EpistaksisNosebleed

SKDI 2012 memberi butir 98 Epistaksis tingkat 4A pada tabel HIDUNG, subkelompok Hidung dan Sinus Hidung, tanpa satu pun kata pembatas. Tetangganya: butir 97 Benda asing juga 4A, sedangkan butir 99 Etmoiditis akut hanya 1. Daftar Keterampilan Klinis pada dokumen yang sama menaruh butir 98 Menghentikan perdarahan hidung pada tingkat 4A, dan PPK FKTP memberi Tingkat Keterampilan 4A pada panduan Penatalaksanaan Perdarahan Hidung, yang mencakup penekanan langsung, kaustik, tampon anterior, dan tampon posterior. Jadi kewenangannya mencakup penyakitnya sekaligus seluruh rangkaian tindakannya, termasuk tindakan yang paling invasif di dalam entri ini. Batas praktisnya datang dari PPK, bukan dari SKDI: tiga keadaan dipulangkan ke rujukan, yaitu kebutuhan mencari sumber perdarahan dengan modalitas yang tidak tersedia di layanan tingkat pertama seperti nasoendoskopi, kecurigaan tumor di rongga hidung atau nasofaring, dan epistaksis yang terus berulang atau masif. Ketiganya tentang mencari sebab dan mengendalikan perdarahan yang tidak terkendali, bukan tentang memasang tampon, sehingga 4A di sini tetap terbaca sebagai kewenangan penuh atas tindakan penghentian perdarahannya.SKDI 2012 places item 98 Epistaksis at level 4A in the HIDUNG table, subgroup Hidung dan Sinus Hidung, with no qualifying wording attached. Its neighbours: item 97 Benda asing is also 4A, while item 99 Etmoiditis akut is only 1. The clinical skills list in the same document puts item 98, stopping a nosebleed, at level 4A, and PPK FKTP gives skill level 4A to its guidance on managing nasal bleeding, which covers direct pressure, cautery, anterior packing and posterior packing. Authority therefore covers the condition and the whole run of procedures for it, including the most invasive one in this entry. The practical limit comes from PPK rather than SKDI: three situations go to referral, a need to find the bleeding source with a modality unavailable at first level care such as nasal endoscopy, suspicion of a tumour in the nasal cavity or nasopharynx, and epistaxis that keeps recurring or is massive. All three are about finding a cause and about bleeding that will not come under control, not about placing a pack, so 4A here still reads as full authority over the procedures that stop the bleeding.

Epistaksis adalah perdarahan yang keluar dari hidung, dan pedoman layanan primer membacanya sebagai gejala suatu penyakit, bukan sebagai penyakit tersendiri. Karena itu tindakan tidak berhenti ketika darahnya berhenti: langkah berikutnya adalah mencari sumber dan penyebabnya 1.

Letak sumbernya menentukan hampir semua hal sesudahnya. Perdarahan anterior paling sering berasal dari pleksus Kiesselbach, merupakan bentuk tersering pada anak, dan dapat berhenti sendiri atau dikendalikan dengan tindakan sederhana. Perdarahan posterior berasal dari arteri sfenopalatina atau arteri etmoidalis posterior, lebih sering pada orang dewasa dengan hipertensi, arteriosklerosis, atau penyakit kardiovaskuler, biasanya hebat, dan jarang berhenti sendiri 1. Kompetensi dokter layanan primer 4A, dan tindakan menghentikan perdarahan hidung juga dinilai 4A, termasuk tampon anterior dan tampon posterior 3.

Faktor risiko:

  • Trauma 1.
  • Penyakit hidung yang mendasari, misalnya rinosinusitis atau rinitis alergi 1.
  • Penyakit sistemik: kelainan pembuluh darah, nefritis kronik, dan demam berdarah dengue 1.
  • Obat: NSAID, aspirin, warfarin, heparin, tiklopidin, dan semprot hidung kortikosteroid 1.
  • Tumor jinak maupun ganas di hidung, sinus paranasal, atau nasofaring 1.
  • Kelainan kongenital, misalnya hereditary hemorrhagic telangiectasia 1.
  • Deviasi septum 1.
  • Pengaruh lingkungan: tinggal di daerah yang sangat tinggi, tekanan udara rendah, atau udara yang sangat kering 1.
  • Kebiasaan. Butir terakhir daftar ini berhenti pada satu kata itu tanpa keterangan lanjutan 1.

Epistaxis is bleeding from the nose, and the primary care guidance reads it as a symptom of a disease rather than as a disease in itself. Care therefore does not end when the bleeding does: the next step is to find the source and the cause 1.

Where the source sits decides nearly everything that follows. Anterior bleeding most often arises from Kiesselbach's plexus, is the commonest form in children, and may stop on its own or come under control with simple measures. Posterior bleeding arises from the sphenopalatine artery or the posterior ethmoidal artery, is commoner in adults with hypertension, arteriosclerosis or cardiovascular disease, is usually heavy, and rarely stops on its own 1. Primary care competence is 4A, and stopping a nosebleed is also graded 4A, anterior and posterior packing included 3.

Risk factors:

  • Trauma 1.
  • Underlying nasal disease, for example rhinosinusitis or allergic rhinitis 1.
  • Systemic disease: vascular disorders, chronic nephritis and dengue haemorrhagic fever 1.
  • Drugs: NSAIDs, aspirin, warfarin, heparin, ticlopidine and corticosteroid nasal spray 1.
  • Benign or malignant tumours of the nose, paranasal sinuses or nasopharynx 1.
  • Congenital disorders, for example hereditary haemorrhagic telangiectasia 1.
  • Septal deviation 1.
  • Environment: living at very high altitude, low air pressure, or very dry air 1.
  • Habit. The last item on this list stops at that one word with nothing further 1.

MengenaliRecognising it

Anamnesis:

  • Darah keluar dari hidung, atau riwayat darah keluar dari hidung 1.
  • Tanyakan secara khusus 1:
    • Dari mana darah keluar, ke depan rongga hidung atau ke tenggorok.
    • Berapa banyak perdarahannya.
    • Berapa sering.
    • Berapa lama.

Pemeriksaan fisik:

  • Rinoskopi anterior, dikerjakan berurutan dari anterior ke posterior: vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung, lalu konka inferior, untuk menemukan sumber perdarahan 1.
  • Rinoskopi posterior untuk menilai nasofaring. Penting pada pasien dengan epistaksis berulang, karena di situlah neoplasma disingkirkan 1.
  • Pengukuran tekanan darah, untuk menyingkirkan hipertensi. Hipertensi dapat menimbulkan epistaksis posterior yang hebat dan sering berulang 1.
  • Periksa nadi, tekanan darah, dan pernapasan lebih dahulu, dan atasi kelainannya sebelum menangani hidungnya 2.

History:

  • Blood coming from the nose, or a history of it 1.
  • Ask specifically 1:
    • Where the blood comes out, forward into the nasal cavity or back into the throat.
    • How much bleeding there is.
    • How often.
    • How long it lasts.

Examination:

  • Anterior rhinoscopy, worked through in order from anterior to posterior: vestibule, nasal mucosa and septum, lateral nasal wall, then inferior turbinate, to locate the bleeding source 1.
  • Posterior rhinoscopy to inspect the nasopharynx. Important in recurrent epistaxis, because that is where a neoplasm is excluded 1.
  • Blood pressure measurement, to exclude hypertension. Hypertension can produce severe and repeatedly recurring posterior bleeding 1.
  • Check pulse, blood pressure and respiration first, and correct what is abnormal before turning to the nose 2.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf J Respirasi, angka 12, halaman lampiran -494- sampai -500-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf G Sistem Indera, angka 21 Penatalaksanaan Perdarahan Hidung, Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -974- sampai -978-. manuver.tireg7.net
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit butir 98 (halaman 39) dan Daftar Keterampilan Klinis butir 98 (halaman 68). pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, entri Epistaksis. Edisi sebelumnya, dipakai hanya untuk memastikan kode klasifikasi karena blok header edisi 2022 tidak terbaca pada ekstraksi. peraturan.bpk.go.id
  5. 5.Tabassom A, Dahlstrom JJ. Epistaxis. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.