Filariasis (Penyakit Kaki Gajah)Lymphatic Filariasis

SKDI 2012 memberi Filariasis tingkat 4A tanpa syarat tambahan, dan menempatkannya pada Sistem Integumen, subkelompok Gigitan Serangga dan Infestasi Parasit, bukan pada kelompok kecacingan usus [2]. PPK FKTP mempersempitnya lewat dua pintu, yaitu kebutuhan tindakan operatif dan gejala yang tidak membaik dengan pengobatan konservatif [1]. Pengobatan antifilaria, perawatan kulit, dan pencegahan penularan adalah pekerjaan layanan primer; hidrokel yang perlu dioperasi bukan.SKDI 2012 grades filariasis at level 4A with no qualifier attached, and files it under the integumentary system, in the insect bites and parasitic infestation subgroup, rather than with the intestinal helminth infections [2]. The PPK FKTP narrows that through two doors, the need for surgery and symptoms that do not improve on conservative treatment [1]. Antifilarial treatment, skin care, and preventing transmission are primary care work; a hydrocele that needs an operation is not.

Filariasis, yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kaki gajah, adalah penyakit menular oleh cacing filaria yang ditularkan berbagai jenis nyamuk 1. Penyakit ini menahun, dan bila tidak diobati dapat meninggalkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin, baik pada perempuan maupun laki-laki 1.

Tiga spesies menjadi penyebabnya di Indonesia, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori 1. Penularnya bukan satu jenis nyamuk: sampai saat ini 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes, dan Armigeres diketahui dapat berperan sebagai vektor di Indonesia 1. Luasnya daftar vektor itu menerangkan mengapa pengendalian nyamuk pada penyakit ini tidak dapat menyasar satu perilaku nyamuk saja.

Yang menentukan beban penyakitnya adalah jarak waktu. Infeksi umumnya didapat sejak masa kanak dan merusak sistem limfe tanpa terlihat, sedangkan limfedema dan elefantiasis baru muncul bertahun-tahun kemudian 4. Pada perjalanan yang dicantumkan pedoman, gejala menahun timbul 10 sampai 15 tahun sesudah serangan akut pertama 1. Karena itu pasien yang datang dengan kaki membesar sedang menampilkan infeksi lama, dan pasien yang datang dengan demam berulang serta kelenjar getah bening bengkak sedang menampilkan kesempatan untuk mencegahnya.

Indonesia menjalankan eliminasi penyakit ini secara bertahap sejak 2002, dimulai di 5 kabupaten dan diperluas setiap tahun, lewat pengobatan massal di daerah endemis ditambah perawatan kasus akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan 1. Penanggulangannya diatur secara nasional lewat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis 3.

Filariasis, known in Indonesia as penyakit kaki gajah or elephant leg disease, is a communicable disease caused by filarial worms transmitted by several kinds of mosquito 1. It runs for years, and untreated it can leave permanent disability as enlargement of the legs, the arms, and the genitals, in women and in men alike 1.

Three species cause it in Indonesia: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, and Brugia timori 1. The vector is not one mosquito: 23 mosquito species from the genera Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes, and Armigeres are so far known to act as vectors in Indonesia 1. The breadth of that list explains why mosquito control for this disease cannot be aimed at a single mosquito habit.

What sets the burden of disease is the delay. Infection is usually acquired in childhood and damages the lymphatic system invisibly, while lymphoedema and elephantiasis appear only years later 4. On the course the guideline sets out, chronic symptoms appear 10 to 15 years after the first acute attack 1. So a patient arriving with an enlarged leg is showing an old infection, and a patient arriving with recurrent fever and swollen lymph nodes is showing the chance to prevent one.

Indonesia has run elimination in stages since 2002, starting in 5 districts and widening each year, through mass treatment in endemic areas together with care of acute and chronic cases to prevent disability 1. Control is governed nationally by Minister of Health Regulation Number 94 of 2014 on filariasis control 3.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Gejala filariasis bancrofti berbeda antara satu daerah endemik dan daerah endemik lainnya, dan perbedaan itu diperkirakan berasal dari perbedaan intensitas paparan terhadap vektor infektif 1. Yang tetap sama adalah pola dua tahapnya: serangan akut yang berulang, lalu kecacatan menahun bertahun-tahun kemudian.

Manifestasi akut 1:

  • Demam berulang selama 3 sampai 5 hari, yang mereda dengan istirahat dan timbul lagi sesudah bekerja berat.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di lipat paha atau ketiak, tanpa didahului luka, tampak kemerahan, panas, dan nyeri.
  • Radang saluran getah bening yang terasa panas dan nyeri, menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung. Arah menjalar dari pangkal ke ujung inilah yang khas dan membedakannya dari limfangitis bakterial biasa.
  • Abses filaria akibat pembengkakan kelenjar yang berulang, yang dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.
  • Pembesaran awal tungkai, lengan, buah dada, atau kantong zakar yang agak kemerahan dan terasa panas.

History. The symptoms of bancroftian filariasis differ from one endemic area to another, and that difference is thought to come from differences in exposure to the infective vector 1. What stays constant is the two-stage pattern: repeated acute attacks, then chronic disability years afterwards.

Acute manifestations 1:

  • Recurrent fever lasting 3 to 5 days, settling with rest and returning after heavy work.
  • Lymph node swelling in the groin or the axilla, with no preceding wound, red, hot, and painful.
  • Inflammation of the lymphatic channels, hot and painful, spreading from the root of the leg or arm towards the tip. That proximal to distal direction is the characteristic feature and separates it from ordinary bacterial lymphangitis.
  • Filarial abscess from repeated node swelling, which can rupture and discharge pus and blood.
  • Early enlargement of a leg, an arm, a breast, or the scrotum, slightly red and hot to touch.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf A Kelompok Umum butir 7. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, nomor 29. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis. Dipakai hanya sebagai penunjuk dasar hukum program nasional; badan aturannya tidak terambil, sehingga tidak ada klaim klinis entri ini yang bersandar padanya. peraturan.go.id
  4. 4.World Health Organization. Lymphatic filariasis. Fact sheet. who.int
  5. 5.Goldin J, Juergens AL. Filariasis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.