BronkiektasisBronchiectasis

SKDI 2012 memberi Bronkiektasis Tingkat Kemampuan 3A pada tabel Sistem Respirasi, subkelompok Paru, butir 22, tepat di bawah butir 21 Bronkiolitis akut 3B dan di atas butir 23 Displasia bronkopulmonar tingkat 1 [2]. Tingkat 3A didefinisikan dokumen yang sama sebagai keadaan yang bukan gawat darurat: dokter membuat diagnosis klinis, memberi terapi pendahuluan, menentukan rujukan yang paling tepat, lalu menindaklanjuti pasien sesudah kembali dari rujukan [2]. Seluruh isi halaman ini dibatasi oleh kalimat itu. Tidak ada tingkat kedua yang perlu dibandingkan. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP tidak memuat entri bronkiektasis dalam edisi 1186/2022, dalam perubahan 1936/2022, maupun dalam edisi 2014; namanya hanya muncul di dalam entri lain sebagai diagnosis banding, komplikasi, atau penyebab temuan auskultasi [1][5]. Karena dokumen yang lebih baru tidak memuat penyakit ini sama sekali, tidak ada pertentangan, dan tingkat SKDI berdiri sendiri.SKDI 2012 grades Bronchiectasis 3A in the Respiratory System table under Lung, item 22, directly below item 21 Acute bronchiolitis at 3B and above item 23 Bronchopulmonary dysplasia at level 1 [2]. The same document defines 3A as the non-emergency band: the doctor makes a clinical diagnosis, gives initial treatment, decides the most appropriate referral, then follows the patient up after they return [2]. That sentence sets the limits of this page. There is no second grade to weigh against it. The primary care clinical practice guideline carries no bronchiectasis entry in the 1186/2022 edition, in the 1936/2022 amendment, or in the 2014 edition; the name appears only inside other entries as a differential, a complication, or the explanation of an auscultation finding [1][5]. Because the newer document has no entry for this disease at all, nothing is in conflict and the SKDI grade stands alone.

Bronkiektasis adalah kerusakan dan pelebaran abnormal saluran napas besar 1. Dinding bronkus yang rusak kehilangan tenaga untuk mendorong sekret keluar, sehingga dahak menetap di tempat yang seharusnya dibersihkan setiap hari. Dari situ berjalan lingkaran yang menerangkan seluruh gambaran klinisnya: sekret tertahan, kuman tumbuh di dalamnya, radang merusak dinding bronkus lebih jauh, dan pelebarannya bertambah.

Yang memisahkannya dari batuk kronik lain adalah jumlah dahak dan lamanya. Bronkitis kronik memberi batuk berdahak yang hilang timbul, sedangkan bronkiektasis memberi dahak yang banyak hampir setiap hari selama bertahun-tahun, sering disertai batuk darah berulang. Kerusakan bronkusnya menetap dan tidak dipulihkan oleh antibiotik. Yang masih dapat diubah adalah berapa sering pasien terinfeksi dan seberapa cepat fungsi parunya turun.

Tingkatnya 3A, yaitu bukan gawat darurat: diagnosis klinis, terapi pendahuluan, rujukan, lalu pemantauan sesudah pasien kembali 2. Halaman ini karena itu berhenti pada apa yang dikerjakan sebelum dan sesudah rujukan, bukan pada tata laksana jangka panjangnya.

Di Indonesia penyebabnya dicari dengan urutan yang berbeda dari negara berpenghasilan tinggi:

  • Tuberkulosis paru. TB pasca primer ditandai kavitas di lobus superior dan kerusakan paru yang luas 3, dan kerusakan struktural itulah yang tertinggal sesudah kuman hilang. Edisi 2014 panduan layanan primer mencantumkan bronkiektasis pada daftar komplikasi paru TB, bersama atelektasis, hemoptisis, fibrosis, pneumotoraks, gagal napas, dan kor pulmonal 5.
  • Infeksi berat berulang pada masa anak. Pertusis mencantumkan bronkiektasis di antara penyulitnya, berdampingan dengan atelektasis, ruptur alveoli, emfisema, dan pneumotoraks 4.
  • HIV. Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan HIV, termasuk bronkiektasis, termasuk dalam stadium klinis 3 WHO untuk bayi dan anak 4.
  • Bronkitis akut yang berulang atau tidak sembuh; bronkiektasis ada di daftar komplikasinya 1.
  • Rinosinusitis kronik, yang komplikasinya mencakup bronkitis kronik dan bronkiektasis 1.
  • Aspirasi berulang dan benda asing bronkus yang lama tidak dikenali.
  • Kistik fibrosis, jarang di Indonesia tetapi tetap ada pada daftar banding penyakit obstruktif 1.

Bronchiectasis is abnormal destruction and dilatation of the large airways 1. A damaged bronchial wall loses the power to move secretions out, so sputum sits where it should be cleared every day. From there runs the cycle that explains the whole clinical picture: secretions are retained, organisms grow in them, inflammation damages the wall further, and the dilatation widens.

What separates it from other chronic coughs is the volume of sputum and how long it has run. Chronic bronchitis gives an intermittent productive cough; bronchiectasis gives a large volume of sputum on most days for years, often with repeated haemoptysis. The bronchial damage is permanent and antibiotics do not reverse it. What can still be changed is how often the patient is infected and how fast lung function falls.

The grade is 3A, the non-emergency band: clinical diagnosis, initial treatment, referral, then follow-up once the patient returns 2. This page therefore stops at what is done before and after referral rather than at long-term management.

In Indonesia the causes are worked through in a different order from high income countries:

  • Pulmonary tuberculosis. Post-primary TB is characterised by upper lobe cavitation and extensive lung damage 3, and it is that structural damage which remains once the organism has gone. The 2014 edition of the primary care guideline listed bronchiectasis among the pulmonary complications of TB, alongside atelectasis, haemoptysis, fibrosis, pneumothorax, respiratory failure and cor pulmonale 5.
  • Severe repeated infection in childhood. Pertussis lists bronchiectasis among its complications, beside atelectasis, ruptured alveoli, emphysema and pneumothorax 4.
  • HIV. HIV-related chronic lung disease including bronchiectasis sits in WHO clinical stage 3 for infants and children 4.
  • Recurrent or unresolved acute bronchitis; bronchiectasis is on its complication list 1.
  • Chronic rhinosinusitis, whose complications include chronic bronchitis and bronchiectasis 1.
  • Recurrent aspiration and an inhaled foreign body left unrecognised.
  • Cystic fibrosis, uncommon in Indonesia but still on the differential list for obstructive disease 1.

MengenaliRecognising it

Bronkiektasis ditemukan dengan mendengarkan riwayat batuknya, bukan dengan satu pemeriksaan tunggal. Alat yang tersedia di FKTP sudah cukup untuk menduganya: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dada seluruhnya bertingkat keterampilan 4A, begitu pula pemeriksaan sputum dengan pewarnaan Gram dan Ziehl Neelsen, interpretasi foto toraks, dan spirometri dasar 2. Yang tidak tersedia adalah pemeriksaan yang memastikannya.

Bronchiectasis is found by listening to the history of the cough, not by any single test. What a primary care clinic already has is enough to suspect it: chest inspection, palpation, percussion and auscultation are all skill level 4A, as are sputum Gram and Ziehl Neelsen staining, chest film interpretation and basic spirometry 2. What is not available is the test that confirms it.

History, which is the part that decides:

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf J Respirasi angka 5 Bronkitis Akut halaman lampiran -442- sampai -444-, angka 6 Asma Bronkial halaman lampiran -450-, angka 11 PPOK halaman lampiran -488- sampai -492-, entri Rinosinusitis halaman lampiran -524-, dan Lampiran II Panduan Keterampilan Klinis Huruf H Sistem Respirasi halaman lampiran -992-. Dipakai juga sebagai temuan negatif: dokumen ini tidak memuat entri bronkiektasis. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Respirasi, butir 22 Bronkiektasis dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 40; definisi tingkat 3A pada halaman 30 sampai 31; Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Respirasi, butir 11 sampai 14 pemeriksaan fisik dada 4A, butir 15 pemeriksaan sputum Gram dan Ziehl Nielsen 4A, butir 17 spirometri dasar 4A, butir 19 interpretasi foto toraks 4A, butir 21 bronkoskopi tingkat 2, butir 29 terapi inhalasi 4A, butir 30 terapi oksigen 4A, butir 31 edukasi berhenti merokok 4A, halaman 68 sampai 69. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/755/2019, Bab II bagian Tuberkulosis pasca primer halaman -13- sampai -14-, dan tabel paduan pada TB paru dengan kerusakan luas. Dipakai untuk hubungan antara tuberkulosis dan kerusakan struktur paru yang menetap. repository.kemkes.go.id
  4. 4.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis, Edisi II, 2011. Bab HIV pada anak, Tabel 1 revisi stadium klinis WHO untuk bayi dan anak, halaman 143 sampai 145, yang memuat penyakit paru kronik berhubungan dengan HIV termasuk bronkiektasis pada stadium klinis 3; bab Pertusis, daftar Penyulit, halaman 225 sampai 226, yang memuat bronkiektasis, emfisema, pneumotoraks, atelektasis dan ruptur alveoli. galihendradita.wordpress.com
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, entri Tuberkulosis Paru, daftar komplikasi paru dan kor pulmonal. Edisi terdahulu, dipakai di sini hanya untuk menunjukkan bahwa daftar komplikasi yang menyebut bronkiektasis dan kor pulmonal ada pada edisi 2014 dan tidak diteruskan pada edisi 2022. peraturan.bpk.go.id
  6. 6.Bird K, Memon J. Bronchiectasis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.