EndometritisEndometritis
SKDI 2012 menempatkan endometritis pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 57, dengan tingkat kemampuan 3B [3]. Arti 3B [3]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. Daftar kedua SKDI, yaitu Daftar Keterampilan Klinis, memisahkan pengenalan dari tindakan dengan sangat tegas pada penyakit ini [3]: - Butir 77, menilai lochia, tingkat 4A. - Butir 78, palpasi posisi fundus, tingkat 4A. - Butir 63, pemeriksaan pascasalin berupa tinggi fundus serta menilai plasenta lepas atau tersisa, tingkat 4A. - Butir 8, pemeriksaan bimanual berupa palpasi vagina, serviks, korpus uteri, dan ovarium, tingkat 4A. - Butir 9, pemeriksaan rektal berupa palpasi kantung Douglas, uterus, dan adneksa, tingkat 3. - Butir 17, kuretase, tingkat 3. Bacaan yang dihasilkan keempat butir 4A itu jelas: seluruh pemeriksaan yang menegakkan diagnosis ini bertingkat mandiri. Lokia dinilai, fundus dipalpasi, rahim diraba bimanual, dan ketiganya sudah cukup untuk mengenali penyakit tanpa satu pun pemeriksaan penunjang. Tidak ada alasan keterampilan untuk melewatkan diagnosis ini. Yang tidak bertingkat mandiri adalah tindakan yang sering justru menjadi kuncinya. Bila penyebabnya sisa konsepsi, rahim harus dikosongkan, dan mengosongkannya dengan kuret berada pada tingkat 3, yaitu pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi. Menilai kantung Douglas untuk mencari abses juga tingkat 3. Karena itu keputusan yang sebenarnya bukan hanya kapan merujuk, melainkan apakah rahim yang perlu dikosongkan boleh dikosongkan di tempat. Dua hal lain yang perlu diketahui sebelum halaman ini dipakai: - Nama penyakitnya berbeda antara dua dokumen. SKDI mendaftarnya sebagai endometritis; teks Indonesia yang memuat tata laksananya memakai judul metritis dan mendefinisikannya sebagai infeksi rahim sesudah persalinan [2][3]. Keduanya menunjuk proses yang sama pada kedalaman yang berbeda, dan tidak ada pemeriksaan layanan primer yang memisahkan keduanya, sehingga halaman ini memperlakukannya sebagai satu penyakit. - Tidak ada entri PPK FKTP untuk endometritis. Huruf N Kesehatan Wanita memuat dua belas entri dan tidak satu pun di antaranya penyakit ini; namanya muncul di sana hanya sebagai satu kata pada daftar diagnosis banding pielonefritis [1][4]. Seluruh tata laksana pada halaman ini karena itu berasal dari Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu dan dari PNPK Tata Laksana Komplikasi Kehamilan [2][5].SKDI 2012 places endometritis in the Sistem Reproduksi table, Persalinan dan Nifas subgroup, item 57, at competency level 3B [3]. What 3B means [3]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. SKDI's second list, the Clinical Skills list, draws a sharp line between recognising this disease and acting on it [3]: - Item 77, assessing lochia, level 4A. - Item 78, palpating the position of the fundus, level 4A. - Item 63, postpartum examination of fundal height and of whether the placenta is separated or retained, level 4A. - Item 8, bimanual examination of vagina, cervix, uterine body and ovaries, level 4A. - Item 9, rectal examination palpating the pouch of Douglas, uterus and adnexa, level 3. - Item 17, curettage, level 3. Those four 4A items read plainly: every examination that makes this diagnosis is graded for independent practice. Lochia is assessed, the fundus is palpated, the uterus is felt bimanually, and the three together are enough to recognise the disease without a single investigation. There is no competency reason for missing it. What is not graded for independent practice is the procedure that often decides the case. Where retained products are the cause the uterus has to be emptied, and emptying it with a curette sits at level 3, meaning performed or applied under supervision. Assessing the pouch of Douglas for an abscess is also level 3. The real decision is therefore not only when to refer, but whether a uterus that needs emptying may be emptied on site. Two further things to know before this page is used: - The two documents call the disease different things. SKDI lists it as endometritis; the Indonesian text that carries its management is headed metritis and defines it as infection of the uterus after delivery [2][3]. Both name the same process at different depths, no primary care examination separates them, and this page therefore treats them as one disease. - There is no PPK FKTP entry for endometritis. Huruf N Kesehatan Wanita carries twelve entries and none of them is this one; the word appears there only as a single item in the differential list of the pyelonephritis entry [1][4]. Everything managemental on this page therefore comes from the Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu and from the PNPK on complications of pregnancy [2][5].
Endometritis adalah infeksi rahim sesudah melahirkan, sesudah keguguran, atau sesudah tindakan yang memasuki rongga rahim. Radangnya bermula pada desidua yang baru terlepas, lalu menembus ke dalam otot rahim, sehingga penyakit yang di layanan primer tampil sebagai demam nifas pada kenyataannya sudah melibatkan dinding rahim seluruhnya 2.
Yang membuatnya penting bukan gambaran hari pertamanya, yang sering ringan, melainkan kecepatan penyakit ini menyebar bila pengobatannya tertunda. Dari rahim, infeksi berjalan ke rongga panggul, ke pembuluh darah, dan ke aliran darah, dan setiap langkah itu punya nama tersendiri pada panduan yang sama 2.
Pasiennya perempuan pada masa nifas, biasanya dalam beberapa hari pertama sesudah persalinan, dengan demam yang tidak dapat diterangkan oleh payudara, luka, atau saluran kemih. Ada satu kelompok yang perlu dicari lebih keras, yaitu ibu yang persalinannya berlangsung di luar fasilitas kesehatan atau yang tidak kembali untuk kunjungan nifas, karena merekalah yang paling mungkin datang terlambat.
