Dengue shock syndromeDengue shock syndrome
SKDI 2012 memisahkan dengue menjadi dua butir dengan dua tingkat kemampuan yang berbeda, dan pemisahan itulah alasan halaman ini ada. Butir 19 Demam dengue dan DHF bertingkat 4A, sedangkan butir 20 Dengue shock syndrome bertingkat 3B, keduanya pada tabel Sistem Hematologi dan Imunologi kelompok Infeksi [2]. Jarak satu baris itu adalah jarak antara penyakit yang dituntaskan di puskesmas dan penyakit yang distabilkan lalu dirujuk. PPK FKTP tidak mengikuti pemisahan itu. Entri Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue pada Huruf A Kelompok Umum angka 15 berdiri sebagai satu entri dengan tingkat kemampuan 4A, dan syok dibahas di dalamnya sebagai salah satu keadaan [1]. Ini bukan pertentangan yang harus dimenangkan oleh dokumen yang lebih baru, melainkan diamnya satu dokumen terhadap pembagian yang dibuat dokumen lain: PPK tidak menilai dengue shock syndrome secara terpisah, sehingga tidak ada penilaian yang bertentangan dengan 3B. Isi entri PPK itu sendiri sejalan dengan 3B. Bagian yang membahas DBD dengan syok menyatakan bahwa keadaan itu gawat darurat dan mengharuskan rujukan segera ke rumah sakit, dan menempatkan DBD dengan syok sebagai kriteria rujukan yang pertama [1]. KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 tidak mengganti entri dengue. Pasal I hanya menyisipkan satu angka sesudahnya pada Huruf A Kelompok Umum, yakni angka 16 mengenai COVID-19, sehingga teks dengue yang berlaku tetap teks lampiran induk [5]. Halaman ini berdampingan dengan rekaman demam dengue dan sengaja tidak mengulangnya. Penularan, perjalanan penyakit secara umum, kriteria diagnosis demam dengue dan demam berdarah dengue, pemeriksaan serologi, tata laksana tanpa syok, syarat perawatan di rumah, dan pencegahan dengan 4M semuanya ada di sana. Halaman ini mulai pada fase kritis dan pada satu pertanyaan: bagaimana mengenali syok pada anak sebelum tekanan darahnya turun.SKDI 2012 splits dengue into two items with two different competency levels, and that split is why this page exists. Item 19, dengue fever and DHF, is graded 4A, while item 20, dengue shock syndrome, is graded 3B, both in the haematology and immunology table under infection [2]. That one line gap is the gap between a disease finished in a puskesmas and a disease stabilised there and then referred. PPK FKTP does not follow that split. The dengue fever and dengue haemorrhagic fever entry at chapter A number 15 stands as one entry graded 4A, with shock discussed inside it as one of its states [1]. This is not a conflict for the newer document to win; it is one document's silence about a division another document makes. The PPK does not grade dengue shock syndrome separately, so there is no grading that contradicts 3B. The content of the PPK entry itself agrees with 3B. Its section on DHF with shock states that this is an emergency requiring immediate referral to hospital, and it places DHF with shock first among its referral criteria [1]. KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 does not replace the dengue entry. Its Article I only inserts one item after it in chapter A, number 16 on COVID-19, so the dengue text in force remains that of the parent annex [5]. This page sits beside the dengue fever entry and deliberately does not repeat it. Transmission, the general course of the illness, the diagnostic criteria for dengue fever and dengue haemorrhagic fever, serology, management without shock, the conditions for home care and prevention are all there. This page begins at the critical phase and at one question: how to recognise shock in a child before the blood pressure falls.
Dengue shock syndrome adalah kegagalan sirkulasi pada infeksi dengue, akibat perembesan plasma keluar dari pembuluh darah selama fase kritis. Ia bukan komplikasi yang datang tiba-tiba dari mana-mana, melainkan ujung dari satu jendela waktu yang dapat diperkirakan, dan itulah yang membuatnya dapat dicegah.
Fase kritis dimulai ketika demam turun, yaitu ketika suhu tubuh turun menjadi 37,5 sampai 38 derajat Celsius atau kurang dan tetap berada di bawah suhu itu. Umumnya jendela ini jatuh antara hari sakit ketiga sampai ketujuh, dan periode perembesan plasma yang bermakna berlangsung 24 sampai 48 jam 3. Inilah bagian yang paling sering disalahbaca oleh keluarga dan kadang oleh dokter: demam yang turun terlihat seperti perbaikan, padahal justru di situlah bahayanya dimulai.
Pada anak, tubuh menutupi kehilangan volume itu dengan sangat efektif. Pada awal syok terjadi mekanisme kompensasi yang menjaga tekanan sistolik tetap normal, dengan cara takikardia dan penyempitan pembuluh perifer; tekanan diastolik justru naik sehingga tekanan nadi menyempit 3. Anak yang syok tetap sadar. Baru pada akhir syok terjadi dekompensasi, dan tekanan sistolik serta diastolik turun tiba-tiba 3. Tekanan darah karena itu adalah hal terakhir yang jatuh, dan menunggunya berarti menunggu terlalu lama.
SKDI menilai dengue shock syndrome 3B, sedangkan demam dengue dan demam berdarah dengue 4A 2. Yang dikerjakan di FKTP adalah mengenali fase kritisnya, mengenali syok yang masih terkompensasi, memulai resusitasi cairan, dan merujuk. Entri PPK FKTP menyatakan hal yang sama: DBD dengan syok adalah gawat darurat dan mengharuskan rujukan segera ke rumah sakit 1.
Latar belakang dengue secara umum, kriteria diagnosisnya, dan tata laksana tanpa syok ada pada rekaman demam dengue dan tidak diulang di sini.
Dengue shock syndrome is circulatory failure in dengue infection, caused by plasma leaking out of the vessels during the critical phase. It is not a complication that arrives out of nowhere but the end of a window of time that can be predicted, which is what makes it preventable.
The critical phase begins when the fever falls, when the body temperature drops to 37.5 to 38 degrees Celsius or below and stays there. This window generally falls between the third and seventh day of illness, and the period of significant plasma leakage lasts 24 to 48 hours 3. This is the part families and sometimes doctors most often misread: a falling fever looks like improvement, when in fact it is where the danger begins.
In children the body covers that volume loss very effectively. Early in shock a compensatory mechanism keeps the systolic pressure normal through tachycardia and peripheral vasoconstriction; the diastolic pressure actually rises, so the pulse pressure narrows 3. A child in dengue shock stays conscious. Only at the end of shock does decompensation occur, and systolic and diastolic pressures fall suddenly 3. Blood pressure is therefore the last thing to fall, and waiting for it means waiting too long.
SKDI grades dengue shock syndrome 3B, while dengue fever and dengue haemorrhagic fever are 4A 2. What primary care does is recognise the critical phase, recognise shock while it is still compensated, start fluid resuscitation and refer. The PPK FKTP entry says the same: DHF with shock is an emergency requiring immediate referral to hospital 1.
The general background to dengue, its diagnostic criteria and management without shock are in the dengue fever entry and are not repeated here.
MengenaliRecognising it
FASE KRITIS ADALAH JENDELANYA. Fase kritis terjadi pada saat demam turun, yaitu ketika suhu tubuh turun menjadi 37,5 sampai 38 derajat Celsius atau kurang dan tetap berada di bawah suhu tersebut; saat itulah perembesan plasma berlangsung sehingga pasien dapat jatuh ke syok hipovolemik 3. Tanda bahaya umumnya muncul menjelang akhir fase demam, antara hari sakit ketiga sampai ketujuh, dan periode perembesan plasma yang bermakna berlangsung 24 sampai 48 jam 3.
THE CRITICAL PHASE IS THE WINDOW. The critical phase happens as the fever falls, when the body temperature drops to 37.5 to 38 degrees Celsius or below and stays there; that is when plasma leakage occurs and the patient can fall into hypovolaemic shock 3. Warning signs generally appear towards the end of the febrile phase, between the third and seventh day of illness, and the period of significant plasma leakage lasts 24 to 48 hours 3.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf A Kelompok Umum angka 15 Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue, bagian tanda bahaya, penatalaksanaan DBD dengan syok, dan kriteria rujukan. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, kelompok Infeksi, butir 20 Dengue shock syndrome dengan Tingkat Kemampuan 3B dan butir 19 Demam dengue dan DHF dengan Tingkat Kemampuan 4A, halaman 52. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue Anak dan Remaja. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/4636/2021, bagian fase kritis, warning signs, penilaian hemodinamik, dan tata laksana Grup C. kemkes.go.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue Pada Dewasa. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/9845/2020, bagian tata laksana DBD dewasa dengan syok terkompensasi dan penanganan sindrom syok dengue. kemkes.go.id
- 5.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan Atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Pasal I dibaca untuk memastikan entri dengue tidak termasuk entri yang diganti. diskes.badungkab.go.id
- 6.Pescador Ruschel MA, Panda PK, Farmer A. Dengue Fever. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov