Dermatitis seboroikSeborrhoeic dermatitis

Dermatitis seboroik adalah radang kulit yang muncul di daerah kaya kelenjar sebum dan berjalan seiring keaktifan kelenjar itu, di atas dasar konstitusi 1. Keluhannya bermula sebagai ketombe ringan di kulit kepala, yaitu pitiriasis sika, dan dapat berlanjut menjadi keropeng berbau tidak sedap yang terasa gatal 1. Yang dilihat pemeriksa adalah papul sampai plak eritema, skuama berminyak agak kekuningan, dan tepi yang tidak tegas; gambaran itu sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, dan pemeriksaan penunjang pada umumnya tidak diperlukan 1. Penyakitnya punya dua puncak usia, yaitu bayi pada bulan pertama dan usia 18 sampai 40 tahun, serta lebih sering mengenai pria 1. Panduan menyatakan penyakit ini sukar disembuhkan tetapi dapat dikendalikan, sehingga sasaran kerja dokter layanan primer adalah kendali jangka panjang dan bukan satu episode saja 1. Tingkat kemampuan 4A 2.

Faktor risiko 1:

  • Genetik.
  • Kelelahan.
  • Kurang tidur.
  • Stres emosional.
  • Infeksi.
  • Defisiensi imun.
  • Pria, yang lebih sering terkena daripada wanita.
  • Dua puncak usia, yaitu bayi pada bulan pertama kehidupan dan usia 18 sampai 40 tahun.

Seborrhoeic dermatitis is skin inflammation that appears where sebaceous glands are dense and tracks the activity of those glands, on a constitutional background 1. It begins as mild scalp dandruff, pityriasis sicca, and can progress to a foul smelling crust that itches 1. What the examiner sees is papules to erythematous plaques, greasy slightly yellowish scale, and an edge that is not sharply defined; that picture is enough to make the diagnosis, and investigations are generally not needed 1. The disease has two age peaks, infants in the first month and people aged 18 to 40 years, and it affects men more often than women 1. The guideline states the disease is hard to cure but can be controlled, so the primary care job is long term control rather than a single episode 1. Competency level 4A 2.

Risk factors 1:

  • Genetic background.
  • Fatigue.
  • Lack of sleep.
  • Emotional stress.
  • Infection.
  • Immune deficiency.
  • Male sex, more often affected than female.
  • Two age peaks, infants in the first month of life and people aged 18 to 40 years.

MengenaliRecognising it

Anamnesis 1:

  • Bercak merah dan kulit terasa kasar.
  • Keluhan awal berupa ketombe ringan pada kulit kepala, yaitu pitiriasis sika.
  • Keluhan lanjut berupa keropeng yang berbau tidak sedap dan terasa gatal.
  • Tanyakan pemicunya, yaitu kelelahan, kurang tidur, dan stres emosional, karena ketiganya sekaligus menjadi sasaran nasihat.

Pemeriksaan fisik. Tanda patognomonis 1:

  • Papul sampai plak eritema.
  • Skuama berminyak agak kekuningan.
  • Batas lesi tidak tegas.

History 1:

  • Red patches and skin that feels rough.
  • The earliest complaint is mild scalp dandruff, pityriasis sicca.
  • The later complaint is crusting that smells unpleasant and itches.
  • Ask about the triggers, meaning fatigue, lack of sleep and emotional stress, because those three are also what the advice targets.

Examination. The pathognomonic signs 1:

  • Papules through to erythematous plaques.
  • Greasy, slightly yellowish scale.
  • An edge that is not sharply defined.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 14. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, butir 41. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode EA81 dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  4. 4.Tucker D, Syed HA, Masood S. Seborrheic Dermatitis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.