DistosiaDystocia
SKDI 2012 menempatkan distosia pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 45, dengan tingkat kemampuan 3B [2]. Arti 3B [2]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat, lalu merujuk. Daftar kedua SKDI yang menentukan seluruh bentuk halaman ini, karena distosia diselesaikan dengan tangan dan bukan dengan obat [2]: - Butir 75, pertolongan distosia bahu, tingkat 3, yaitu pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi. - Butir 59, episiotomi, tingkat 4A. - Butir 53, menolong persalinan fisiologis sesuai Asuhan Persalinan Normal, tingkat 4A. - Butir 51, pemeriksaan obstetri berupa penilaian serviks, dilatasi, membran, presentasi janin, dan penurunan, tingkat 4A. - Butir 74, ekstraksi vakum rendah, tingkat 3. - Butir 70, menolong persalinan dengan presentasi bokong, tingkat 3. - Butir 72, operasi caesar, tingkat 2, yaitu pernah melihat atau didemonstrasikan. - Butir 76, kompresi bimanual eksterna, interna, dan aorta, tingkat 4A. Dibaca bersama, kedelapan butir itu memberi pembagian kerja yang tajam dan agak tidak nyaman. Menolong persalinan normal, mengerjakan episiotomi, dan menahan perdarahan sesudahnya adalah kemampuan mandiri. Membebaskan bahu yang macet bukan. Seluruh jalan keluar yang tersisa bila manuver pertama gagal, yaitu vakum, persalinan sungsang, dan seksio sesarea, juga bukan. Buku saku menegaskan pembagian itu dengan kalimatnya sendiri. Sesudah manuver McRobert dan penekanan suprasimfisis, halaman berikutnya memberi peringatan bahwa langkah selanjutnya harus dikerjakan penolong terlatih, dan algoritmanya memberi catatan kaki bahwa manuver rotasi internal serta melahirkan lengan posterior hanya bila ada penolong terlatih, dan bila tidak ada maka segera rujuk [3]. Karena itu keputusan yang sebenarnya di layanan primer bukan hanya kapan merujuk, melainkan berapa lama boleh mencoba sebelum berangkat. Batas praktisnya: - Tidak ada entri PPK tersendiri untuk distosia. Kata itu muncul pada tiga tempat di dalam panduan: sebagai judul diagnosis kala I fase aktif dan judul Tabel 14.10 di dalam entri Persalinan Lama, sebagai faktor risiko perdarahan pascasalin, dan sebagai keadaan yang mendahului ruptur perineum [1]. - Distosia bahu memiliki bab tersendiri hanya pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, yaitu rujukan yang ditunjuk entri PPK sendiri [1][3]. - Angka yang paling menentukan bukan dosis melainkan urutan tindakan, karena setiap menit sesudah kepala lahir adalah menit tanpa pertukaran gas yang cukup bagi bayi.SKDI 2012 places dystocia in the Sistem Reproduksi table, Persalinan dan Nifas subgroup, item 45, at competency level 3B [2]. What 3B means [2]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. SKDI's second list is what shapes this whole page, because dystocia is resolved with hands rather than with drugs [2]: - Item 75, management of shoulder dystocia, level 3, meaning performed or applied under supervision. - Item 59, episiotomy, level 4A. - Item 53, conducting a physiological birth under Asuhan Persalinan Normal, level 4A. - Item 51, obstetric examination of the cervix, dilatation, membranes, fetal presentation and descent, level 4A. - Item 74, low vacuum extraction, level 3. - Item 70, conducting a breech delivery, level 3. - Item 72, caesarean section, level 2, meaning seen or demonstrated. - Item 76, bimanual compression, external, internal and aortic, level 4A. Read together those eight describe a sharp and slightly uncomfortable division of labour. Conducting a normal birth, performing an episiotomy, and holding the bleeding afterwards are independent skills. Freeing an impacted shoulder is not. Every remaining way out when the first manoeuvre fails, vacuum, breech delivery and caesarean section, is not either. The pocket book states the same division in its own words. After the McRoberts manoeuvre and suprapubic pressure, the next page warns that the steps that follow must be carried out by a trained operator, and its algorithm carries a footnote that the internal rotation manoeuvres and delivery of the posterior arm are only for a trained operator, and that where there is none the patient is referred at once [3]. The real decision in primary care is therefore not only when to refer, but how long it is right to keep trying before leaving. The practical limits: - There is no PPK entry of its own for dystocia. The word appears in three places in the guideline: as the diagnostic heading for the active first stage and as the title of Table 14.10 inside the Persalinan Lama entry, as a risk factor for postpartum haemorrhage, and as a state preceding perineal tearing [1]. - Shoulder dystocia has a chapter of its own only in the maternal pocket book, which is the reference the PPK entry itself points to [1][3]. - The figure that decides everything is not a dose but the order of the manoeuvres, because every minute after the head is born is a minute without adequate gas exchange for the baby.
Distosia berarti persalinan yang tidak dapat maju. Dalam pemakaian panduan Indonesia kata itu menutupi dua keadaan yang berbeda jauh dalam hal waktu, dan memisahkan keduanya adalah hal pertama yang perlu dikerjakan.
- Distosia sebagai kemajuan persalinan yang terhambat. Panduan memakai kata ini sebagai judul diagnosis untuk kala I fase aktif yang melambat, yaitu grafiknya pada partograf sudah melewati garis waspada, dan dapat pula sudah memotong garis bertindak 1. Keadaan ini berjalan dalam hitungan jam, dan seluruh isinya ada pada halaman partus lama, yang tidak diulang di sini.
- Distosia bahu. Sesudah kepala lahir, bahu depan tidak dapat lewat di bawah simfisis pubis 3. Keadaan ini berjalan dalam hitungan menit, dan halaman ini terutama tentang keadaan tersebut.
Perbedaan waktu itu bukan sekadar keterangan tambahan. Pada distosia kala I, merujuk adalah tindakan yang benar dan tersedia. Pada distosia bahu, bayi sudah setengah lahir; jalan napasnya belum terbuka dan tali pusatnya terjepit di panggul, sehingga tidak ada ambulans yang cukup cepat. Yang menentukan hasilnya adalah apa yang dikerjakan tangan penolong dalam beberapa menit berikutnya, di tempat.
Tingkat kemampuan 3B menentukan bentuk halaman ini, dan satu hal lagi mempersempitnya. SKDI menempatkan pertolongan distosia bahu pada tingkat keterampilan 3, yaitu pernah dikerjakan di bawah supervisi 2. Buku saku menempatkan batasnya di tempat yang sama: manuver McRobert dan penekanan suprasimfisis dikerjakan siapa pun yang menolong persalinan, sedangkan manuver rotasi internal dan melahirkan lengan posterior hanya oleh penolong terlatih, dan bila tidak ada maka rujuk 3.
Yang tersisa untuk dokter layanan primer karena itu adalah pekerjaan yang jelas dan terbatas: mengenalinya dalam detik pertama, memanggil bantuan, mengerjakan manuver pertama dengan benar, tidak mengerjakan hal-hal yang justru mencederai, dan berangkat begitu batas kemampuan tercapai.
Dystocia means a labour that cannot progress. In Indonesian guideline usage the word covers two situations that are far apart in time, and separating them is the first thing to do.
- Dystocia as obstructed progress. The guideline uses the word as the diagnostic heading for a slowing active first stage, with the cervical dilatation line on the partograph between the alert and action lines or already across the action line 1. This runs in hours, and all of its content sits on the prolonged labour page, which is not repeated here.
- Shoulder dystocia. After the head is born, the anterior shoulder cannot pass beneath the pubic symphysis 3. This runs in minutes, and this page is mainly about that.
That difference in time is not a footnote. In first stage dystocia, referral is the right action and it is available. In shoulder dystocia the baby is already half born; the airway is not open and the cord is compressed in the pelvis, so no ambulance is fast enough. What decides the outcome is what the attendant's hands do in the next few minutes, on site.
Competency level 3B shapes this page, and one more thing narrows it. SKDI grades management of shoulder dystocia at skill level 3, meaning performed under supervision 2. The pocket book puts the boundary in the same place: the McRoberts manoeuvre and suprapubic pressure are for whoever is conducting the birth, while the internal rotation manoeuvres and delivery of the posterior arm are for a trained operator only, and where there is none the patient is referred 3.
What is left for the primary care doctor is therefore clear and bounded work: recognise it in the first seconds, call for help, perform the first manoeuvre correctly, avoid the things that cause injury, and leave as soon as the limit of competence is reached.
MengenaliRecognising it
Distosia bahu dikenali dari tampilan kepala yang sudah lahir, bukan dari waktu yang berlalu. Tanda yang perlu diamati penolong persalinan 3:
- Kesulitan melahirkan wajah dan dagu.
- Kepala bayi tetap melekat erat di vulva, atau bahkan tertarik kembali, yang dikenal sebagai turtle sign.
- Kegagalan paksi luar kepala bayi.
- Kegagalan turunnya bahu.
Ketiga tanda terakhir muncul berurutan dalam hitungan detik, sehingga penolong yang menunggu kepastian akan kehilangan menit yang justru menentukan.
Shoulder dystocia is recognised from the appearance of the head that has just been born, not from time elapsed. The signs the birth attendant watches for 3:
- Difficulty delivering the face and chin.
- The head staying tight against the vulva, or even retracting, known as the turtle sign.
- Failure of external rotation of the head.
- Failure of the shoulders to descend.
The last three appear in sequence within seconds, so an attendant who waits for certainty loses the very minutes that decide the outcome.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf N Kesehatan Wanita, angka 8 Persalinan Lama termasuk Tabel 14.10 Kriteria diagnostik penatalaksanaan distosia, angka 9 Perdarahan Post Partum bagian faktor risiko, dan angka 10 Ruptur Perineum Tingkat 1-2 termasuk Tabel 14.13. Tidak ada entri tersendiri untuk distosia pada panduan ini. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 45 Distosia, Tingkat Kemampuan 3B. Daftar Keterampilan Klinis, bagian Proses Melahirkan Normal, butir 75 Pertolongan distosia bahu (tingkat 3), butir 59 Episiotomi (4A), butir 74 Ekstraksi vakum rendah (tingkat 3), butir 72 Operasi Caesar (tingkat 2), butir 76 Kompresi bimanual (4A). pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 4.19 Distosia Bahu halaman 149 sampai 153, dan bab 4.17 Persalinan Lama halaman 137 sampai 139 termasuk Tabel 4.17.1. platform.who.int
- 4.Davis DD, Roshan A, Varacallo MA. Shoulder Dystocia. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov
- 5.Hutchison J, Mahdy H, Hutchison J. Abnormal Labor in Obstetrics: Recognition and Management. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan untuk distosia sebagai hambatan kemajuan persalinan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov