Demam Dengue dan Demam Berdarah DengueDengue Fever and Dengue Haemorrhagic Fever
SKDI 2012 menaruh "Demam dengue, DHF" pada tingkat 4A, jadi dokter umum menegakkan diagnosis klinis lalu menuntaskan sendiri kedua bentuknya, baik demam dengue maupun demam berdarah dengue. Yang dipisah adalah dengue shock syndrome, yang berdiri sendiri pada tingkat 3B, kategori gawat darurat: dokter umum memberi terapi pendahuluan untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan, menentukan rujukan yang tepat, lalu menindaklanjuti setelah pasien kembali. Batas 3B itu dibawa ke ringkasan publik karena ia membatasi apa yang boleh dituntaskan sendiri. PPK FKTP sendiri hanya mencetak satu angka, yaitu 4A, pada bab gabungan demam dengue dan demam berdarah dengue, dan bab itu tidak memisahkan syok sebagai tingkat tersendiri.SKDI 2012 puts "Demam dengue, DHF" at level 4A, so a general practitioner makes the clinical diagnosis and then completes care for both forms, plain dengue fever and dengue haemorrhagic fever alike. What is separated out is dengue shock syndrome, which stands on its own at level 3B, the emergency category: the GP gives initial therapy to save life or prevent deterioration, arranges the right referral, then follows the patient up on return. That 3B limit is carried into the public summary because it bounds what may be finished at the primary care facility. PPK FKTP itself prints a single figure, 4A, on the combined dengue fever and dengue haemorrhagic fever chapter, and that chapter does not break shock out as a separate level.
PPK FKTP menaruh demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) pada satu bab. Kliniknya berupa demam mendadak, tinggi dan terus menerus selama 2 sampai 7 hari, disertai nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital, keluhan saluran cerna, dan manifestasi perdarahan 1. Yang membedakan DBD dari demam dengue biasa adalah bukti perembesan plasma, dan di situlah letak bahayanya 1.
Angka yang dicantumkan bab ini untuk Indonesia 1:
- DBD masih dihitung sebagai persoalan kesehatan masyarakat.
- Tingkat insidennya disebut tertinggi di antara negara Asia Tenggara.
- Sepanjang 2013 Kementerian Kesehatan mencatat 103.649 penderita dengan 754 kematian.
Dokter umum menuntaskan kedua bentuk itu pada tingkat 4A, sedangkan sindrom syok dengue ada di tingkat 3B: stabilkan dulu, lalu rujuk 1. Bab ini tidak menguraikan penyebab maupun cara penularan penyakitnya; seluruh pencegahan yang diaturnya berupa pengendalian nyamuk Aedes aegypti 1.
PPK FKTP puts dengue fever and dengue haemorrhagic fever (DBD) in a single chapter. It runs as sudden, high, continuous fever for 2 to 7 days with headache, myalgia, arthralgia, retroorbital pain, gastrointestinal complaints and bleeding 1. What separates DBD from plain dengue fever is evidence of plasma leakage, and that is where the danger lies 1.
The figures the chapter gives for Indonesia 1:
- DBD is still counted a public health problem.
- Its incidence rate is called the highest among Southeast Asian countries.
- Through 2013 the Ministry of Health logged 103,649 patients and 754 deaths.
A general practitioner completes care for both forms at level 4A, while dengue shock syndrome sits at 3B: stabilise first, then refer 1. The chapter sets out neither the cause nor the route of transmission; every preventive measure it gives is Aedes aegypti control 1.
MengenaliRecognising it
Anamnesis 1:
- Demam mendadak, tinggi, dan terus menerus selama 2 sampai 7 hari.
- Pada daftar kriteria demam dengue, sifat bifasik ditambahkan.
- Nyeri kepala, mialgia, artralgia, dan nyeri retroorbital.
- Gejala gastrointestinal: mual, muntah, dan nyeri perut yang biasanya terasa di ulu hati atau di bawah tulang iga.
- Manifestasi perdarahan yang perlu digali: bintik merah pada kulit, mimisan, gusi berdarah, serta darah pada muntahan maupun pada tinja.
- Kadang menyertai gejala lokal: nyeri menelan, batuk, pilek.
- Pada bayi, demam yang tinggi dapat menimbulkan kejang.
- Pada kondisi syok, anak merasa lemah, gelisah, atau kesadarannya menurun.
History 1:
- Fever that is abrupt, high, and continuous for 2 to 7 days.
- On the dengue fever criteria list, a biphasic pattern is added.
- Headache, myalgia, arthralgia, and retroorbital pain.
- Gastrointestinal symptoms: nausea, vomiting, and abdominal pain usually felt in the epigastrium or below the costal margin.
- Bleeding to ask about: red spots on the skin, nosebleed, bleeding gums, and blood in the vomit or in the stool.
- Local symptoms sometimes accompany it: pain on swallowing, cough, coryza.
- In an infant, high fever may bring on a seizure.
- Once shock has set in, the child feels weak, is restless, or has reduced consciousness.
RujukanReferences
- 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf A Kelompok Umum angka 15 Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue, halaman -86- sampai -95-. manuver.tireg7.net
- 2.World Health Organization. Dengue: guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. Geneva: WHO; 2009. Sumber klasifikasi dan tanda bahaya yang dipakai kalkulator pada entri ini. who.int
- 3.Pescador Ruschel MA, Panda PK, Farmer A. Dengue Fever. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov