Difteria (THT)Diphtheria (ENT)

SKDI 2012 menilai difteria 3B [3]. Nama butirnya sendiri sudah membatasi cakupannya pada bentuk telinga, hidung, dan tenggorok, dan butir itu berdiri pada tabel Sistem Respirasi subkelompok Laring dan Faring, bukan pada tabel Sistem Indra. Difteria hanya muncul sekali pada seluruh Daftar Penyakit. Bentuk kulit dan bentuk sistemiknya tidak ada di sana, sehingga entri ini tidak menyatakan apa pun tentang keduanya, dan kode klasifikasi yang dipakai adalah kategori induknya agar pembaca tidak menyimpulkan kewenangan atas bentuk yang tidak dinilai [3]. Tingkat 3B di sini bermakna sederhana: tegakkan dugaannya, beri antitoksin dan antibiotik pertama, isolasi, laporkan, lalu rujuk. Entri PPK yang memuat penyakit ini memang menempatkan setiap pasien difteri tonsil pada daftar rujukan segera [1].SKDI 2012 grades diphtheria 3B [3]. The name of the item itself limits its scope to the ear, nose, and throat form, and that item sits in the Respiratory System table under Larynx and Pharynx, not in the Sensory System table. Diphtheria appears only once in the whole Disease List. Its cutaneous and systemic forms are not there, so this entry states nothing about either, and the classification code used is the parent category so that no reader concludes an authority over a form that was never graded [3]. The 3B has a simple meaning here: make the provisional diagnosis, give the first antitoxin and antibiotic, isolate, notify, then refer. The PPK entry that carries this disease does put every tonsillar diphtheria patient on the immediate referral list [1].

Difteria adalah infeksi Corynebacterium diphtheriae yang di wilayah telinga, hidung, dan tenggorok memberi satu tanda pemersatu, yaitu membran palsu yang melekat erat pada jaringan di bawahnya dan berdarah bila diangkat 12.

Dua bentuk yang dijumpai di layanan primer 12:

  • Difteri tonsil, dengan tonsil membengkak tertutup bercak putih kotor yang terus meluas.
  • Difteri hidung, dengan sekret bercampur darah dan membran keabu-abuan di konka inferior serta dasar kavum nasi. Bentuk ini dapat primer di hidung atau menyusul infeksi di tenggorok.

Penyakit ini semakin jarang seiring naiknya cakupan imunisasi, dan justru itu yang membuatnya berbahaya: ia jarang terpikirkan 2. Riwayat imunisasi yang tidak lengkap adalah petunjuk yang paling menentukan 2.

Faktor risiko yang dibawa entri sumbernya 12:

  • Riwayat imunisasi yang tidak lengkap.
  • Usia anak.
  • Daya tahan tubuh yang menurun.
  • Kontak dengan penderita infeksi saluran napas.
  • Kebersihan rongga mulut yang kurang baik.

SKDI menilai difteria bentuk telinga, hidung, dan tenggorok pada tingkat 3B, sehingga pekerjaannya adalah mengenali, memberi antitoksin dan antibiotik pertama, mengisolasi, melaporkan, lalu merujuk 3. Penyakit ini tidak punya entri sendiri pada PPK FKTP; isinya tersebar di dalam entri Tonsilitis Akut dan entri Rinitis Akut 12.

Diphtheria is infection with Corynebacterium diphtheriae which, in the ear, nose, and throat, gives one unifying sign: a false membrane stuck firmly to the tissue under it that bleeds when lifted 12.

Two forms are met in primary care 12:

  • Tonsillar diphtheria, with swollen tonsils covered by dirty white patches that keep spreading.
  • Nasal diphtheria, with blood stained secretion and a greyish membrane over the inferior turbinate and the floor of the nasal cavity. This form may be primary in the nose or follow an infection in the throat.

The disease grows rarer as immunisation coverage rises, and that is exactly what makes it dangerous: it is rarely thought of 2. An incomplete immunisation history is the single most telling clue 2.

The risk factors carried by its source entries 12:

  • An incomplete immunisation history.
  • Childhood.
  • Reduced immunity.
  • Contact with someone who has a respiratory infection.
  • Poor oral hygiene.

SKDI grades the ear, nose, and throat form of diphtheria at 3B, so the job is to recognise it, give the first antitoxin and antibiotic, isolate, notify, then refer 3. This disease has no entry of its own in the PPK FKTP; its content is spread inside the Acute Tonsillitis entry and the Acute Rhinitis entry 12.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Keluhannya berangkat dari keluhan tonsilitis akut, dan tidak ada satu keluhan pun yang khas difteri 1:

  • Rasa kering di tenggorok sebagai gejala awal.
  • Nyeri tenggorok terutama saat menelan, yang bertambah berat sehingga anak menolak makan.
  • Nyeri yang menjalar ke telinga sebagai referred pain.
  • Demam, yang pada bayi dan anak dapat tinggi sampai menimbulkan kejang.
  • Sakit kepala, badan lesu, dan nafsu makan berkurang.
  • Suara seperti mulut penuh makanan panas, yaitu plummy voice.
  • Mulut berbau dan ludah menumpuk akibat nyeri telan yang hebat.

History. The complaints start out as those of acute tonsillitis, and not one of them is specific to diphtheria 1:

  • Dryness in the throat as the first symptom.
  • Throat pain, worst on swallowing, growing severe enough that the child refuses food.
  • Pain radiating to the ear as referred pain.
  • Fever, which in infants and children can be high enough to provoke a seizure.
  • Headache, lassitude, and loss of appetite.
  • A voice like a mouth full of hot food, that is a plummy voice.
  • Bad breath and pooling saliva from severe pain on swallowing.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf J Respirasi butir 4 Tonsilitis Akut (halaman lampiran -434- sampai -441-), bagian Pemeriksaan Fisik butir c, Penatalaksanaan butir e sub 3, Komplikasi, Rencana Tindak Lanjut, Kriteria Rujukan, dan Peralatan. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf J Respirasi butir 15 Rinitis Akut (halaman lampiran -505- sampai -509-), bagian Pemeriksaan Fisik butir b sub 2, Klasifikasi berdasarkan etiologi butir b sub 2 Rinitis Difteri, Komplikasi, Penatalaksanaan Medikamentosa butir 3, dan Rencana Tindak Lanjut. manuver.tireg7.net
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Respirasi subkelompok Laring dan Faring, butir 12 Difteria (THT) tingkat 3B; butir 6 Faringitis, butir 7 Tonsilitis, dan butir 8 Laringitis semuanya tingkat 4A. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Murphy JR, Trombley MP. Diphtheria. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.