Cutaneus Larva MigransCutaneous Larva Migrans

SKDI 2012 menilai butir 28 Cutaneus larva migran pada tingkat 4A tanpa kata pembatas, berbeda dari butir 4 sampai 7 pada tabel Kulit yang sama yang hanya dinilai untuk bentuk tanpa komplikasi. Angka 4A yang sama ada pada header entri PPK FKTP. Batas praktisnya datang dari isi PPK: hanya dosis dewasa albendazol yang tersedia, sementara anak dan ibu hamil tidak diberi dosis maupun perintah merujuk.SKDI 2012 grades item 28 Cutaneus larva migran at 4A with no qualifying word, unlike items 4 to 7 in the same Kulit table which are graded only in their uncomplicated form. The same 4A appears in the PPK FKTP entry header. The practical limit comes from the content of PPK: only an adult albendazole dose is available, while children and pregnant women are given neither a dose nor an instruction to refer.

Cutaneus larva migrans, atau creeping eruption, adalah peradangan kulit berbentuk garis lurus atau berkelok yang menonjol dan terus bertambah panjang, akibat masuknya larva cacing tambang milik anjing dan kucing 1. Penularannya lewat sentuhan langsung dengan larva, jadi sumbernya tanah atau pasir yang tercemar dan bukan orang lain 1. Satu penelitian di Kulon Progo pada 2012 melaporkan prevalensi sekitar 15% di Indonesia 1. Kompetensi dokter layanan primer 4A 12.

Penyakit ini sembuh sendiri. Sebagian besar larva mati dan lesi membaik dalam 2 sampai 8 minggu, jarang sampai 2 tahun 1. Yang membawa pasien datang biasanya gatalnya, bukan bahaya penyakitnya.

Faktor risiko 1:

  • Berjalan tanpa alas kaki.
  • Sering bersentuhan dengan tanah atau pasir.

Cutaneous larva migrans, also called creeping eruption, is a raised linear or winding skin inflammation that keeps extending, caused by the entry of hookworm larvae belonging to dogs and cats 1. Transmission is by direct contact with the larvae, so the source is contaminated soil or sand and not another person 1. One study in Kulon Progo in 2012 reported a prevalence of about 15% in Indonesia 1. Primary care competency is 4A 12.

The disease resolves on its own. Most larvae die and the lesions improve within 2 to 8 weeks, rarely taking as long as 2 years 1. What brings the patient in is usually the itch, not the danger of the disease.

Risk factors 1:

  • Walking without footwear.
  • Frequent contact with soil or sand.

MengenaliRecognising it

Diagnosis ditegakkan secara klinis, dari anamnesis dan pemeriksaan fisik 1.

Keluhan 1:

  • Gatal dan rasa panas di tempat larva masuk.
  • Lesi mula-mula berupa papul, lalu memanjang menjadi jalur lurus atau berkelok yang terus merambat.
  • Keluhan muncul sekitar 4 hari sesudah pajanan.

Pemeriksaan fisik 1:

  • Papul eritematosa yang merambat, tersusun lurus atau berkelok dan menyerupai benang.
    • Lajunya 2 cm per hari, jadi jalur yang jelas bertambah panjang di antara dua kunjungan menguatkan diagnosis.
  • Lokasi tersering: telapak kaki, bokong, genital, dan tangan.

The diagnosis is clinical, resting on history and physical examination 1.

Symptoms 1:

  • Itch and a burning sensation where the larva entered.
  • The lesion starts as a papule, then lengthens into a straight or winding track that keeps advancing.
  • Complaints appear about 4 days after exposure.

Examination 1:

  • An advancing erythematous papule arranged in a straight or winding line that resembles a thread.
    • It advances 2 cm per day, so a track that has clearly lengthened between two visits strengthens the diagnosis.
  • Commonest sites: soles of the feet, buttocks, genitals, and hands.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 30, halaman -631- sampai -633-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, butir 28 Cutaneus larva migran. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics. Kode 1F68.2 dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  4. 4.Maxfield L, Crane JS. Cutaneous Larva Migrans. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.