Angina pektorisAngina pectoris
SKDI 2012 memberi butir 4 Angina pektoris Tingkat Kemampuan 3B pada tabel SISTEM KARDIOVASKULAR, kelompok Gangguan dan Kelainan pada Jantung, halaman 42, bertetangga dengan butir 3 Syok dan butir 5 Infark miokard yang keduanya juga 3B. Header entri PPK FKTP memuat angka 3B yang sama, sehingga kedua dokumen sepakat. Konsekuensinya lugas: dokter layanan primer menegakkan diagnosis, mengatasi serangan akutnya, lalu merujuk. Entri PPK menutup dengan rujukan ke layanan sekunder tanpa memberi syarat apa pun pada rujukan itu, sehingga tidak ada jalur yang mengizinkan angina dituntaskan di FKTP.SKDI 2012 grades item 4, angina pectoris, at 3B in the cardiovascular table, group Gangguan dan Kelainan pada Jantung, page 42, next to item 3 shock and item 5 myocardial infarction, both also 3B. The PPK FKTP entry header carries the same 3B, so the two documents agree. The consequence is plain: the primary care doctor makes the diagnosis, treats the acute attack, then refers. The PPK entry closes with referral to secondary care and attaches no condition to that referral, so no route exists for finishing angina care at a puskesmas.
Angina pektoris adalah nyeri dada iskemik yang muncul ketika kebutuhan oksigen miokardium melampaui pasokan yang mampu diantar arteri koroner. Pada sekitar separuh penderita penyakit jantung koroner, angina adalah tanda klinis yang pertama kali muncul 1.
Yang menentukan langkah di layanan primer bukan label anginanya, melainkan pola serangannya. Angina stabil timbul saat beban kerja jantung naik dan mereda dalam 1 sampai 5 menit begitu aktivitas dihentikan. Serangan yang datang saat istirahat atau saat tidur malam mengarah ke angina tidak stabil. Nyeri yang bertahan lebih dari 20 menit bukan lagi angina biasa dan ditangani sebagai sindrom koroner akut 1.
Tingkat kompetensinya 3B. Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, mengatasi serangan akutnya, lalu merujuk. Penilaian iskemia lanjutan dan revaskularisasi dikerjakan di pusat rujukan 13.
Faktor risiko yang tidak dapat diubah:
- Usia, dengan risiko naik pada pria di atas 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun, umumnya sesudah menopause 1.
- Jenis kelamin laki-laki. Morbiditas penyakit jantung koroner pada laki-laki dua kali lipat dibanding perempuan, dan selisih itu menghilang sesudah menopause 1.
- Riwayat penyakit arteri koroner dini dalam keluarga, yaitu ayah di bawah 55 tahun atau ibu di bawah 65 tahun 1.
Faktor risiko mayor yang dapat diubah:
- Peningkatan lipid serum 1.
- Hipertensi 1.
- Merokok 1.
- Konsumsi alkohol 1.
- Diabetes melitus 1.
- Diet tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan kalori 1.
Faktor risiko minor yang dapat diubah:
Angina pectoris is ischaemic chest pain that appears when what the myocardium needs in oxygen passes what the coronary arteries can deliver. In roughly half of people with coronary heart disease, angina is the first clinical sign to appear 1.
What decides the next step in primary care is not the label on the angina but the pattern of the attack. Stable angina arrives as cardiac workload rises and settles within 1 to 5 minutes once the activity stops. An attack at rest, or one that wakes the patient at night, points to unstable angina. Pain lasting beyond 20 minutes is no longer ordinary angina and is handled as an acute coronary syndrome 1.
Competence is graded 3B. The primary care doctor makes the diagnosis, treats the acute attack, then refers. Further ischaemia assessment and revascularisation belong to the referral centre 13.
Risk factors that cannot be changed:
- Age, with risk rising in men over 45 and women over 55, usually after the menopause 1.
- Male sex. Coronary heart disease morbidity in men runs at twice that in women, and the gap closes after the menopause 1.
- A family history of early coronary artery disease, meaning a father under 55 or a mother under 65 1.
Major risk factors that can be changed:
- Raised serum lipids 1.
- Hypertension 1.
- Smoking 1.
- Alcohol intake 1.
- Diabetes mellitus 1.
- A diet high in saturated fat, cholesterol and calories 1.
Minor risk factors that can be changed:
MengenaliRecognising it
Anamnesis. Diagnosis angina sebagian besar berdiri di atas ciri nyeri dadanya 1.
- Letak: di sternum atau di bawahnya, sering tidak dapat ditunjuk dengan satu jari, atau di dada sebelah kiri. