Atrial Flutter (Kepak Atrium)Atrial Flutter
SKDI 2012 menilai butir 13 Atrial flutter pada tingkat 3B, di tabel Sistem Kardiovaskular kelompok Gangguan dan Kelainan pada Jantung, halaman 42, tepat di bawah butir 12 Fibrilasi ventrikular yang juga 3B. Dua baris di atasnya, butir 11 Fibrilasi atrial dinilai 3A. Selisih itu perlu diperhatikan dan tidak diterangkan oleh dokumennya. Kepak atrium dan fibrilasi atrium adalah dua aritmia atrium yang sangat sering muncul pada pasien yang sama, dan pedoman aritmia nasional menyatakan risiko tromboemboli keduanya sama sehingga rekomendasi antikoagulannya serupa. Meskipun begitu SKDI menempatkan kepak atrium satu tingkat lebih tinggi, yaitu pada kelompok gawat darurat. Yang praktis dari selisih itu: pada kepak atrium dokter layanan primer dituntut memberi terapi kegawatdaruratan sebelum merujuk, bukan sekadar terapi pendahuluan. Kepak atrium tidak memiliki entri penyakit tersendiri pada PPK FKTP, sehingga tidak ada tingkat kedua untuk dibandingkan dan yang dipakai adalah tingkat SKDI.SKDI 2012 grades item 13, Atrial flutter, at 3B, in the Cardiovascular System table under disorders of the heart, page 42, directly below item 12 Fibrilasi ventrikular which is also 3B. Two lines above, item 11 Fibrilasi atrial is graded 3A. That gap is worth noting and the document does not explain it. Atrial flutter and atrial fibrillation are two atrial arrhythmias that very often appear in the same patient, and the national arrhythmia guideline states their thromboembolic risk is the same, so their anticoagulation recommendations are alike. SKDI nonetheless places flutter one grade higher, in the emergency band. The practical consequence: in atrial flutter the primary care doctor is expected to give emergency treatment before referring, not merely initial treatment. Atrial flutter has no disease entry of its own in the PPK FKTP, so there is no second grade to compare and the SKDI grade stands.
Kepak atrium adalah aritmia atrium reentri makro, yaitu satu gelombang listrik yang berputar terus mengelilingi sebuah sirkuit besar di dalam atrium. Karena sirkuitnya tetap, lajunya teratur dan bentuk gelombangnya konstan, dan justru keteraturan itulah yang membedakannya dari fibrilasi atrium 1.
Laju atriumnya berkisar 250 sampai 350 kali per menit. Ventrikel tidak mengikuti seluruhnya karena nodus atrioventrikular menyaring sebagian, sehingga nadi pasien dapat teratur pada laju yang lebih rendah 1.
Kompetensi dokter layanan primer 3B, yaitu didiagnosis, diberi terapi kegawatdaruratan demi menyelamatkan nyawa, lalu dirujuk 3. Terapi definitifnya, yaitu ablasi kateter pada ismus kavotrikuspid, dikerjakan di pusat rujukan 1.
Dua hal yang perlu diketahui sejak awal karena keduanya menentukan tindakan:
- Risiko tromboemboli pada kepak atrium sama dengan risiko pada fibrilasi atrium, sehingga rekomendasi antikoagulannya serupa 1. Irama yang terlihat rapi pada rekaman tidak berarti risikonya lebih ringan.
- Kepak atrium dan fibrilasi atrium sangat sering berpindah bolak-balik pada pasien yang sama. Sebanyak 22 sampai 50 persen pasien mengalami fibrilasi atrium sesudah ablasi ismus kavotrikuspid pada pemantauan rata-rata 14 sampai 30 bulan, dan satu penelitian melaporkan angka yang lebih tinggi yaitu sekitar 82 persen dalam 5 tahun 1.
Kepak atrium juga dapat muncul justru karena pengobatan, yaitu pada pasien yang sedang memakai flekainid, propafenon, atau amiodaron untuk fibrilasi atrium 1.
Atrial flutter is a macro-reentrant atrial arrhythmia: a single electrical wave circling continuously around a large circuit inside the atrium. Because the circuit is fixed, the rate is regular and the wave morphology constant, and that regularity is exactly what separates it from atrial fibrillation 1.
The atrial rate runs 250 to 350 per minute. The ventricles do not follow all of it, because the atrioventricular node filters some out, so the patient's pulse can be regular at a lower rate 1.
Primary care competency is 3B: diagnosed, given emergency treatment to save life, then referred 3. Definitive treatment, catheter ablation of the cavotricuspid isthmus, is carried out at the referral centre 1.
Two things to know at the outset, because both decide what is done:
- Thromboembolic risk in atrial flutter is the same as in atrial fibrillation, so the anticoagulation recommendations are alike 1. A rhythm that looks tidy on the tracing does not carry a lighter risk.
- Atrial flutter and atrial fibrillation move back and forth in the same patient very often. Between 22 and 50 per cent of patients develop atrial fibrillation after cavotricuspid isthmus ablation over a mean 14 to 30 months of follow-up, and one study reported a higher figure of about 82 per cent within 5 years 1.
Atrial flutter can also appear because of treatment, in patients taking flecainide, propafenone or amiodarone for atrial fibrillation 1.
MengenaliRecognising it
Kepak atrium ditegakkan dari EKG. Pemasangan dan interpretasi EKG sederhana adalah keterampilan tingkat 4A, sehingga rekamannya memang dikerjakan dan dibaca sendiri oleh dokter FKTP 3.
Anamnesis. Kepak atrium adalah salah satu takiaritmia supraventrikular, dan keluhannya sama dengan keluhan takiaritmia lain: berdebar, sesak, mudah lelah, rasa tidak nyaman di dada, pusing, dan pada keadaan yang lebih berat sinkop. Yang perlu ditanyakan khusus pada aritmia ini:
Atrial flutter is established on the ECG. Recording and interpreting a simple ECG is a level 4A skill, so the tracing is taken and read by the primary care doctor 3.
History. Atrial flutter is one of the supraventricular tachyarrhythmias, and its symptoms are those of the others: palpitations, breathlessness, tiring easily, chest discomfort, dizziness, and in more severe states syncope. What to ask specifically in this arrhythmia:
RujukanReferences
- 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Perhimpunan Aritmia Indonesia. Pedoman Tatalaksana Takiaritmia Supraventrikular (TaSuV). Bagian 10 Kepak Atrium halaman 40 sampai 42, Tabel 11 rekomendasi tata laksana kepak atrium akut dan Tabel 12 rekomendasi tata laksana lanjutan halaman 44 sampai 45, bagian kapan merujuk pasien halaman 7, dan bagian 9.1 manajemen akut halaman 31. inahrs.or.id
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, angka 6 Elektrokardiografi (EKG) dengan Tingkat Keterampilan 4A, bagian analisis hasil pemeriksaan huruf m Atrial Flutter dan huruf n Atrial fibrilasi, halaman lampiran -1017-. Lampiran I dokumen yang sama dipakai sebagai temuan negatif: tidak ada entri penyakit kepak atrium di dalamnya. manuver.tireg7.net
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Kardiovaskular, butir 13 Atrial flutter dengan Tingkat Kemampuan 3B dan butir 11 Fibrilasi atrial dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 42; Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Kardiovaskular butir 19 Elektrokardiografi dengan tingkat 4A, halaman 70. Dokumen ini tidak memuat keterampilan kardioversi maupun defibrilasi. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Perhimpunan Aritmia Indonesia. Pedoman Tatalaksana Takiaritmia Supraventrikular (TaSuV). Bagian manajemen akut, mengenai risiko fibrilasi ventrikel pada pemberian penyekat nodus atrioventrikular saat terdapat preeksitasi. inahrs.or.id
- 5.Rodriguez Ziccardi M, Goyal A, Maani CV. Atrial Flutter. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov