Buta SenjaNyctalopia

SKDI 2012 menempatkan Buta senja pada tingkat 4A di kelompok Akomodasi dan Refraksi, sehingga keluhannya sendiri dituntaskan di layanan primer, dan Defisiensi vitamin juga 4A pada kelompok Gizi dan Metabolisme [2]. Tetapi buta senja adalah tanda, bukan penyakit, dan penyakit yang berada di belakangnya tidak semuanya 4A. Pada daftar SKDI yang sama, Xerophtalmia berada di tingkat 3A pada subkelompok Kornea, dan Keratitis juga 3A [2]. Entri PPK FKTP tidak memuat satu pun kriteria rujukan, padahal daftar pemeriksaan fisiknya sendiri sudah memuat xerosis kornea, ulkus dan sikatriks kornea, serta keratomalasia [1]. Jadi batas kewenangan yang berlaku bukan berasal dari kriteria rujukan yang tertulis melainkan dari temuan mata itu sendiri: buta senja tanpa kelainan kornea dikerjakan tuntas di layanan primer, sedangkan begitu kornea terlibat kasusnya sudah berada pada tingkat 3A dan harus dirujuk. Retinitis pigmentosa, penyebab kedua yang disebut entri ini, tidak ada sama sekali pada daftar penyakit SKDI dan tidak punya terapi di layanan primer [1][2].SKDI 2012 places night blindness at level 4A in the accommodation and refraction group, so the complaint itself is completed in primary care, and vitamin deficiency is also 4A in the nutrition and metabolism group [2]. But night blindness is a sign, not a disease, and the diseases behind it are not all 4A. In the same SKDI list xerophthalmia sits at level 3A under the cornea subgroup, and keratitis is 3A as well [2]. The PPK FKTP entry carries no referral criteria at all, although its own examination list already includes corneal xerosis, corneal ulcer and scar, and keratomalacia [1]. The operative boundary therefore comes not from any written referral criterion but from the eye findings themselves: night blindness without corneal change is completed in primary care, while once the cornea is involved the case is already at level 3A and must be referred. Retinitis pigmentosa, the second cause this entry names, does not appear anywhere in the SKDI disease list and has no primary care treatment [1][2].

Buta senja, disebut juga rabun senja atau nyctalopia, adalah ketidakmampuan melihat dengan baik pada malam hari atau dalam keadaan gelap 1. Kondisi ini lebih merupakan tanda dari kelainan yang mendasarinya daripada penyakit tersendiri, dan terjadi karena gangguan pada sel batang retina yang berperan pada penglihatan gelap 1. Dua penyebab yang disebutkan adalah defisiensi vitamin A dan retinitis pigmentosa 1.

Pasien mengeluh penglihatan menurun pada malam hari atau di tempat gelap dan sulit beradaptasi pada cahaya redup 1. Pada defisiensi vitamin A, buta senja adalah keluhan yang paling awal muncul, sehingga menanyakannya adalah cara termurah menemukan defisiensi sebelum matanya rusak 1.

Kompetensi dokter umum 4A 12. Yang menentukan langkah berikutnya adalah keadaan korneanya: pemeriksaan mencari tanda defisiensi vitamin A yang lain, mulai dari mata dan kulit yang kering sampai kerusakan kornea 1.

Night blindness, also called nyctalopia, is the inability to see well at night or in the dark 1. It is a sign of an underlying disorder rather than a disease in its own right, and it arises from disturbance of the retinal rod cells that serve vision in the dark 1. The two causes named are vitamin A deficiency and retinitis pigmentosa 1.

The patient complains that vision falls at night or in dark surroundings and that adapting to dim light is difficult 1. In vitamin A deficiency, night blindness is the earliest complaint to appear, which makes asking about it the cheapest way of finding the deficiency before the eye is damaged 1.

General practitioner competency is 4A 12. What decides the next step is the state of the cornea: the examination looks for the other signs of vitamin A deficiency, from a dry eye and dry skin through to corneal destruction 1.

MengenaliRecognising it

Keluhan utamanya sederhana dan hampir selalu ditanyakan sendiri oleh keluarga: anak atau dewasa yang tidak dapat melihat saat hari mulai gelap, sementara penglihatan siangnya biasa saja 1.

Keluhan 1:

  • Penglihatan berkurang saat malam atau di tempat yang gelap.
  • Adaptasi terhadap cahaya redup terasa lambat.
  • Pada defisiensi vitamin A, keluhan inilah yang paling awal muncul.

Pemeriksaan fisik mencari tanda defisiensi vitamin A lainnya 1:

  • Kekeringan (xerosis) konjungtiva bilateral.
  • Bercak bitot pada konjungtiva.
  • Xerosis kornea.
  • Ulkus kornea dan sikatriks kornea.
  • Kulit yang tampak kering dan bersisik.
  • Nekrosis kornea difus atau keratomalasia.

The complaint is simple and is usually raised by the family unprompted: a child or an adult who cannot see once it starts to get dark, while daytime vision is ordinary 1.

Complaints 1:

  • Vision falls at night or in dark surroundings.
  • Adapting to dim light is difficult.
  • In vitamin A deficiency this is the earliest complaint to appear.

Examination looks for the other signs of vitamin A deficiency 1:

  • Bilateral conjunctival dryness (xerosis).
  • Bitot spots on the conjunctiva.
  • Corneal xerosis.
  • Corneal ulcer and corneal scar.
  • Skin that looks dry and scaly.
  • Diffuse corneal necrosis, that is keratomalacia.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Kelompok penyakit Mata, entri 2 Buta Senja, halaman -203- sampai -205-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit: Sistem Indra bagian Mata (subkelompok Akomodasi dan Refraksi serta Kornea) dan Sistem Endokrin, Metabolik dan Nutrisi (subkelompok Gizi dan Metabolisme). pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Manfaat pemberian vitamin A untuk anak: kapsul biru 100.000 IU untuk bayi 6 sampai 11 bulan dan kapsul merah 200.000 IU untuk balita 12 sampai 59 bulan. Dipakai untuk kekuatan sediaan program nasional, bukan untuk jadwal pengobatan. ayosehat.kemkes.go.id
  4. 4.World Health Organization, UNICEF, IVACG Task Force. Vitamin A supplements: a guide to their use in the treatment of vitamin A deficiency and xerophthalmia. 2nd ed. Geneva: WHO; 1997. Rujukan untuk jadwal dosis pengobatan xeroftalmia, yang tidak dimuat PPK FKTP. who.int
  5. 5.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01, kode 9D45. Dipakai untuk kode ICD-11 pada entri ini, dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  6. 6.Feroze KB, Kaufman EJ. Xerophthalmia. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.