Exanthematous drug eruption dan fixed drug eruptionExanthematous drug eruption and fixed drug eruption

Dua penyakit ini adalah reaksi kulit terhadap obat yang diberikan secara sistemik, dan SKDI menempatkan keduanya dalam satu butir kompetensi 3. Keduanya dipisahkan oleh sebaran lesinya, bukan oleh beratnya 1.

Exanthematous drug eruption adalah bentuk reaksi alergi ringan pada kulit akibat obat sistemik, dan panduan menggolongkannya sebagai reaksi hipersensitivitas tipe IV menurut Coombs dan Gell; nama lainnya erupsi makulopapular atau morbiliformis 1. Kelainannya muncul 10 sampai 14 hari setelah pengobatan dimulai, biasanya di tungkai, lipat paha, dan lipat ketiak, lalu meluas dalam 1 sampai 2 hari 1.

Fixed drug eruption adalah erupsi obat yang berulang di tempat yang sama setiap kali obatnya terpapar kembali, dan tempat itu biasanya sekitar mulut, bibir, atau alat kelamin 1. Justru sifat berulang di tempat yang sama itulah yang menamai penyakitnya 1.

Yang menentukan pada keduanya adalah satu tindakan yang sama, yaitu menghentikan obat terduga, karena erupsi obat pada dasarnya menyembuh bila penyebabnya dikenali dan segera disingkirkan 1. Yang wajib disingkirkan lebih dulu adalah lesi luas yang hampir mengenai seluruh tubuh termasuk mukosa, karena keadaan itulah yang dikhawatirkan berkembang menjadi sindrom Stevens Johnson dan menjadi alasan rujukan 1. Tingkat kemampuan 4A 3.

Faktor risiko, sama untuk keduanya 1:

  • Riwayat konsumsi obat, mencakup jumlah, jenis, dosis, cara pemberian, pengaruh pajanan sinar matahari, dan kontak obat pada kulit terbuka.
  • Riwayat atopi pada diri sendiri dan pada keluarga.
  • Alergi terhadap alergen lain.
  • Riwayat alergi obat sebelumnya.

These two diseases are skin reactions to systemically given drugs, and SKDI places both in a single competency item 3. What separates them is the distribution of the lesions, not their severity 1.

Exanthematous drug eruption is a mild allergic skin reaction to a systemic drug, and the guideline classes it as a type IV hypersensitivity reaction after Coombs and Gell; its other names are maculopapular or morbilliform eruption 1. It appears 10 to 14 days after treatment starts, usually on the legs, the groin and the axillae, then spreads within 1 to 2 days 1.

Fixed drug eruption is a drug eruption that recurs at the same site every time the drug is met again, and that site is usually around the mouth, the lips or the genitals 1. It is precisely that recurrence at the same site that gives the disease its name 1.

What decides both is the same single act, stopping the suspected drug, because a drug eruption essentially heals once the cause is identified and promptly removed 1. What must be excluded first is widespread disease reaching almost the whole body including the mucosa, because that is the state feared to progress to Stevens Johnson syndrome and it is a reason to refer 1. Competency level 4A 3.

Risk factors, the same for both 1:

  • A drug history, covering amount, type, dose, route of administration, the effect of sun exposure, and drug contact on broken skin.
  • A personal and family history of atopy.
  • Allergy to other allergens.
  • A previous drug allergy.

MengenaliRecognising it

Anamnesis, exanthematous drug eruption 1:

  • Gatal ringan sampai berat, disertai kemerahan dan bintil pada kulit.
  • Kelainan muncul 10 sampai 14 hari setelah pengobatan dimulai.
  • Penyebab tersering yang disebut panduan adalah antibiotik, yaitu ampisilin, sulfonamid, dan tetrasiklin, serta analgetik antipiretik non steroid.
  • Kelainan umumnya timbul di tungkai, lipat paha, dan lipat ketiak, lalu meluas dalam 1 sampai 2 hari.
  • Gejala diikuti demam subfebril, malaise, dan nyeri sendi yang muncul 1 sampai 2 minggu setelah obat mulai diminum.
  • Tanyakan juga jamu dan bahan diagnostik, misalnya bahan kontras radiologi, karena keduanya masuk hitungan sebagai penyebab.

History, exanthematous drug eruption 1:

  • Mild to severe itch, with redness and papules on the skin.
  • The eruption appears 10 to 14 days after treatment starts.
  • The commonest causes the guideline names are antibiotics, meaning ampicillin, sulfonamide and tetracycline, and non-steroidal analgesic antipyretics.
  • The eruption generally begins on the legs, the groin and the axillae, then spreads within 1 to 2 days.
  • It is followed by subfebrile fever, malaise and joint pain appearing 1 to 2 weeks after the drug was started.
  • Ask about herbal preparations and diagnostic agents too, for example radiological contrast, because both count as causes here.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 28 dan angka 29. manuver.tireg7.net
  2. 2.Al Aboud DM, Nessel TA, Hafsi W. Cutaneous Adverse Drug Reaction. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, butir 55. pd.fk.ub.ac.id

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.