Divertikulosis dan divertikulitisDiverticulosis and diverticulitis

SKDI 2012 menuliskan butir 63 sebagai satu baris, Divertikulosis/divertikulitis, dengan satu tingkat kemampuan 3A. Satu angka itu menutupi dua keadaan yang tingkat kegawatannya berlawanan. Divertikulosis adalah adanya kantong divertikel di dinding kolon; pada sebagian besar orang ia tidak menimbulkan apa pun dan ditemukan tanpa dicari. Divertikulitis adalah radang pada divertikel, rentangnya mulai dari radang lokal yang nyaris tidak terlihat sampai peritonitis umum dengan perforasi bebas. Keduanya dinilai sama karena keduanya adalah penyakit yang sama pada tahap berbeda, bukan karena keduanya menuntut tindakan yang sama. Halaman ini karena itu memisahkan keduanya sejak bagian pengenalan: yang pertama tidak menuntut obat maupun rujukan, yang kedua menuntut rujukan, dan bentuk berkomplikasinya menuntut rujukan pada hari yang sama. Tidak ada entri PPK FKTP untuk penyakit ini; yang ada hanyalah penyebutan divertikulosis pada daftar banding entri Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah, dan penyebutan divertikulitis sebagai penyebab rangsang peritoneal pada entri yang sama.SKDI 2012 writes item 63 as a single line, Divertikulosis/divertikulitis, with one competency grade of 3A. That single number covers two states whose urgency runs in opposite directions. Diverticulosis is the presence of diverticular pouches in the colonic wall; in most people it produces nothing and is found without being looked for. Diverticulitis is inflammation of a diverticulum, running from local inflammation that is barely visible to generalised peritonitis with free perforation. They share a grade because they are the same disease at different stages, not because they call for the same action. So this page separates them from the recognition section onwards: the first needs neither drug nor referral, the second needs referral, and its complicated form needs referral the same day. There is no PPK FKTP entry for this condition; there is only diverticulosis on the differential list of the lower gastrointestinal bleeding entry, and diverticulitis named there as a cause of peritoneal irritation.

Divertikel adalah tonjolan mukosa dan submukosa yang menyembul lewat titik lemah dinding otot kolon, tempat pembuluh darah menembus dinding itu 3. Satu nama SKDI menampung tiga keadaan yang berbeda tuntutannya 3:

  • Divertikulosis, yaitu adanya divertikel di kolon. Pada sebagian besar orang ia tidak menimbulkan keluhan dan ditemukan pada pemeriksaan yang dikerjakan untuk hal lain.
  • Divertikulitis, yaitu radang pada divertikel, dengan rentang dari radang lokal sampai peritonitis umum dengan perforasi bebas.
  • Perdarahan divertikular, yang khasnya justru tidak nyeri.

Jumlahnya naik menurut umur: sekitar 5% pada usia 40 tahun, 30% pada usia 60 tahun, dan 65% pada usia 80 tahun 3. Dari yang menjadi divertikulitis, 75% berjalan sederhana dan 25% berkomplikasi berupa abses, fistula, obstruksi, peritonitis, dan sepsis 3.

Satu hal yang mengubah cara membacanya di Indonesia: di Asia divertikel lebih sering berada di kolon kanan, sehingga nyerinya muncul di sisi kanan dan sulit dibedakan dari apendisitis, bukan di kiri bawah seperti gambaran buku ajar Barat 3.

Tingkat kompetensinya 3A. Yang dapat dikerjakan di layanan primer adalah mengenali mana dari ketiga keadaan itu yang sedang dihadapi, menstabilkan pasien, lalu merujuk; pemastian diagnosisnya menuntut pencitraan yang tidak ada di puskesmas 134.

A diverticulum is a pouch of mucosa and submucosa pushing through a weak point in the muscular colonic wall, where blood vessels penetrate that wall 3. One SKDI name holds three states with different demands 3:

  • Diverticulosis, the presence of diverticula in the colon. In most people it causes no symptoms and is found on a test done for something else.
  • Diverticulitis, inflammation of a diverticulum, running from local inflammation to generalised peritonitis with free perforation.
  • Diverticular bleeding, which characteristically does not hurt.

The number rises with age: about 5% at 40, 30% at 60 and 65% at 80 3. Of those that become diverticulitis, 75% run simple and 25% are complicated by abscess, fistula, obstruction, peritonitis and sepsis 3.

