EnsefalitisEncephalitis

SKDI 2012 menempatkan Ensefalitis pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Infeksi, butir nomor 7, dengan Tingkat Kemampuan 3B dan tanpa kata pembatas. Tidak ada butir ensefalitis kedua di tabel sistem lain. Tingkat 3B berarti dokter membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan kecacatan, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Dua tetangganya pada subkelompok yang sama berbagi angka itu, yaitu butir 6 Meningitis dan butir 8 Malaria serebral, sedangkan butir 11 Toksoplasmosis serebral dan butir 12 Abses otak dinilai 2. Pembacaan yang masuk akal atas pola itu: sindrom demam dengan penurunan kesadaran harus dikenali dan distabilkan oleh dokter layanan primer, tetapi penyakit yang penegakannya menuntut pencitraan dan serologi khusus tidak dituntut untuk dituntaskan di sana. Pembacaan itu milik Atlas; SKDI hanya mencantumkan angkanya. PPK Neurologi PERDOSSI menetapkan kewenangan yang setara pada bab Ensefalitis Viral: fasilitas pelayanan kesehatan primer mendiagnosis lalu merujuk ke spesialis saraf.SKDI 2012 places Ensefalitis in the SISTEM SARAF table, Infeksi subgroup, item 7, at competency 3B with no qualifying words. There is no second encephalitis item in another system table. Level 3B means the doctor makes the clinical diagnosis, gives emergency initial treatment to save life or prevent deterioration and disability, decides the most appropriate referral, and follows the patient up after the referral. Two neighbours in the same subgroup share that grade, item 6 Meningitis and item 8 Malaria serebral, while item 11 Toksoplasmosis serebral and item 12 Abses otak are graded 2. A reasonable reading of that pattern: the syndrome of fever with falling consciousness must be recognised and stabilised by the primary care doctor, but diseases whose diagnosis requires imaging and specific serology are not expected to be completed there. That reading is Atlas; SKDI carries only the number. The PERDOSSI neurology guideline sets an equivalent boundary in its viral encephalitis chapter: primary care diagnoses, then refers to a neurologist.

Ensefalitis adalah peradangan jaringan otak. Bentuk viral adalah yang paling sering dan yang menjadi acuan panduan neurologi Indonesia 1. Perbedaannya dengan meningitis bukan soal berat ringan: pada meningitis yang meradang adalah selaputnya, sehingga nyeri kepala dan kaku kuduk mendominasi, sedangkan pada ensefalitis yang meradang adalah parenkim otaknya, sehingga yang mendominasi adalah perubahan kesadaran, perubahan kepribadian, dan kejang 1. Keduanya sering berjalan bersama sebagai meningoensefalitis.

PPK FKTP tidak memuat entri ensefalitis. Huruf H Neurologi memuat empat belas entri dan ensefalitis bukan salah satunya 2. Panduan yang membagi kewenangan adalah PPK Neurologi PERDOSSI, dan untuk fasilitas pelayanan kesehatan primer isinya satu baris: menegakkan diagnosis, lalu merujuk ke spesialis saraf 1.

Dua penyebab ensefalitis yang justru punya entri sendiri di PPK FKTP, keduanya juga bernilai 3B, dan keduanya perlu dipikirkan sebelum menyebut penyakit ini idiopatik 2:

  • Rabies, infeksi akut susunan saraf pusat yang dijelaskan sebagai ensefalitis, hampir selalu fatal bila profilaksis pascapajanan tidak diberikan sebelum gejala berat muncul, dan dikenali dari riwayat gigitan hewan.
  • Malaria serebral, komplikasi Plasmodium falciparum yang menjadi penyebab kematian utama pada malaria, dikenali dari trias malaria dengan penurunan kesadaran berat pada pasien yang tinggal di atau pernah mengunjungi daerah endemik.

Pada pasien dengan HIV, daftar penyebabnya berubah. Infeksi oportunistik susunan saraf pusat tersering pada pasien HIV di Indonesia adalah meningitis tuberkulosis, ensefalitis toksoplasma, dan meningitis kriptokokus 3.

Kompetensi dokter layanan primer 3B 4. Prognosis fungsional ensefalitis viral pada panduan Indonesia dinyatakan dubia ad malam, dan angka itulah alasan halaman ini berpusat pada kecepatan mengenali dan merujuk 1.

Encephalitis is inflammation of the brain parenchyma. The viral form is the commonest and the one the Indonesian neurology guideline is built around 1. Its difference from meningitis is not one of severity: in meningitis the membranes are inflamed, so headache and neck stiffness dominate, while in encephalitis the brain tissue itself is inflamed, so altered consciousness, personality change, and seizures dominate 1. The two often run together as meningoencephalitis.

PPK FKTP has no encephalitis entry. Section H Neurologi holds fourteen entries and encephalitis is not among them 2. The document that divides responsibility is the PERDOSSI neurology guideline, and for a primary care facility it holds one line: make the diagnosis, then refer to a neurologist 1.

Two causes of encephalitis do have their own PPK FKTP entries, both also graded 3B, and both have to be considered before this illness is called undifferentiated 2:

  • Rabies, an acute central nervous system infection described there as an encephalitis, almost always fatal if post-exposure prophylaxis is not given before severe symptoms appear, and recognised from a history of animal bite.
  • Cerebral malaria, a complication of Plasmodium falciparum and the leading cause of death in malaria, recognised from the malaria triad with deep loss of consciousness in a patient living in or returning from an endemic area.

In HIV patients the list of causes changes. The commonest central nervous system opportunistic infections in Indonesian HIV patients are tuberculous meningitis, toxoplasma encephalitis, and cryptococcal meningitis 3.

Primary care competency is 3B 4. The Indonesian guideline gives the functional prognosis of viral encephalitis as dubia ad malam, and that judgement is why this page centres on speed of recognition and referral 1.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Keluhan yang membawa pasien dengan ensefalitis viral datang 1:

  • Demam.
  • Nyeri kepala.
  • Perubahan kesadaran.
  • Riwayat bepergian dari daerah endemis.
  • Malaise dan gejala menyerupai influenza.
  • Fotofobia.
  • Kejang, yang tidak selalu ada.

Pertanyaan yang mengubah arah diagnosis, dan yang mudah terlewat bila anamnesisnya hanya berpusat pada demam:

  • Riwayat gigitan hewan, terutama anjing, monyet, kucing, kelelawar, atau serigala, dan apakah hewan penggigit mati dalam 1 minggu. Diagnosis rabies ditegakkan dengan riwayat gigitan disertai matinya hewan penggigit dalam waktu itu 2.
  • Tinggal di atau pernah berkunjung ke daerah endemik malaria, dan riwayat infeksi Plasmodium falciparum sebelumnya 2.
  • Status HIV atau keadaan imunokompromais lain, karena mengubah daftar penyebab 3.
  • Riwayat vaksinasi terakhir, karena ensefalitis pasca-vaksinasi ada pada daftar diagnosis banding rabies 2.

History. The complaints that bring a patient with viral encephalitis in 1:

  • Fever.
  • Headache.
  • Altered consciousness.
  • Travel from an endemic area.
  • Malaise and an influenza-like illness.
  • Photophobia.
  • Seizures, which are not always present.

The questions that change the diagnosis, and that are easily missed when the history revolves only around the fever:

  • A history of animal bite, particularly dog, monkey, cat, bat, or wolf, and whether the biting animal died within 1 week. Rabies is diagnosed from a bite history together with the death of the biting animal in that time 2.
  • Living in or having visited a malaria endemic area, and any previous Plasmodium falciparum infection 2.
  • HIV status or other immunocompromise, because it changes the list of causes 3.
  • Recent vaccination, because post-vaccination encephalitis sits on the rabies differential list 2.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Ensefalitis Viral, termasuk bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi angka 5 Rabies dan angka 6 Malaria Serebral. Dipakai juga untuk menunjukkan bahwa Huruf H tidak memuat entri ensefalitis. manuver.tireg7.net
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/90/2019, bagian Neuro-AIDS. keslan.kemkes.go.id
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, butir 7 Ensefalitis, Tingkat Kemampuan 3B. pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Said S, Kang M. Viral Encephalitis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.