go.id
  2. 2.Ovsyannikova IG, Poland GA, Kennedy RB, et al. Avian Influenza. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Respirasi, butir 5 Flu burung tingkat 3B; butir 1 Influenza dan butir 25 Pneumonia, bronkopneumonia keduanya tingkat 4A; butir 3 ARDS dan butir 4 SARS keduanya tingkat 3B. pd.fk.ub.ac.id

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.