One thing changes how this is read in Indonesia: in Asia the diverticula sit more often in the right colon, so the pain appears on the right and is hard to separate from appendicitis, rather than in the left lower quadrant of the Western textbook picture 3.

Competence is graded 3A. What primary care can do is work out which of the three states is in front of it, stabilise the patient, then refer; confirming the diagnosis needs imaging that a puskesmas does not have 134.

MengenaliRecognising it

Divertikulosis, keadaan tenang 3:

  • Tanpa keluhan pada sebagian besar orang, dan hampir selalu merupakan temuan yang tidak dicari.
  • Tidak ada tanda pada pemeriksaan fisik yang menandainya.
  • Angka lazimnya naik menurut umur: 5% pada usia 40 tahun, 30% pada usia 60 tahun, 65% pada usia 80 tahun.
  • Sebaran letaknya di dunia Barat: sigmoid terlibat pada 95% kasus dan hanya sigmoid pada 65%.

Satu kalimat pada pedoman internasionalnya menyatakan divertikulosis bergejala pada 70% kasus, dan kalimat itu berlawanan dengan angka lain di dokumen yang sama serta dengan sifat penyakit yang sebagian besar tidak terdeteksi; entri ini karena itu tidak memakainya sebagai angka prevalensi gejala, dan hanya membawa dua angka turunannya, yaitu 15 sampai 25% berkembang menjadi divertikulitis dan 5 sampai 15% disertai perdarahan 3.

Diverticulosis, the quiet state 3:

  • No symptoms in most people, and almost always a finding that was not being looked for.
  • No physical sign marks it.
  • Its frequency rises with age: 5% at 40, 30% at 60, 65% at 80.
  • Its distribution in Western series: the sigmoid is involved in 95% of cases and is the only segment involved in 65%.

One sentence in the international guideline states that diverticulosis is symptomatic in 70% of cases, and that sentence runs against other figures in the same document and against a disease that mostly goes undetected; this entry therefore does not use it as a rate of symptoms, and carries only the two derived figures, that 15 to 25% go on to diverticulitis and 5 to 15% are associated with bleeding 3.

yayestidaknotidaknoyayesyayestidaknoDivertikel kolon diketahui ataudicurigaiColonic diverticula known or suspectedPerdarahan per anum tanpa nyeri?Painless bleeding per rectum?Resusitasi lalu rujuk:perdarahandivertikularResuscitate, thenrefer: diverticularbleedingNyeri perut menetap dengan demam ataunyeri tekan?Persistent abdominal pain with fever ortenderness?Divertikulosis: tanpakeluhan, tanpa obatDiverticulosis: nosymptoms, no drugsRangsang peritoneal, syok, atauperburukan cepat?Peritonism, shock, or rapiddeterioration?Rujuk sekarang sebagaiabdomen akutRefer now as an acuteabdomenDugaan divertikulitis: rujuk untukpencitraanSuspected diverticulitis: refer forimagingDi Asia divertikellebih sering di kolonkanan, sehingganyerinya menyerupaiapendisitisIn Asia diverticulasit more often in theright colon, so thepain mimicsappendicitis
Divertikulosis dan divertikulitis dinilai satu tingkat kemampuan, padahal yang satu tidak menuntut apa pun dan yang lain menuntut rujukan hari itu juga. Yang memisahkan keduanya di layanan primer hanyalah nyeri, demam, dan tanda peritoneal, karena pencitraan yang memastikannya tidak ada di puskesmas.Diverticulosis and diverticulitis carry one competency grade, yet one asks for nothing and the other asks for referral the same day. What separates them in primary care is only pain, fever and peritoneal signs, because the imaging that settles it is not held at a puskesmas.3
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Perdarahan Saluran Cerna, Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/2162/2023. BAB III huruf B Perdarahan Saluran Cerna Bawah, halaman 31 sampai 48. kemkes.go.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022, kelompok C. Digestive, entri Perdarahan Saluran Cerna bagian b, halaman -159- sampai -161-. manuver.tireg7.net
  3. 3.World Gastroenterology Organisation. Practice Guidelines: Diverticular Disease. Dipakai karena tidak ada pedoman nasional Indonesia yang membahas divertikulitis sebagai penyakit tersendiri; fakta saja yang dibawa. worldgastroenterology.org
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas, subkelompok Kolon, butir 63 Divertikulosis/divertikulitis dengan tingkat kemampuan 3A, halaman cetak 45. pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Wilkins T, Embry K, George R. Diverticular Disease of the Colon. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.