Emfisema ParuPulmonary Emphysema

SKDI 2012 memberi Emfisema paru Tingkat Kemampuan 3A pada tabel Sistem Respirasi subkelompok Paru, butir 34 [3]. Dua baris di bawahnya, butir 36 Penyakit Paru Obstruksi Kronik eksaserbasi akut diberi tingkat 3B, dan satu baris di atasnya butir 33 Efusi pleura masif juga 3B. Jadi dokumen yang sama memisahkan penyakit menahunnya dari serangan akutnya dan memberi keduanya kotak yang berbeda: 3A adalah kotak bukan gawat darurat, sedangkan 3B adalah kotak gawat darurat [3]. Halaman ini karena itu berisi pengenalan emfisema, terapi pendahuluan yang bukan tindakan kegawatan, rujukan untuk pemastian dan penderajatan, lalu tindak lanjut sesudah pasien kembali. Tata laksana eksaserbasi akut adalah butir SKDI yang berbeda dengan tingkat yang berbeda, dan obat kegawatannya bukan milik halaman ini. Tidak ada tingkat kedua untuk dibandingkan. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP tidak memuat entri emfisema paru; yang ada adalah entri PPOK, dan header entri itu hanya menilai satu hal, yaitu PPOK eksaserbasi akut pada tingkat 3B [1]. Entri PPOK diganti seluruhnya oleh Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 dan tingkat pada headernya tidak berubah [1]. Karena dokumen yang lebih baru tidak memuat emfisema sebagai entri dan tidak memisahkannya dari PPOK, tidak ada pertentangan, dan tingkat SKDI berdiri sendiri. Satu hal lagi yang perlu dinyatakan lebih dahulu, karena pembaca akan mencarinya. Tidak ada penderajatan PPOK maupun emfisema di dalam entri PPOK nasional, baik pada edisi 1186/2022 maupun pada versi penggantinya. Penderajatan yang paling dikenal untuk penyakit ini dimiliki dan dilisensikan oleh badan internasional, dan SPARK tidak membawanya. Yang dibawa di sini adalah alat penapisan dan ambang diagnostik yang memang ada di dalam dokumen nasional.SKDI 2012 grades pulmonary emphysema 3A in the Respiratory System table under Lung, item 34 [3]. Two lines below it, item 36 acute exacerbation of chronic obstructive pulmonary disease is graded 3B, and one line above it item 33 massive pleural effusion is also 3B. The same document therefore separates the chronic disease from the acute attack and puts them in different boxes: 3A is the non-emergency box, 3B the emergency one [3]. This page accordingly covers recognising emphysema, initial treatment that is not an emergency intervention, referral for confirmation and grading, then follow-up once the patient returns. Managing an acute exacerbation is a different SKDI item with a different grade, and its emergency drugs do not belong here. There is no second grade to weigh against it. The primary care clinical practice guideline carries no emphysema entry; what it carries is a COPD entry, and that entry's header grades only one thing, acute COPD exacerbation, at 3B [1]. The COPD entry was replaced outright by Ministerial Decree HK.01.07/MENKES/1936/2022 and the grade in its header did not change [1]. Because the newer document has no entry for emphysema and does not separate it from COPD, nothing is in conflict and the SKDI grade stands alone. One further point has to be made up front, because readers will look for it. Neither the 1186/2022 edition of the national COPD entry nor its replacement carries any severity classification for COPD or for emphysema. The best known grading for this disease is owned and licensed by an international body, and SPARK does not carry it. What is carried here is the screening instrument and the diagnostic threshold that do exist inside the national documents.

Emfisema paru adalah hilangnya dinding alveolus, sehingga banyak kantong kecil menyatu menjadi sedikit kantong besar. Luas permukaan untuk pertukaran gas berkurang, dan yang sama pentingnya, penopang yang menahan saluran napas kecil tetap terbuka ikut hilang. Karena itu masalah utamanya bukan udara yang sulit masuk melainkan udara yang sulit keluar.

Emfisema adalah salah satu bentuk hambatan aliran udara yang persisten dan progresif yang dikelompokkan sebagai penyakit paru obstruktif kronik, yaitu penyakit paru kronik yang dapat dicegah dan diobati, berhubungan dengan peningkatan respons inflamasi kronis di paru terhadap partikel dan gas berbahaya 1. SKDI menilainya sebagai butir tersendiri pada tingkat 3A, terpisah dari serangan akutnya yang bertingkat 3B 3.

Di Indonesia penyakit ini lebih sering pada laki-laki, lebih sering di perdesaan daripada perkotaan, dan lebih sering pada masyarakat berpendidikan rendah dan kuintil kepemilikan terbawah; prevalensi tertingginya di Nusa Tenggara Timur, diikuti Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan 1. Banyak pasien tidak menyadari dirinya sakit karena batuk dan sesak dianggap hal biasa, dan tidak semua petugas kesehatan mengenali langkah deteksi dininya 1.

Faktor risiko yang perlu ditanyakan 1:

  • Asap rokok, baik merokok sendiri maupun terpajan asap orang lain.
  • Debu kerja, organik maupun inorganik, dan bahan kimia di tempat kerja.
  • Polusi udara dalam rumah dari pemanas atau biomassa rumah tangga pada ventilasi yang buruk, termasuk memasak dengan kayu bakar atau kompor minyak tanah 2.
  • Polusi udara bebas dan tempat tinggal di wilayah berisiko kebakaran hutan.
  • Genetik dan riwayat keluarga.
  • Pertumbuhan dan perkembangan paru yang terganggu, serta stres oksidatif.
  • Umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, gizi, dan komorbiditas.
  • Infeksi paru, termasuk tuberkulosis, yang meninggalkan kerusakan struktur.

Pulmonary emphysema is the loss of alveolar walls, so that many small sacs merge into a few large ones. The surface area available for gas exchange falls and, just as importantly, the tethering that holds small airways open is lost with it. The problem is therefore not that air struggles to get in but that it struggles to get out.

Emphysema is one form of the persistent, progressive airflow limitation grouped as chronic obstructive pulmonary disease, a chronic lung disease that can be prevented and treated and that is associated with an increased chronic inflammatory response in the lung to harmful particles and gases 1. SKDI grades it as its own item at 3A, separately from its acute attack at 3B 3.

In Indonesia it is commoner in men, commoner in rural than urban areas, and commoner among people with less education and in the lowest asset quintile; the highest prevalence is in East Nusa Tenggara, followed by Central Sulawesi, West Sulawesi and South Sulawesi 1. Many patients do not know they are ill because cough and breathlessness are treated as ordinary, and not every health worker recognises the early detection steps 1.

Risk factors to ask about 1:

  • Tobacco smoke, whether smoked or inhaled from others.
  • Occupational dust, organic and inorganic, and workplace chemicals.
  • Indoor air pollution from heating or household biomass with poor ventilation, including cooking on wood or a kerosene stove 2.
  • Outdoor air pollution and living in an area at risk of forest fire.
  • Genetics and family history.
  • Impaired lung growth and development, and oxidative stress.
  • Age, sex, socioeconomic status, nutrition and comorbidity.
  • Lung infection, including tuberculosis, which leaves structural damage behind.

MengenaliRecognising it

Emfisema tidak ditemukan dengan satu tanda melainkan dengan gabungan riwayat pajanan, sesak yang berjalan bertahun-tahun, dan dada yang berubah bentuk. Seluruh langkah pemeriksaan dada bertingkat keterampilan 4A, begitu pula interpretasi foto toraks dan spirometri dasar 3.

Indikator kunci pada anamnesis 1:

  • Sesak yang progresif, bertambah berat seiring waktu, bertambah dengan aktivitas, dan menetap sepanjang hari. Pasien menggambarkannya sebagai perlu usaha untuk bernapas, berat, sukar bernapas, atau terengah-engah.
  • Batuk kronik yang hilang timbul dan mungkin tidak berdahak.
  • Batuk kronik berdahak. Setiap batuk kronik berdahak dapat menandakan penyakit ini.
  • Riwayat terpajan faktor risiko: merokok, paparan asap rokok, debu, bahan kimia tempat kerja, asap dapur berbahan bakar kayu, dan tempat tinggal di wilayah berisiko kebakaran hutan.
  • Riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama.
  • Kadang disertai mengi dan rasa berat di dada.

Emphysema is not found by a single sign but by the combination of exposure history, breathlessness that has run for years, and a chest that has changed shape. Every step of the chest examination is skill level 4A, as are chest film interpretation and basic spirometry 3.

Key indicators in the history 1:

  • Progressive breathlessness that worsens over time, worsens with activity, and persists through the day. Patients describe it as needing effort to breathe, as heavy, as difficult, or as being out of breath.
  • A chronic cough that comes and goes and may be dry.
  • A chronic productive cough. Any chronic productive cough may indicate this disease.
  • Exposure history: smoking, second hand smoke, dust, workplace chemicals, cooking smoke from wood fuel, and living in an area at risk of forest fire.
  • A family history of the same disease.
  • Sometimes wheeze and a feeling of heaviness in the chest.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri PPOK sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf J Respirasi angka 11, halaman lampiran -196- sampai -203-, dengan header Tingkat Kemampuan PPOK eksaserbasi akut 3B. Dipakai juga sebagai temuan negatif: dokumen ini tidak memuat entri emfisema paru dan tidak memuat penderajatan PPOK. diskes.badungkab.go.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, keterampilan Skrining PPOK sebagaimana ditambahkan oleh Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf H Sistem Respirasi angka 5 dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -261- sampai -267-, meliputi kelompok berisiko tinggi, Tabel 1 kuesioner PUMA beserta ambang skornya, langkah pemeriksaan spirometri, dan Tabel 2 interpretasi hasil spirometri. diskes.badungkab.go.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Respirasi, butir 34 Emfisema paru dengan Tingkat Kemampuan 3A pada halaman 40 dan butir 36 Penyakit Paru Obstruksi Kronik eksaserbasi akut dengan Tingkat Kemampuan 3B pada halaman 41; definisi tingkat 3A dan 3B pada halaman 30 sampai 31; Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Respirasi, butir 11 sampai 14 pemeriksaan fisik dada 4A, butir 17 uji fungsi paru dan spirometri dasar 4A, butir 19 interpretasi foto toraks 4A, butir 29 terapi inhalasi dan nebulisasi 4A, butir 30 terapi oksigen 4A, butir 31 edukasi berhenti merokok 4A, halaman 68 sampai 69. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis dan Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I dan Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022: Huruf J Respirasi angka 11 PPOK halaman lampiran -488- sampai -492- sebagai versi terdahulu; angka 5 Bronkitis Akut halaman lampiran -442- sampai -444- untuk gambaran dada tong dan turunnya batas paru hati; Lampiran II Huruf H Sistem Respirasi pemeriksaan fisik dada halaman lampiran -990- sampai -992- untuk tabel interpretasi perkusi yang menempatkan hipersonor pada emfisema dan pneumotoraks, serta crackles ekspirasi pada emfisema dan bronkiektasis. Halaman -990- termasuk halaman tanpa lapis teks dan dibaca dari berkas pelengkap hasil pengenalan karakter. manuver.tireg7.net
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri Gagal Jantung Akut Dan Kronik sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf F Kardiovaskuler angka 4, halaman lampiran -117- sampai -121-. Dipakai hanya untuk daftar diagnosis bandingnya, yang menyebut penyakit paru obstruktif kronik. diskes.badungkab.go.id
  6. 6.Agarwal AK, Raja A, Brown BD. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. Bab Emphysema pada koleksi yang sama berstatus arsip. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.