Faktor yang menaikkan risikonya 12:
- Tindakan pertolongan persalinan yang tidak aseptik.
- Kebersihan diri yang kurang selama masa nifas.
- Keadaan gizi yang kurang.
- Plasenta yang tidak lahir lengkap, atau plasenta yang dikeluarkan dengan tangan, karena keduanya memang sudah dianggap cukup berisiko untuk mendapat antibiotika profilaksis pada panduan.
- Ketuban yang pecah lebih dari 18 jam, yang pada entri Persalinan Lama menjadi alasan memberi antibiotika bahkan sebelum ada demam.
- Persalinan lama dan tindakan berulang di dalam rahim.
- Bahan yang dimasukkan sendiri ke dalam vagina, yang selain membawa kuman juga memunculkan pertanyaan tentang tetanus.
Endometritis is infection of the uterus after childbirth, after miscarriage, or after any procedure that enters the uterine cavity. It begins in the freshly separated decidua and spreads into the uterine muscle, so a disease that presents in primary care as puerperal fever already involves the full thickness of the uterine wall 2.
What makes it matter is not how it looks on the first day, which is often mild, but how fast it travels once treatment is delayed. From the uterus the infection moves to the pelvic cavity, to the veins, and to the bloodstream, and each of those steps has its own named chapter in the same guideline 2.
The patient is a woman in the puerperium, usually within the first few days after delivery, with a fever that the breasts, the wound and the urinary tract do not explain. One group deserves harder looking for: women who delivered outside a health facility or who did not return for a postnatal visit, because they are the ones most likely to arrive late.
- Delivery care given without aseptic technique.
- Poor personal hygiene during the puerperium.
- Poor nutritional state.
- A placenta that was not delivered complete, or one removed by hand, since both are already treated as risky enough to warrant prophylactic antibiotics in the guideline.
- Membranes ruptured for more than 18 hours, which in the Persalinan Lama entry is itself a reason to give antibiotics before any fever appears.
- Prolonged labour and repeated instrumentation of the uterus.
- Material introduced into the vagina by the woman herself, which brings organisms and also raises the question of tetanus.
MengenaliRecognising it
Diagnosis ini dibuat di samping tempat tidur, dari tiga pemeriksaan yang seluruhnya bertingkat 4A: menilai lokia, memalpasi fundus, dan meraba rahim secara bimanual 3. Tidak ada pemeriksaan penunjang layanan primer yang memastikannya, dan tidak ada yang perlu ditunggu sebelum pengobatan dimulai.
Tanda dan gejala 2:
- Demam di atas 38 derajat Celsius, dapat disertai menggigil.
- Nyeri perut bawah.
- Lokia yang berbau dan bernanah.
- Nyeri tekan pada rahim.
- Rahim yang mengecil lebih lambat daripada seharusnya.
- Dapat disertai perdarahan pervaginam dan syok.
This diagnosis is made at the bedside, from three examinations all graded 4A: assessing the lochia, palpating the fundus, and feeling the uterus bimanually 3. No primary care investigation confirms it, and nothing needs waiting for before treatment starts.
Signs and symptoms 2:
- Fever above 38 degrees Celsius, which may come with rigors.
- Lower abdominal pain.
- Lochia that smells offensive and is purulent.
- Tenderness of the uterus.
- A uterus shrinking more slowly than it should.
- Vaginal bleeding and shock may accompany it.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf N Kesehatan Wanita, angka 8 Persalinan Lama untuk pemicu antibiotika berupa tanda infeksi dan ketuban pecah lebih dari 18 jam, dan angka 9 Perdarahan Post Partum untuk Tabel 14.11 serta jalur Sisa Plasenta. Tidak ada entri tersendiri untuk endometritis pada panduan ini. manuver.tireg7.net
- 2.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bagian Enam Masalah Nifas, bab 6.1 Metritis halaman 220 sampai 221, bab 6.2 Abses Pelvis halaman 222, dan bab 6.3 Infeksi Luka Perineum dan Luka Abdominal halaman 223. Bab 6.1 adalah sumber seluruh tanda, regimen antibiotika, tenggat 48 jam dan 72 jam, serta daftar komplikasi pada halaman ini. platform.who.int
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 57 Endometritis, Tingkat Kemampuan 3B. Daftar Keterampilan Klinis, kelompok Sistem Reproduksi: butir 77 Menilai lochia (4A), butir 78 Palpasi posisi fundus (4A), butir 63 Postpartum pemeriksaan tinggi fundus dan plasenta (4A), butir 8 Pemeriksaan bimanual (4A), butir 9 Pemeriksaan rektal palpasi kantung Douglas, uterus, adneksa (tingkat 3), butir 17 Kuretase (tingkat 3). pd.fk.ub.ac.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf M Ginjal dan Saluran Kemih, angka 2 Pielonefritis Tanpa Komplikasi, halaman lampiran -698- sampai -700-. Satu-satunya tempat kata endometritis muncul dalam panduan ini adalah daftar diagnosis banding entri tersebut. manuver.tireg7.net
- 5.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Komplikasi Kehamilan, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/91/2017. Bagian Terapi Perdarahan Pascasalin Sekunder, halaman lampiran -147- sampai -148-, untuk kaitan dengan endometritis, kombinasi klindamisin dengan gentamisin, jadwal gentamisin sekali sehari, dan keterangan mengenai ibu menyusui, dengan peringkat bukti II dan rekomendasi B. kemkes.go.id
- 6.Taylor M, Jenkins SM, Pillarisetty LS. Endometritis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov