BotulismeBotulism
SKDI 2012 menempatkan Botulisme pada tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas, butir 42, dengan tingkat kemampuan 3B [1]. Arti 3B [1]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. Letaknya pada tabel itu menyimpan satu jebakan yang perlu dibuka sebelum halaman ini dipakai. Botulisme adalah butir terakhir pada subkelompok Lambung, Duodenum, Jejunum, Ileum, dan berdiri tepat sesudah tiga penyakit bertingkat 4A yang seluruhnya berupa gangguan saluran cerna [1]: - Butir 39, intoleransi makanan, 4A. - Butir 40, alergi makanan, 4A. - Butir 41, keracunan makanan, 4A. - Butir 42, botulisme, 3B. Yang membedakan butir 42 dari ketiga tetangganya bukan derajat beratnya diare, melainkan bahwa botulisme sebenarnya penyakit saraf. SKDI memfilekannya di bawah saluran cerna karena pintu masuknya makanan, bukan karena tampilannya di kamar periksa. Membacanya sebagai keracunan makanan yang berat adalah cara tercepat kehilangan pasien ini. Konsekuensi paling praktis dari perbedaan itu adalah kriteria rujukan. Entri Keracunan Makanan pada PPK FKTP merujuk bila gejala tidak berhenti sesudah 3 hari penanganan yang adekuat atau bila pasien memburuk [2]. Ambang tiga hari itu benar untuk gastroenteritis dan tidak berlaku di sini: pada botulisme, tiga hari adalah waktu yang cukup bagi kelumpuhan untuk turun dari otot mata sampai otot napas. Dua hal lain yang perlu diketahui: - Tidak ada entri PPK FKTP untuk botulisme. Kata botulismus muncul satu kali di seluruh lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, yaitu sebagai satu baris pada daftar diagnosis banding entri Bell's Palsy [2]. Itu satu-satunya tempat penyakit ini disebut, dan itu pun sebagai penyakit yang harus disingkirkan, bukan sebagai penyakit yang dituliskan tata laksananya. - Tidak ada pedoman nasional Indonesia untuk tata laksana botulisme yang dapat dijangkau pada penyusunan halaman ini. Buku Pedoman Keracunan Alami dan Non Alami Kementerian Kesehatan menyebut Clostridium botulinum sebagai penyebab intoksikasi pangan dan memuat nasihat pencegahannya, tetapi tidak memuat gambaran klinis maupun pengobatannya [3]. Gambaran klinis, jenis, dan prinsip pengobatan pada halaman ini karena itu berasal dari lembar informasi WHO, dan hal itu dinyatakan di sini alih-alih disamarkan [4].SKDI 2012 places Botulism in the Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas table, item 42, at competency level 3B [1]. What 3B means [1]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. Where it sits in that table holds a trap that must be opened before the page is used. Botulism is the last item of the Lambung, Duodenum, Jejunum, Ileum subgroup and stands immediately after three 4A diseases that are all disorders of the gut [1]: - Item 39, food intolerance, 4A. - Item 40, food allergy, 4A. - Item 41, food poisoning, 4A. - Item 42, botulism, 3B. What separates item 42 from its three neighbours is not the severity of the diarrhoea but the fact that botulism is really a neurological disease. SKDI files it under the gut because food is the way in, not because of how it looks in the consulting room. Reading it as severe food poisoning is the fastest way to lose this patient. The most practical consequence of that difference is the referral rule. The PPK FKTP food poisoning entry refers when symptoms have not stopped after 3 days of adequate treatment or when the patient deteriorates [2]. That three day threshold is right for gastroenteritis and does not apply here: in botulism, three days is enough time for paralysis to descend from the eye muscles to the muscles of breathing. Two further things to know: - There is no PPK FKTP entry for botulism. The word botulismus appears once in the whole annex of KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, as a single line in the differential diagnosis list of the Bell's Palsy entry [2]. That is the only place the disease is named, and there only as something to exclude, never as something whose management is written out. - No reachable Indonesian national guidance on the management of botulism was found while this page was written. The Kementerian Kesehatan guide to natural and non-natural poisoning names Clostridium botulinum as a cause of foodborne intoxication and carries its prevention advice, but no clinical picture and no treatment [3]. The clinical picture, the forms and the treatment principles on this page therefore come from the WHO fact sheet, and that is stated here rather than disguised [4].
Botulisme adalah kelumpuhan yang disebabkan neurotoksin Clostridium botulinum. Bakterinya membentuk spora yang tahan dan tumbuh di tempat tanpa oksigen; racun yang dihasilkannya, bukan bakterinya, yang membuat orang sakit 34. Dari delapan jenis toksin yang dikenal, empat menyebabkan penyakit pada manusia, yaitu tipe A, B, E, dan yang jarang tipe F 4.
Kementerian Kesehatan menggolongkan Clostridium botulinum sebagai penyebab intoksikasi pangan, yaitu kelompok keracunan tempat toksik yang sudah terbentuk di dalam makanan tertelan bersama makanan itu, berbeda dari infeksi pangan tempat bakterinya sendiri yang masuk dan berkembang biak 3.
Yang membuat penyakit ini penting bukan seringnya, melainkan bentuknya. Botulisme datang sebagai kelemahan yang menurun dari kepala ke bawah, tanpa demam dan tanpa penurunan kesadaran, dan berakhir pada otot pernapasan 4. WHO menyebut penyakit ini dapat mematikan pada 5 sampai 10 persen kasus, dan pasien yang berat memerlukan ventilasi mekanik yang dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan 4.
- Makanan olahan yang diawetkan sendiri di rumah, terutama yang disimpan tanpa oksigen.
- Makanan kaleng yang kalengnya rusak atau menggembung.
- Makanan yang sudah berbau atau rasanya tidak enak.
- Madu pada bayi di bawah 1 tahun, karena sporanya dapat berkecambah di dalam usus bayi.
- Luka terbuka yang terkontaminasi spora dan berada dalam keadaan tanpa oksigen.
- Penggunaan toksin botulinum untuk keperluan medis atau kosmetik, yang dapat menimbulkan bentuk iatrogenik.
Botulisme adalah kegawatdaruratan pernapasan yang datang tanpa sesak pada jam pertama. Yang menentukan keselamatan pasien adalah kecepatan mengenali arah kelumpuhannya, bukan beratnya keluhan saluran cerna.
Botulism is paralysis caused by the neurotoxin of Clostridium botulinum. The organism forms tough spores and grows where there is no oxygen; it is the toxin it produces, not the organism, that makes people ill 34. Of the eight recognised toxin types, four cause human disease: types A, B, E and, rarely, F 4.
The Kementerian Kesehatan classifies Clostridium botulinum as a cause of foodborne intoxication, the group of poisonings in which a toxin already formed inside the food is swallowed with it, as distinct from foodborne infection in which the organism itself enters and multiplies 3.
What makes this disease matter is not how often it happens but its shape. Botulism arrives as weakness descending from the head downwards, with no fever and no loss of consciousness, and it ends at the muscles of breathing 4. WHO states the disease can be fatal in 5 to 10 percent of cases, and severe patients need mechanical ventilation that may last weeks or even months 4.
- Home preserved foods, especially those kept without oxygen.
- Canned food whose can is damaged or bulging.
- Food that already smells wrong or tastes wrong.
- Honey given to an infant under 1 year old, because the spores can germinate in the infant gut.
- An open wound contaminated with spores and held in oxygen free conditions.
- Medical or cosmetic use of botulinum toxin, which can produce an iatrogenic form.
Botulism is a respiratory emergency that arrives without breathlessness in its first hours. What decides the patient's survival is how fast the direction of the weakness is recognised, not how severe the gut symptoms are.
MengenaliRecognising it
Diagnosis botulisme di layanan primer dibuat dari bentuk kelumpuhannya, bukan dari pemeriksaan. Tiga sifat berdiri bersama dan ketiganya harus dicari dengan sengaja 4:
- Kelemahan yang menurun (descending), bermula pada otot yang dipersarafi saraf kranial lalu turun ke leher dan lengan, kemudian ke otot pernapasan dan otot tubuh bagian bawah.
- Kelemahannya lemas, bukan kaku.
- Tidak ada demam dan tidak ada penurunan kesadaran.
Botulism is diagnosed in primary care from the shape of the paralysis, not from a test. Three features stand together and all three must be looked for deliberately 4:
- Descending weakness, beginning in muscles supplied by the cranial nerves, then moving down to the neck and arms, then to the respiratory muscles and the muscles of the lower body.
- The weakness is flaccid, not stiff.
- There is no fever and no loss of consciousness.
RujukanReferences
- 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas, subkelompok Lambung, Duodenum, Jejunum, Ileum, butir 42 Botulisme, Tingkat Kemampuan 3B, beserta butir 39 sampai 41 yang seluruhnya 4A pada subkelompok yang sama. pd.fk.ub.ac.id
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf L Neurologi, entri Bell's Palsy, daftar Diagnosis Banding huruf h, satu-satunya penyebutan botulismus dalam lampiran ini. Huruf A Kelompok Umum angka 11 Keracunan Makanan, halaman lampiran -69- sampai -71-, untuk kriteria rujukan berbasis 3 hari. manuver.tireg7.net
- 3.Kementerian Kesehatan RI, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Buku Pedoman Keracunan Alami dan Non Alami. Bagian keracunan pangan: intoksikasi karena bakteri dengan Clostridium botulinum di dalamnya, tiga faktor kunci kejadian luar biasa, dan daftar pencegahan keracunan makanan dan minuman butir 1 sampai 19. repository.badankebijakan.kemkes.go.id
- 4.World Health Organization. Botulism. WHO fact sheet. Dipakai untuk tipe toksin, masa inkubasi, pola kelumpuhan, ketiadaan demam dan gangguan kesadaran, bentuk penyakit, angka kematian, prinsip pengobatan, dan aturan pengolahan pangan. who.int
- 5.Botulism. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov