Baby blues dan depresi pascasalinBaby blues and postpartum depression

SKDI 2012 menilai butir ini pada tabel PSIKIATRI, butir nomor 15, dengan Tingkat Kemampuan 3A [2]. Tingkat 3A berarti dokter menegakkan diagnosis, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk. Baris SKDI-nya sendiri memuat satu cacat yang perlu dibawa terbuka. Butir 15 tertulis sebagai baby blues dengan depresi pascasalin dalam kurung di sebelahnya, seolah keduanya nama untuk hal yang sama. Keduanya tidak sama: yang pertama adalah gangguan ringan yang sementara, yang kedua adalah episode depresi yang memenuhi kriteria diagnosis tersendiri, dan Kemenkes sendiri memisahkan keduanya sebagai dua dari tiga perubahan psikologis masa nifas, bersama psikosis pascasalin [4]. Karena butir SKDI-nya menyebut kedua nama itu, entri ini mencakup keduanya dan memisahkan derajatnya di dalam, bukan memilih salah satu. Letak butirnya menerangkan angkanya. Butir 15 berada tepat sesudah empat butir depresi yang seluruhnya dinilai 2, yaitu depresi endogen butir 12, distimia butir 13, dan gangguan depresif yang tidak terklasifikasikan butir 14, serta siklotimia butir 11 [2]. Jadi depresi pada masa nifas dinilai satu tingkat lebih tinggi daripada depresi pada keadaan lain. Kenaikan itu bukan izin menatalaksana lebih lama, melainkan tuntutan untuk mengenalinya, karena pasien ini datang ke pelayanan kesehatan ibu dan bukan ke pelayanan jiwa. PPK FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini, dan itu diperiksa pada kedua lampirannya. Yang ada pada PPK adalah dua hal yang justru menegaskan alurnya [3]: - Entri Kehamilan Normal mewajibkan komunikasi, informasi, edukasi, dan konseling tentang baby blues pascasalin pada seluruh enam kontak antenatal, berdampingan dengan kesehatan jiwa ibu hamil. Jadi pencegahan dan pengenalannya adalah pekerjaan layanan primer sejak masa hamil. - Entri Gangguan Depresi Ringan-Sedang dan entri Gangguan Campuran Anxietas Dan Depresi sama-sama mencantumkan pasien dalam kondisi hamil atau pasca persalinan sebagai kriteria rujukan. Jadi begitu depresinya tegak pada ibu nifas, pasien itu keluar dari jalur pengobatan mandiri layanan primer. Kedua hal itu berjalan searah dengan angka 3A: mendidik dan mengenali di layanan primer, menatalaksana definitif di layanan jiwa.SKDI 2012 grades this item in the PSYCHIATRY table, item number 15, at competency level 3A [2]. Level 3A means the doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, and refers. The SKDI line itself carries a defect worth carrying openly. Item 15 is written as baby blues with postpartum depression in brackets beside it, as if the two were names for the same thing. They are not: the first is a mild and transient disturbance, the second is a depressive episode meeting diagnostic criteria of its own, and the Ministry of Health itself separates them as two of the three psychological changes of the puerperium, alongside postpartum psychosis [4]. Because the SKDI item names both, this entry covers both and separates them by severity inside, rather than choosing one. Where the item sits explains the figure. Item 15 comes immediately after four depression items all graded 2, that is endogenous depression at item 12, dysthymia at item 13, and unclassified depressive disorder at item 14, along with cyclothymia at item 11 [2]. So depression in the puerperium is graded one level above depression in other settings. That step up is not permission to treat for longer; it is a demand that it be recognised, because this patient presents to maternal health services rather than to mental health services. The PPK FKTP carries no entry for this condition, and that was checked in both of its annexes. What the PPK does carry is two things that confirm the route [3]: - The normal pregnancy entry requires communication, information, education, and counselling about postpartum baby blues at all six antenatal contacts, alongside maternal mental health in pregnancy. So prevention and recognition are primary care work from pregnancy onwards. - The mild to moderate depression entry and the mixed anxiety and depressive disorder entry both list a pregnant or postpartum patient as a referral criterion. So once depression is established in a postpartum woman, that patient leaves the primary care prescribing route. Both run in the same direction as the 3A figure: educate and recognise in primary care, treat definitively in mental health services.

Masa nifas membawa tiga perubahan psikologis yang berbeda derajatnya, yaitu baby blues, depresi pascasalin, dan psikosis pascasalin 4. Ketiganya bukan penyakit yang sama dengan tiga nama, dan membedakannya adalah pekerjaan utama halaman ini.

Baby blues adalah bentuk yang paling ringan, dan Kemenkes menyebutnya sindrom kesehatan jiwa ringan yang dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat, yaitu depresi dan psikosis pascasalin 4. Keluhannya berupa kelelahan sampai sulit merawat diri, mudah marah, cemas, sedih, mudah menangis, nafsu makan menurun, sulit tidur, merasa kewalahan mengurus bayinya, dan sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan 4.

Depresi pascasalin adalah episode depresi yang memenuhi kriteria diagnosis tersendiri, dengan ambang waktu sekurangnya dua minggu dan sekurangnya dua dari tiga gejala utama depresi 1. Perbedaannya dengan baby blues bukan pada jenis keluhan melainkan pada beratnya, lamanya, dan pada seberapa jauh fungsi ibu terganggu.

Batas waktu masa nifasnya diambil dari klasifikasi internasional, karena tidak ada dokumen nasional yang terjangkau yang mencetak batas itu. WHO menempatkan gangguan mental dan perilaku yang berkaitan dengan kehamilan dan masa nifas pada kategori yang awitannya dalam sekitar enam minggu sesudah persalinan 5.

SKDI 2012 menilai butir ini 3A, yaitu mendiagnosis, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk 2. PPK FKTP tidak memuat entri untuk kondisi ini, tetapi mewajibkan konseling tentang baby blues pascasalin pada seluruh enam kontak antenatal, dan mencantumkan pasien hamil atau pasca persalinan sebagai kriteria rujukan pada entri depresinya 3.

Yang membuat kondisi ini berbeda dari depresi lain adalah adanya orang kedua. Kemampuan ibu merawat bayinya, keselamatan bayi, dan berlangsungnya menyusui semuanya bergantung pada keadaan jiwanya, sehingga penilaian tidak berhenti pada ibunya saja.

The puerperium brings three psychological changes of different severity, that is baby blues, postpartum depression, and postpartum psychosis 4. These are not one illness with three names, and separating them is the main task of this page.

Baby blues is the mildest form, and the Ministry of Health calls it a mild mental health syndrome that can progress to more severe states, that is postpartum depression and psychosis 4. The complaints are tiredness to the point of struggling with self care, irritability, anxiety, sadness, tearfulness, reduced appetite, difficulty sleeping, feeling overwhelmed by caring for the baby, and difficulty concentrating or making decisions 4.

Postpartum depression is a depressive episode meeting diagnostic criteria of its own, with a threshold of at least two weeks and at least two of the three core depressive symptoms 1. What separates it from baby blues is not the type of complaint but the severity, the duration, and how far the mother's function is impaired.

The time boundary of the puerperium is taken from the international classification, because no reachable national document prints one. WHO places mental and behavioural disorders associated with pregnancy and the puerperium in a category whose onset is within about six weeks of delivery 5.

SKDI 2012 grades this item 3A, that is diagnose, give initial treatment, and refer 2. The PPK FKTP carries no entry for this condition, but it requires counselling about postpartum baby blues at all six antenatal contacts, and lists a pregnant or postpartum patient as a referral criterion on its depression entry 3.

What makes this condition different from other depression is the presence of a second person. The mother's ability to care for her baby, the baby's safety, and the continuation of breastfeeding all depend on her mental state, so the assessment does not stop at the mother.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Keluhan yang dipakai Kemenkes untuk menggambarkan baby blues 4:

  • Kelelahan sampai sulit merawat dirinya sendiri.
  • Mudah marah, mudah tersinggung, dan cemas.
  • Sedih dan murung.
  • Mudah menangis.
  • Nafsu makan menurun.
  • Sulit tidur.
  • Merasa kewalahan mengurus bayinya.
  • Sulit berkonsentrasi dan sulit mengambil keputusan.

Daftar itu hampir seluruhnya juga daftar gejala depresi, dan itulah sebabnya keluhan saja tidak memisahkan keduanya. Yang memisahkan adalah ambang diagnosis episode depresi.

History. The complaints the Ministry of Health uses to describe baby blues 4:

  • Tiredness to the point of struggling with self care.
  • Irritability, being easily upset, and anxiety.
  • Sadness and low mood.
  • Tearfulness.
  • Reduced appetite.
  • Difficulty sleeping.
  • Feeling overwhelmed by caring for the baby.
  • Difficulty concentrating and difficulty making decisions.

That list is almost entirely also a list of depressive symptoms, which is why the complaints alone do not separate the two. What separates them is the threshold for a depressive episode.

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa, KMK HK.02.02/MENKES/73/2015, Huruf G Episode Depresi. Disusun Pengurus Pusat PDSKJI. Pedoman ini tidak memuat bagian perinatal, sehingga kriterianya dipakai sebagai kriteria episode depresi umum. kemkes.go.id
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Psikiatri, nomor 15. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022: Huruf N angka 1 Kehamilan Normal (Tabel 2, baris konseling Baby blues postpartum), Huruf I angka 6 Gangguan Depresi Ringan-Sedang, dan Huruf I angka 4 Gangguan Campuran Anxietas Dan Depresi. Tidak memuat entri baby blues maupun depresi pascasalin. diskes.badungkab.go.id
  4. 4.Kemenkes RI. Mengenal Postpartum Blues. Laman informasi kesehatan Kementerian Kesehatan, bukan pedoman praktik klinis; dipakai untuk pemisahan baby blues, depresi pascapartum, dan psikosis postpartum. keslan.kemkes.go.id
  5. 5.World Health Organization. International Classification of Diseases 11th Revision, Mortality and Morbidity Statistics, kategori 6E20 dan 6E21. Sumber internasional, dipakai hanya untuk batas waktu masa nifas karena tidak ada dokumen nasional terjangkau yang mencetaknya. ICD-11 berlisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  6. 6.Mughal S, Azhar Y, Siddiqui W. Perinatal Depression. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.