Chancroid (Ulkus Mole)Chancroid

SKDI 2012 memberi Chancroid tingkat kemampuan 3A sebagai butir 38, butir terakhir tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, tepat sesudah butir 37 Priapismus yang bertingkat 3B. Isi angka 3A di sini terbaca dari apa yang mungkin dikerjakan di layanan primer: ulkusnya dikenali dan diobati pada hari itu juga secara sindrom, sedangkan penamaan kumannya menuntut biakan atau pemeriksaan molekuler yang hanya ada di pusat rujukan. Tidak ada dokumen yang lebih baru yang menilai ulang butir ini. PPK FKTP KMK 1186/2022 tidak memuat entri chancroid, dan perubahannya KMK 1936/2022 tidak menambahkan satu pun entri pada kelompok Ginjal dan Saluran Kemih selain nefropati diabetik, sehingga tidak ada pertentangan yang perlu diselesaikan.SKDI 2012 grades chancroid 3A as item 38, the last item in the kidney and urinary tract table, immediately after item 37, priapism, which is graded 3B. What 3A holds here is readable from what primary care can actually do: the ulcer is recognised and treated syndromically the same day, while naming the organism requires culture or molecular testing that exists only at referral centres. No later document regrades this item. PPK FKTP KMK 1186/2022 carries no chancroid entry, and its amendment KMK 1936/2022 adds nothing to the kidney and urinary tract group beyond diabetic nephropathy, so there is no conflict to resolve.

Chancroid, yang dalam bahasa Indonesia disebut ulkus mole, adalah infeksi menular seksual oleh Haemophilus ducreyi. Gambarannya satu hal saja, dan hal itu yang membedakannya dari tetangganya: ulkus genital yang nyeri, sering disertai kelenjar getah bening inguinal yang nyeri dan membesar 3.

Urutan kejadiannya cepat. Beberapa jam sampai beberapa hari sesudah hubungan seksual muncul papul kemerahan, dalam satu sampai dua hari berikutnya papul itu menjadi pustul, lalu pecah dan meninggalkan ulkus yang nyeri. Pasien hampir selalu datang pada tahap ulkus yang nyeri itu 3.

Faktor risikonya sama dengan faktor risiko infeksi menular seksual lain 14:

  • Berganti pasangan seksual.
  • Hubungan seksual tanpa kondom.
  • Pekerja seks dan pelanggannya, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, dan waria, yang oleh Permenkes 23/2022 disebut populasi kunci dan dijadwalkan skrining tiap 3 bulan.
  • Infeksi HIV, yang mengubah bentuk ulkusnya dan memperlambat penyembuhannya.

Dua kenyataan tentang sumber perlu diketahui sebelum halaman ini dipakai. Pertama, Permenkes 23 Tahun 2022 adalah aturan yang mengikat untuk penanggulangan HIV dan infeksi menular seksual di Indonesia, dan aturan itu menguraikan enam jenis infeksi menular seksual tanpa menyebut Haemophilus ducreyi satu kali pun; ulkus genital di sana ditangani sebagai sindrom, bukan sebagai penyakit bernama 1. Kedua, WHO menyarankan pengobatan khusus chancroid hanya di wilayah yang surveilansnya melaporkan kasus atau menemukan kasus baru, karena prevalensinya menurun di seluruh dunia 3. Keduanya mengarah ke tempat yang sama: yang dikerjakan dokter layanan primer adalah pengobatan sindrom ulkus genital pada hari kunjungan, bukan perburuan kuman.

Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A 2.

Chancroid, called ulkus mole in Indonesian, is a sexually transmitted infection caused by Haemophilus ducreyi. Its picture is one thing, and that one thing separates it from its neighbours: a painful genital ulcer, often with enlarged and tender inguinal lymph nodes 3.

The sequence is quick. A red papule appears within hours to days of sexual exposure, over the next day or two it turns into a pustule, and the pustule breaks down and leaves a painful ulcer. Patients almost always present at that painful ulcer stage 3.

The risk factors are those of any sexually transmitted infection 14:

  • Changing sexual partners.
  • Sex without a condom.
  • Sex workers and their clients, men who have sex with men, and transgender women, whom Permenkes 23/2022 calls key populations and schedules for screening every 3 months.
  • HIV infection, which changes the shape of the ulcer and slows its healing.

Two facts about the sources belong here before the page is used. First, Permenkes 23 of 2022 is the binding Indonesian rule for HIV and sexually transmitted infection control, and it describes six sexually transmitted infections without naming Haemophilus ducreyi once; genital ulceration there is handled as a syndrome rather than as a named disease 1. Second, WHO suggests chancroid-specific treatment only in geographical settings where surveillance reports cases or finds emerging ones, because prevalence has fallen worldwide 3. Both lead to the same place: what the primary care doctor does is treat the genital ulcer syndrome on the day of the visit, not hunt the organism.

Primary care competency is 3A 2.

MengenaliRecognising it

Anamnesis 13:

  • Kapan luka muncul dan berapa hari sesudah hubungan seksual terakhir. Rentang beberapa jam sampai beberapa hari adalah rentang chancroid.
  • Nyeri. Ulkus chancroid nyeri; ulkus sifilis primer khasnya tidak nyeri. Ini pemisah klinis yang pertama.
  • Riwayat luka serupa di tempat yang sama sebelumnya. Ulkus berulang di lokasi yang sama mengarah ke herpes genital.
  • Riwayat pengobatan sifilis dalam 3 bulan terakhir, karena keterangan ini mengubah pengobatan hari itu juga.
  • Riwayat pasangan seksual, pemakaian kondom, dan seks anal reseptif. Ulkus anus dapat terjadi karena autoinokulasi.
  • Status HIV yang diketahui, dan kapan terakhir diperiksa.

History 13:

  • When the sore appeared and how many days after the last sexual contact. Hours to a few days is the chancroid interval.
  • Pain. A chancroid ulcer hurts; a primary syphilitic ulcer characteristically does not. That is the first clinical separator.
  • Previous sores at the same site. Ulcers that recur in one place point to genital herpes.
  • Treatment for syphilis within the past 3 months, because that answer changes what is given on the day.
  • Sexual partners, condom use, and receptive anal sex. Anal ulcers can arise by autoinoculation.
  • Known HIV status, and when it was last tested.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immunodeficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual. Pasal 13; lampiran BAB II jenis IMS; BAB V huruf D Penatalaksanaan IMS, Tabel 5.1 dan Gambar 5.1; BAB VIII pencatatan tiga sindrom IMS. peraturan.bpk.go.id
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, butir 38 Chancroid dengan Tingkat Kemampuan 3A. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.World Health Organization. Guidelines for the management of symptomatic sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2021. Bab 10 Genital ulcer disease syndrome, subbab 10.3 H. ducreyi, 10.4 rekomendasi, dan 10.5 pengobatan beserta Tabel 7. who.int
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Entri Sifilis (daftar diagnosis banding stadium 1) dan entri Gonore; huruf M Ginjal dan Saluran Kemih dipakai sebagai bukti bahwa entri chancroid tidak ada. manuver.tireg7.net
  5. 5.Irizarry L, Velasquez J, Wray AA. Chancroid. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.