DemensiaDementia
SKDI 2012 menempatkan Demensia pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Defisit Memori, butir nomor 39, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas. Tingkat 3A berarti dokter mampu membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Tetangganya dalam subkelompok yang sama adalah butir 40 Penyakit Alzheimer dengan tingkat 2, dan pada subkelompok Gangguan Neurobehaviour butir 73 Mild Cognitive Impairment juga tingkat 2. Susunan itu perlu dibaca dengan hati-hati: dokter layanan primer diberi kewenangan lebih luas atas sindromnya daripada atas penyebab tersering sindrom itu. Yang masuk akal secara praktis adalah mengenali demensia sebagai sindrom, memisahkannya dari delirium dan depresi, lalu menyerahkan penentuan tipenya kepada pusat rujukan. Dua dokumen nasional tidak sejalan pada titik kewenangan. PPK FKTP memuat entri demensia pada Huruf I Psikiatri dan menetapkan Tingkat Kemampuan 3A, lengkap dengan tata laksana. PPK Neurologi PERDOSSI memberi fasilitas pelayanan kesehatan primer satu tugas, yaitu skrining diagnostik lalu merujuk untuk konfirmasi diagnosis dan penatalaksanaan lanjutan. Entri ini menyebut keduanya dan mengikuti pembagian yang lebih sempit untuk hal yang memerlukan alat, yaitu konfirmasi tipe demensia dan titrasi obat penguat kognisi.SKDI 2012 places Demensia in the SISTEM SARAF table, Defisit Memori subgroup, item 39, at competency 3A with no qualifying words. Level 3A means the doctor makes the clinical diagnosis, gives initial treatment in a situation that is not an emergency, decides the most appropriate referral, and follows the patient up afterwards. Its neighbour in the same subgroup is item 40 Penyakit Alzheimer at level 2, and in the Gangguan Neurobehaviour subgroup item 73 Mild Cognitive Impairment is also level 2. That arrangement needs reading carefully: the primary care doctor is granted wider authority over the syndrome than over its commonest cause. What follows in practice is to recognise dementia as a syndrome, separate it from delirium and depression, and leave the typing to the referral centre. Two national documents disagree on authority. PPK FKTP carries a dementia entry in its Psikiatri section at competency 3A, with management included. The PERDOSSI neurology guideline gives a first level facility one task, diagnostic screening, then referral for diagnostic confirmation and further management. This entry names both and follows the narrower split for anything that needs equipment, meaning confirmation of the dementia type and titration of cognitive enhancers.
Demensia adalah penurunan fungsi intelektual dari tingkat sebelumnya, cukup berat sehingga mengganggu pekerjaan dan kegiatan sehari-hari, biasanya disertai perubahan perilaku, dan bukan akibat delirium maupun gangguan psikiatri mayor 2.
Yang membuat penyakit ini terlambat dikenali adalah bentuk awalnya. Keluhan pertama biasanya lupa terhadap kejadian yang baru dialami dan sulit mempelajari informasi baru, dua hal yang mudah dianggap wajar pada usia lanjut 1. Gangguan baru terlihat jelas setelah mengenai beberapa domain sekaligus dan mulai menyulitkan urusan sehari-hari.
Ada satu syarat waktu yang menentukan. Gejala dan hendayanya harus sudah nyata sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum diagnosis klinis demensia ditegakkan 1. Perubahan kognitif yang tumbuh dalam hitungan hari sampai minggu mengarah ke delirium, dan delirium punya penyebab yang dapat diobati.
Cakupan sumbernya perlu dinyatakan terus terang. Entri demensia pada PPK FKTP diubah seluruhnya oleh KMK 1936/2022, dan versi yang berlaku sekarang disusun di sekitar BPSD, yaitu gejala perilaku dan psikologis pada demensia, bukan di sekitar demensia sebagai sindrom 1 4. Definisi, kriteria diagnosis dan alat pemeriksaan kognitif pada entri ini karena itu diambil dari PPK Neurologi PERDOSSI 2.
Faktor yang berkaitan dengan munculnya gejala perilaku dan psikologis dibagi menjadi dua kelompok 1:
- Faktor pasien: kebutuhan yang tidak terpenuhi, rasa sakit, masalah medis akut, komorbiditas, tipe dan tingkat demensianya, perubahan di otak, perubahan neurotransmiter, susunan genetik, kepribadian dan riwayat hidup.
- Faktor lingkungan: keadaan pelaku rawat, jumlah dan pengetahuan pelaku rawat, kurangnya rutinitas, stimulasi yang kurang atau berlebihan, fasilitas dan infrastruktur, kejadian hidup atau perpisahan, serta dinamika keluarga.
Kompetensi dokter layanan primer 3A 3. Entri ini karena itu berhenti pada pengenalan sindromnya, penapisan, penanganan awal dan rujukan; penentuan tipe demensia, pencitraan, serta pemilihan dan titrasi obat penguat kognisi berada di pusat rujukan 2.
Dementia is a decline in intellectual function from the patient's previous level, severe enough to interfere with work and daily living, usually with a change in behaviour, and not caused by delirium or a major psychiatric disorder 2.
What makes it late to be recognised is the shape of its onset. The first complaint is usually forgetting recent events and finding it hard to learn new information, both of which are easy to write off as ageing 1. The impairment becomes obvious only once several domains are involved and ordinary tasks start to fail.
One time requirement decides the diagnosis. Symptoms and impairment must have been evident for at least 6 months before dementia is diagnosed clinically 1. Cognitive change that builds over days to weeks points to delirium instead, and delirium has causes that can be treated.
The scope of the sources has to be stated openly. The PPK FKTP dementia entry was replaced wholesale by KMK 1936/2022, and the version now in force is built around BPSD, the behavioural and psychological symptoms of dementia, rather than around dementia as a syndrome 1 4. The definition, the diagnostic criteria and the cognitive instruments in this entry therefore come from the PERDOSSI neurology guideline 2.
The factors linked to behavioural and psychological symptoms fall into two groups 1:
- Patient factors: unmet needs, pain, an acute medical problem, comorbidity, the type and stage of the dementia, changes in the brain, neurotransmitter changes, genetic make-up, personality and life history.
- Environmental factors: the state of the caregiver, the number of caregivers and what they know, lack of routine, too little or too much stimulation, facilities and infrastructure, life events or separation, and family dynamics.
Primary care competency is 3A 3. This entry therefore stops at recognising the syndrome, screening, initial handling and referral; typing the dementia, imaging, and the choice and titration of cognitive enhancers sit at the referral centre 2.
MengenaliRecognising it
Anamnesis, sebagian besar dari informan. Yang ditanyakan adalah awitan, pola perubahan pada domain kognisi dan non kognisi, serta perjalanannya; riwayat medis umum, neurologi, psikiatri, obat dan riwayat keluarga dipakai untuk mencari penyakit yang mendasari 2.
Gejala awal 1:
- Lupa terhadap kejadian yang baru dialami.
- Sulit mempelajari informasi baru.
Gejala tahap lanjut, yaitu gangguan kognitif kompleks yang disertai perubahan perilaku 1:
History, most of it from an informant. What is asked about is the onset, the pattern of change across cognitive and non-cognitive domains, and the course; the general medical, neurological, psychiatric, drug and family history is used to look for an underlying disease 2.
Early symptoms 1:
- Forgetting events that have just happened.
- Difficulty learning new information.
Later symptoms, meaning complex cognitive impairment with behavioural change 1:
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf I Psikiatri angka 2 Demensia, halaman 157 sampai 164. Versi ini menggantikan entri demensia pada KMK 1186/2022. diskes.badungkab.go.id
- 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Demensia, halaman 138 sampai 146, termasuk bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, subkelompok Defisit Memori, butir 39 Demensia, Tingkat Kemampuan 3A. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf I Psikiatri angka 2 Demensia. Dipakai hanya untuk menunjukkan isi entri yang digantikan. manuver.tireg7.net
- 5.Emmady PD, Schoo C, Tadi P. Major Neurocognitive Disorder (Dementia). In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov