Demam Reumatik AkutAcute Rheumatic Fever

SKDI 2012 menilai butir 30 Demam reumatik pada tingkat 3A, di tabel Sistem Hematologi dan Imunologi kelompok Penyakit Autoimun, halaman 52. Artinya dokter layanan primer diharapkan menegakkan diagnosisnya, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk. Dua hal pada penempatan itu perlu diperhatikan. Pertama, penyakit ini diletakkan di antara penyakit autoimun, bertetangga dengan lupus eritematosus sistemik 3A, polimialgia reumatik 3A dan artritis reumatoid 3A, bukan di tabel kardiovaskular. Kedua, gejala sisanya justru berada di tabel kardiovaskular dengan tingkat yang lebih rendah: butir 33 Penyakit jantung reumatik dinilai tingkat 2 pada halaman 42. Susunan itu masuk akal bila dibaca sebagai berikut: serangan akutnya harus dikenali dan diobati permulaannya oleh dokter layanan primer, sedangkan penyakit katup yang tertinggal sesudahnya bukan penyakit yang didiagnosis dan diobati sendiri di FKTP. Panduan layanan primer nasional tidak memiliki entri penyakit untuk demam reumatik, sehingga tidak ada tingkat kedua yang lebih baru untuk dibandingkan dan tingkat SKDI yang berlaku. Yang dimiliki panduan itu adalah perintah yang searah: entri Tonsilitis Akut menempatkan demam reumatik akut di antara komplikasi yang menuntut rujukan segera.SKDI 2012 grades item 30, Demam reumatik, at 3A, in the Haematology and Immunology table under autoimmune disease, page 52. The primary care doctor is expected to make the diagnosis, give initial treatment and refer. Two things about that placement deserve attention. First, the disease sits among the autoimmune conditions, next to systemic lupus erythematosus 3A, polymyalgia rheumatica 3A and rheumatoid arthritis 3A, rather than in the cardiovascular table. Second, its sequela does sit in the cardiovascular table, and at a lower grade: item 33, rheumatic heart disease, is graded 2 on page 42. The arrangement makes sense read this way: the acute attack must be recognised and started on treatment by the primary care doctor, while the valve disease left behind afterwards is not something diagnosed and treated at primary care level. The national primary care guideline has no disease entry for rheumatic fever, so there is no newer second grade to compare and the SKDI grade stands. What that guideline does have points the same way: its acute tonsillitis entry places acute rheumatic fever among the complications that require immediate referral.

Demam reumatik akut adalah reaksi autoimun yang lambat terhadap infeksi Streptococcus grup A. Tubuh membentuk kekebalan terhadap kumannya, dan kekebalan itu ikut mengenali jaringan sendiri, terutama jantung, sendi, otak dan kulit. Tampilan kliniknya ditentukan oleh kerentanan genetik penderita, keganasan organismenya, dan lingkungannya 1.

Yang membuatnya penting adalah gejala sisanya. Demam reumatik akut yang tidak diterapi dengan baik meninggalkan kerusakan pada jantung, dan kerusakan itulah yang disebut penyakit jantung reumatik 1.

Siapa yang terkena. Penyakitnya terjadi sebagian besar di negara berkembang, pada lingkungan padat, keadaan sosial ekonomi rendah, keadaan malnutrisi, dan tempat dengan fasilitas kesehatan terbatas 1. Puncak insidensnya pada usia 8 tahun, dengan rentang usia 6 sampai 15 tahun 1. Empat keadaan pertama itu adalah keadaan yang dihadapi banyak wilayah kerja puskesmas di Indonesia, sehingga penyakit ini bukan penyakit langka pada praktik layanan primer.

Kompetensi dokter layanan primer 3A, yaitu didiagnosis, diberi terapi pendahuluan, lalu dirujuk 3. Gejala sisanya, yaitu penyakit jantung reumatik, justru dinilai tingkat 2 pada dokumen yang sama, dan itu berarti penyakit katup yang tertinggal bukan penyakit yang dikelola sendiri di FKTP 3.

Pintu masuknya ada di ruang praktik yang sama. Panduan layanan primer nasional mencantumkan demam reumatik akut sebagai komplikasi faringitis akut dan sebagai komplikasi tonsilitis akut, dan keduanya adalah entri bertingkat 4A yang memang diobati sampai selesai di FKTP 2. Mengobati radang tenggorok streptokokus dengan benar adalah pencegahan primernya, dan SPARK memuat faringitis akut serta tonsilitis akut sebagai entri tersendiri.

Acute rheumatic fever is a delayed autoimmune reaction to infection with group A Streptococcus. The body builds immunity against the organism, and that immunity also recognises its own tissue, particularly the heart, joints, brain and skin. The clinical picture is set by the patient's genetic susceptibility, the virulence of the organism, and the environment 1.

What makes it matter is what it leaves behind. Acute rheumatic fever that is not properly treated leaves damage in the heart, and that damage is what is called rheumatic heart disease 1.

Who gets it. The disease occurs mostly in developing countries, in crowded settings, in low socioeconomic conditions, in malnutrition, and where health facilities are limited 1. Its peak incidence is at age 8, with a range of 6 to 15 years 1. Those first four conditions describe many puskesmas catchment areas in Indonesia, so this is not a rare disease in primary care practice.

Primary care competency is 3A: diagnose, give initial treatment, then refer 3. Its sequela, rheumatic heart disease, is graded 2 in the same document, which means the valve disease left behind is not managed at primary care level 3.

The way in is in the same consulting room. The national primary care guideline lists acute rheumatic fever as a complication of acute pharyngitis and as a complication of acute tonsillitis, and both are 4A entries treated to completion at primary care level 2. Treating streptococcal sore throat properly is its primary prevention, and SPARK carries acute pharyngitis and acute tonsillitis as their own entries.

MengenaliRecognising it

Diagnosisnya tidak ditegakkan oleh satu tanda. Ia ditegakkan oleh kombinasi kriteria, dan kombinasi yang dibutuhkan berbeda menurut riwayat pasien.

Kriteria Jones yang diperbaharui, sebagaimana dibawa pedoman pelayanan medis anak nasional 1:

  • Manifestasi mayor:
    • Karditis.
    • Poliartritis.
    • Khorea.
    • Eritema marginatum.
    • Nodul subkutan.
  • Manifestasi minor:
    • Klinis: artralgia dan demam.
    • Laboratorium: peningkatan reaktan fase akut, yaitu laju endap darah dan C-reactive protein.
    • Pemanjangan interval PR pada EKG.
  • Ditambah bukti infeksi streptokokus grup A sebelumnya:
    • Kultur usap tenggorok atau rapid streptococcal antigen test yang positif.
    • Titer antibodi streptokokus di atas nilai normal, atau titer yang meningkat.

The diagnosis is not made by one sign. It is made by a combination of criteria, and which combination is needed differs with the patient's history.

The revised Jones criteria, as carried by the national paediatric medical service guideline 1:

  • Major manifestations:
    • Carditis.
    • Polyarthritis.
    • Chorea.
    • Erythema marginatum.
    • Subcutaneous nodules.
  • Minor manifestations:
    • Clinical: arthralgia and fever.
    • Laboratory: raised acute phase reactants, meaning erythrocyte sedimentation rate and C-reactive protein.
    • A prolonged PR interval on the ECG.
  • Plus evidence of preceding group A streptococcal infection:
    • A positive throat swab culture or rapid streptococcal antigen test.
    • A streptococcal antibody titre above the normal value, or a rising titre.
yayestidaknoyayestidaknoDicurigai demam reumatik akutAcute rheumatic fever suspectedKorea satu-satunya manifestasi?Chorea the only manifestation?Cukup untukdiagnosis, dan tetapdirujukEnough to diagnose,and still referredSudah ada penyakit jantung reumatik?Known rheumatic heart disease?2 kriteria minorditambah buktiinfeksistreptokokus2 minor criteriaplus evidence ofstreptococcalinfection2 mayor, atau 1 mayor dan 2 minor,ditambah bukti infeksi streptokokus2 major, or 1 major and 2 minor,plus evidence of streptococcalinfectionBukti infeksi: usaptenggorok atau titerantistreptokokusEvidence: throatswab orantistreptococcaltitreRujuk untuk penilaian jantungRefer for cardiac assessment
Yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis berubah menurut riwayat pasien, bukan menurut beratnya serangan. Korea berdiri sendiri, dan pasien yang sudah menyandang penyakit jantung reumatik cukup dengan dua kriteria minor.What the diagnosis requires changes with the patient's history rather than with the severity of the attack. Chorea stands on its own, and a patient who already has rheumatic heart disease needs only two minor criteria.1
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis, Jilid 2, Edisi II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2011. Bab Demam Rematik Akut, halaman 41 sampai 45, mencakup kriteria Jones revisi, Tabel 1 kriteria WHO tahun 2002 sampai 2003, panduan tirah baring, pemusnahan streptokok dan pencegahan, pengobatan antinyeri dan antiradang, serta pencegahan primer dan sekunder. galihendradita.wordpress.com
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Lampiran I Huruf J Respirasi angka 2 Faringitis Akut halaman -423- sampai -429- dan angka 4 Tonsilitis Akut halaman -434- sampai -441-, termasuk Kriteria Rujukan tonsilitis akut; Huruf A Infeksi entri Demam Tifoid halaman -135- pada Diagnosis Banding; Lampiran II angka 6 Pemeriksaan Sistem Motorik dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman -895- sampai -896-. Lampiran I dipakai juga sebagai temuan negatif: tidak ada entri penyakit demam reumatik di dalamnya. manuver.tireg7.net
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi kelompok Penyakit Autoimun butir 30 Demam reumatik dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 52; tabel Sistem Kardiovaskular butir 33 Penyakit jantung reumatik dengan Tingkat Kemampuan 2, halaman 42. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Chowdhury MS, Koziatek CA, Tristram D, Rajnik M. Acute Rheumatic Fever. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.