Diabetes Melitus Tipe LainDiabetes Due to Another Disease or Drug

SKDI 2012 menilai butir ini pada tingkat 3A, dan judul lengkapnya adalah Diabetes melitus tipe lain (intoleransi glukosa akibat penyakit lain atau obat-obatan) [2]. Kurungnya terbelah dua baris pada ekstraksi teks yang dipakai, sehingga sekilas terbaca terpotong pada kata akibat; baris berikutnya memuat lanjutannya, dan kalimat itu utuh di dokumen aslinya. Tidak ada bagian yang hilang dan tidak ada yang ditebak. Yang penting bukan hanya angkanya, melainkan tetangganya. Pada tabel dan halaman cetak yang sama, Diabetes melitus tipe 1 dan Diabetes melitus tipe 2 keduanya dinilai 4A [2]. Jadi dokter yang diharapkan menuntaskan sendiri dua bentuk diabetes yang paling sering, justru diminta merujuk bentuk yang ini. Alasannya terbaca dari judulnya: yang harus ditangani bukan hanya gula darahnya, melainkan penyakit atau obat yang menyebabkannya, dan penetapan penyebab itu berada di luar layanan primer. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama tidak memuat entri untuk diabetes melitus tipe lain, baik pada KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022 maupun pada perubahannya KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022; yang ada di sana adalah entri Diabetes Melitus Tipe 2 pada tingkat 4A [3].SKDI 2012 grades this item at 3A, and its full title is Diabetes melitus tipe lain (intoleransi glukosa akibat penyakit lain atau obat-obatan), meaning glucose intolerance caused by another disease or by drugs [2]. The bracket breaks over two lines in the text extraction used here, so at a glance it looks cut off at the word akibat; the next line carries the rest, and the sentence is whole in the source document. Nothing is missing and nothing has been guessed. What matters is not only the grade but its neighbours. In the same table and on the same printed page, type 1 diabetes mellitus and type 2 diabetes mellitus are both graded 4A [2]. So the doctor expected to see the two commonest forms of diabetes through to the end is asked to refer this one. The reason is in its title: what has to be treated is not only the blood glucose but the disease or the drug behind it, and settling that cause sits outside primary care. The Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama carries no entry for this form of diabetes, neither in KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022 nor in its amendment KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022; what stands there is the type 2 diabetes entry at level 4A [3].

Diabetes melitus tipe lain adalah diabetes yang bukan tipe 1 dan bukan tipe 2, yaitu intoleransi glukosa yang terjadi akibat penyakit lain atau akibat obat 2. Gula darahnya sama tinggi dan kriteria diagnosisnya sama persis dengan diabetes bentuk lain; yang berbeda adalah bahwa ada penyebab lain di belakangnya, dan penyebab itulah yang menentukan pengobatannya.

Klasifikasi nasional memasukkan tiga kelompok ke dalam tipe spesifik yang berkaitan dengan penyebab lain 1:

  • Sindroma diabetes monogenik, yaitu diabetes neonatal dan MODY.
  • Penyakit eksokrin pankreas, termasuk fibrosis kistik dan pankreatitis.
  • Diabetes yang disebabkan obat atau zat kimia, misalnya penggunaan glukokortikoid, terapi HIV/AIDS, dan keadaan setelah transplantasi organ.

Bentuk yang paling sering ditemui dokter layanan primer adalah yang disebabkan obat, terutama glukokortikoid. Hiperglikemia yang diinduksi steroid terjadi pada 40 sampai 56 persen pasien rawat inap yang baru diketahui diabetes atau yang diabetesnya memburuk setelah steroid dimulai 4.

Halaman ini bertingkat 3A, satu tingkat di bawah diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang keduanya 4A 2. Penurunan itu bukan soal sulitnya menurunkan gula darah, melainkan soal siapa yang menetapkan penyebabnya. Pengendalian gula darahnya mengikuti halaman diabetes melitus tipe 2, sementara penetapan tipe dan pengobatan penyebabnya dikerjakan di pusat rujukan.

Diabetes of another type is diabetes that is neither type 1 nor type 2: glucose intolerance arising from another disease or from a drug 2. The blood glucose is just as high and the diagnostic criteria are exactly the same as for any other form; what differs is that something else stands behind it, and that something decides the treatment.

The national classification puts three groups into the specific types related to other causes 1:

  • Monogenic diabetes syndromes, meaning neonatal diabetes and MODY.
  • Exocrine pancreatic disease, including cystic fibrosis and pancreatitis.
  • Diabetes caused by a drug or chemical, for example glucocorticoid use, HIV/AIDS therapy, and the state after organ transplantation.

The form a primary care doctor meets most often is the drug induced one, above all from glucocorticoids. Steroid induced hyperglycaemia occurs in 40 to 56 percent of inpatients newly found to have diabetes or whose diabetes worsens once a steroid is started 4.

This page is graded 3A, one step below type 1 and type 2 diabetes, which are both 4A 2. That step down is not about the difficulty of lowering blood glucose; it is about who settles the cause. Glucose control follows the type 2 diabetes page, while typing the diabetes and treating its cause is done at the referral centre.

MengenaliRecognising it

Menegakkan diabetesnya. Kriterianya sama untuk semua bentuk diabetes, dan cukup satu kriteria terpenuhi 1:

  • Glukosa darah puasa 126 mg/dL atau lebih, dengan puasa berarti tanpa asupan kalori sekurang-kurangnya 8 jam.
  • Glukosa darah 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral dengan beban glukosa 75 gram, 200 mg/dL atau lebih.
  • Glukosa darah sewaktu 200 mg/dL atau lebih, disertai keluhan klasik atau krisis hiperglikemia.
  • HbA1c 6,5 persen atau lebih, dengan metode terstandardisasi NGSP dan assay DCCT.

Establishing the diabetes. The criteria are the same for every form, and one is enough 1:

  • Fasting plasma glucose of 126 mg/dL or more, fasting meaning no caloric intake for at least 8 hours.
  • Plasma glucose 2 hours after an oral glucose tolerance test with a 75 gram glucose load, of 200 mg/dL or more.
  • Random plasma glucose of 200 mg/dL or more with classic symptoms or a hyperglycaemic crisis.
  • HbA1c of 6.5 percent or more, by an NGSP standardised method and DCCT assay.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.PERKENI. Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024. Jakarta: PB PERKENI; 2024. Tabel 2 Klasifikasi Diabetes Melitus halaman 6 dan Tabel 3 kriteria laboratorium halaman 7. Hanya angka dan nama entitas yang dibawa, bukan susunan kalimatnya. pbperkeni.or.id
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Endokrin, Metabolik, dan Nutrisi, subkelompok Kelenjar Endokrin, nomor 3 pada tingkat 3A serta nomor 1 dan nomor 2 pada tingkat 4A, halaman cetak 51. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri Diabetes Melitus Tipe 2 sebagaimana diubah seluruhnya oleh lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf L angka 3, halaman lampiran -211- sampai -226-, bagian Hasil Anamnesis dan Kriteria Rujukan TACC. diskes.badungkab.go.id
  4. 4.PB PERKENI. Tatalaksana Pasien dengan Hiperglikemia di Rumah Sakit. Jakarta: PB PERKENI; 2022. Bab Steroid pada Pasien Diabetes halaman 84 sampai 87 termasuk Tabel 1, dan bagian identifikasi faktor yang meningkatkan kadar gula darah. Hanya angka dan nama entitas yang dibawa. pbperkeni.or.id
  5. 5.Sapra A, Bhandari P. Diabetes. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, hanya ditautkan. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.