Dermatitis kontak alergikaAllergic contact dermatitis

SKDI 2012 menilai Dermatitis kontak alergika pada tingkat 3A: tabel Kulit, subkelompok Dermatitis Eksim, butir 35 (baris 3226 pada ekstraksi SKDI). Tetangganya di baris atas, butir 34 Dermatitis kontak iritan, dinilai 4A [3]. Dua penyakit yang berdampingan, satu tingkat berbeda. PPK FKTP menempatkan angka yang sama pada header entrinya, jadi kedua dokumen sepakat dan tidak ada konflik yang perlu diselesaikan [1]. Yang menarik, dan perlu diketahui pembaca, adalah bahwa perbedaan tingkat itu tidak datang dari obatnya. Rencana penatalaksanaan kedua entri PPK hampir sama kata demi kata: pelembab yang sama, kortikosteroid topikal yang sama, antihistamin oral yang sama, bahkan kriteria rujukan yang sama, yaitu uji tempel bila diperlukan dan kegagalan perbaikan dalam 4 minggu [1][2]. Yang berbeda adalah langkah yang menyelesaikan diagnosis. Penyebab dermatitis kontak iritan biasanya dapat dinamai dari anamnesis pekerjaan dan paparan, lalu dihindari; penyebab dermatitis kontak alergika sering hanya dapat dipastikan dengan uji tempel, dan uji tempel bukan pemeriksaan layanan primer. Karena menghindari alergen adalah terapi yang sesungguhnya, dokter layanan primer tidak dapat menuntaskan penyakit ini tanpa langkah yang tidak dimilikinya. Itulah isi 3A di sini. 3A berarti mendiagnosis, memberi terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, lalu menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan [3]. Sisi 4A penyakit tetangganya diuraikan pada entri Dermatitis Kontak Iritan di Atlas ini.SKDI 2012 grades Dermatitis kontak alergika at 3A: Skin table, Dermatitis Eksim subgroup, item 35 (line 3226 of the SKDI extraction). Its neighbour on the line above, item 34 irritant contact dermatitis, is graded 4A [3]. Two diseases side by side, one level apart. PPK FKTP puts the same number on its entry header, so the two documents agree and there is no conflict to resolve [1]. What is worth knowing is that the difference in level does not come from the drugs. The management plans of the two PPK entries run almost word for word together: the same emollient, the same topical corticosteroids, the same oral antihistamines, even the same referral criteria of patch testing where needed and failure to improve within 4 weeks [1][2]. What differs is the step that completes the diagnosis. The cause of irritant contact dermatitis can usually be named from the occupational and exposure history and then avoided; the cause of allergic contact dermatitis often can only be settled by patch testing, and patch testing is not a primary care investigation. Since avoiding the allergen is the real treatment, a primary care doctor cannot finish this disease without a step they do not have. That is what 3A means here. 3A means diagnose, give initial treatment in a non-emergency situation, then decide the most appropriate referral, and follow up after the patient returns from it [3]. The 4A side of its neighbouring disease is set out in the Dermatitis Kontak Iritan entry in this Atlas.

Dermatitis kontak alergika adalah peradangan kulit imunologik akibat reaksi hipersensitivitas terhadap alergen yang menempel di kulit 1. Berbeda dengan dermatitis kontak iritan yang merusak kulit secara langsung, penyakit ini menuntut kekebalan pasien dikenalkan lebih dulu kepada alergennya. Proses pengenalan itu, yaitu fase sensitisasi, umumnya memakan waktu 2 sampai 3 minggu, dan baru pada pajanan berikutnya kulit bereaksi 1. Reaksi itu pun tidak seketika: gejala klinis umumnya baru muncul 24 sampai 48 jam sesudah kontak, yang disebut fase elisitasi 1.

Alergennya umumnya bahan kimia dengan berat molekul di bawah 500 sampai 1000 Da, cukup kecil untuk menembus kulit 1. Berat ringannya penyakit ditentukan oleh adanya sensitisasi, derajat pajanan, dan seberapa dalam bahan itu menembus kulit 1.

Jeda satu sampai dua hari itulah yang membuat penyakit ini sering salah dituduh: pasien menyebut hal yang dipakainya pagi ini, sedangkan penyebabnya adalah hal yang menempel kemarin. Karena itu letak dan pola kelainan kulit lebih dapat dipercaya daripada dugaan pasien, dan keduanya adalah petunjuk utama ke arah penyebabnya 1.

Tingkat kemampuan 3A, yaitu mendiagnosis, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk 3. Langkah yang menyelesaikan penyakit ini adalah memastikan alergennya dengan uji tempel, dan uji tempel dikerjakan di tempat rujukan 1.

Faktor risiko 1:

  • Terpajan bahan alergen, biasanya karena pekerjaan atau hobi.
  • Ada riwayat kontak dengan bahan alergen pada waktu tertentu, bukan sepanjang waktu.
  • Ada riwayat dermatitis atopik, atau riwayat atopi pada diri sendiri maupun keluarga.

Allergic contact dermatitis is an immunological skin inflammation caused by a hypersensitivity reaction to an allergen resting on the skin 1. Unlike irritant contact dermatitis, which damages the skin directly, this disease requires the patient's immunity to have met the allergen first. That introduction, the sensitisation phase, generally takes 2 to 3 weeks, and the skin only reacts on a later exposure 1. Even then the reaction is not immediate: clinical signs generally appear 24 to 48 hours after contact, which is the elicitation phase 1.

The allergen is generally a chemical with a molecular weight under 500 to 1000 Da, small enough to cross the skin 1. How severe the disease becomes depends on whether sensitisation exists, on the degree of exposure, and on how far the substance penetrates 1.

That one to two day gap is why the wrong culprit is so often blamed: the patient names what they put on this morning, while the cause is what touched them yesterday. So the site and the pattern of the rash are more trustworthy than the patient's guess, and both are the main pointer towards the cause 1.

Competency level 3A, meaning diagnose, give initial treatment, then refer 3. The step that finishes this disease is confirming the allergen by patch testing, and patch testing happens at the referral centre 1.

Risk factors 1:

  • Exposure to an allergen, usually through work or a hobby.
  • A history of contact with the allergen at particular times rather than continuously.
  • A history of atopic eczema, or a personal or family history of atopy.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Keluhannya gatal, dan kelainan kulitnya bergantung pada berat ringannya dermatitis; sering disertai bercak kemerahan 1. Yang menentukan diagnosis bukan keluhan itu melainkan riwayat kontaknya, jadi tanyakan seluruhnya 1:

  • Bahan yang berhubungan dengan pekerjaan.
  • Bahan yang berhubungan dengan hobi.
  • Obat topikal yang pernah dipakai, termasuk yang dibeli sendiri.
  • Obat sistemik.
  • Kosmetik.
  • Bahan lain yang dapat menimbulkan alergi.
  • Riwayat alergi di keluarga.
    • Tanyakan mundur sampai dua hari sebelum lesi muncul, bukan hanya hari ini, karena fase elisitasi berjalan 24 sampai 48 jam 1.

History. The complaint is itch, and the skin changes depend on how severe the dermatitis is; red patches are often part of it 1. What settles the diagnosis is not that complaint but the contact history, so take all of it 1:

  • Substances connected with the patient's work.
  • Substances connected with a hobby.
  • Topical drugs already used, including anything bought over the counter.
  • Systemic drugs.
  • Cosmetics.
  • Other substances capable of causing allergy.
  • A family history of allergy.
    • Ask back two days before the lesion appeared rather than only about today, because elicitation runs 24 to 48 hours 1.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 18 Dermatitis Kontak Alergik, Tingkat Kemampuan 3A, halaman lampiran -588- sampai -591-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 19 Dermatitis Kontak Iritan, Tingkat Kemampuan 4A, halaman lampiran -591- sampai -595-. Dipakai untuk membedakan kedua penyakit. manuver.tireg7.net
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, subkelompok Dermatitis Eksim, butir 35 Dermatitis kontak alergika (3A) dan butir 34 Dermatitis kontak iritan (4A). pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics. Kode EK00 dan judulnya dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  5. 5.Litchman G, Nair PA, Atwater AR, Bhutta BS. Contact Dermatitis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.