Dermatitis kontak iritanIrritant contact dermatitis
Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah peradangan kulit non-imunologik: bahan iritan merusak kulit secara langsung, tanpa proses sensitisasi lebih dulu 1. Konsekuensinya penting untuk anamnesis, karena penyakit ini bisa muncul pada pajanan pertama dan menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun ras 1. Penyebabnya bahan sehari-hari yang umumnya berkaitan dengan pekerjaan, di antaranya pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, basa, dan serbuk kayu 1. Kuat lemahnya iritan menentukan wajah penyakitnya: iritan kuat memberi gambaran akut, sedangkan iritan lemah yang dikontak berulang memberi gambaran kronis 1. Diagnosis dan penanganannya tuntas di layanan primer, karena tingkat kemampuannya 4A 2.
Faktor risiko:
Irritant contact dermatitis is a non-immunological inflammation of the skin: the irritant damages the skin directly, with no prior sensitisation step 1. That matters at the bedside, because the disease can appear on a first exposure and can affect anyone regardless of age, sex or race 1. The agents are everyday substances, usually work related, among them solvents, detergents, lubricating oils, acids, alkalis and wood dust 1. How strong the irritant is decides how the disease looks: a strong irritant gives an acute picture, while a weak irritant contacted over and over gives a chronic one 1. Diagnosis and treatment finish in primary care, since the competency level is 4A 2.
Risk factors:
MengenaliRecognising it
Anamnesis.
- Keluhannya beragam dan mengikuti sifat iritannya. Iritan kuat memberi gejala akut, iritan lemah memberi gejala kronis 1.
- Yang paling sering dikeluhkan adalah gatal dan bercak kemerahan di daerah yang berkontak dengan bahan iritan 1.
- Sebagian pasien menambahkan rasa pedih, panas, dan terbakar di lokasi yang sama 1.
- Telusuri pajanannya sampai ke bahan, waktu, dan tempatnya, karena riwayat kontak inilah yang menegakkan diagnosis 1.
History.
- Complaints vary and follow the nature of the irritant. A strong irritant gives acute symptoms, a weak one gives chronic symptoms 1.
- The commonest complaint is itch with red patches over the area that met the irritant 1.
- Some patients add stinging, heat and burning at the same site 1.
- Trace the exposure down to the substance, the timing and the place, because it is this contact history that makes the diagnosis 1.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 19. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen. pd.fk.ub.ac.id
- 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode EK02 dan judulnya dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
- 4.Litchman G, Nair PA, Atwater AR, Bhutta BS. Contact Dermatitis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov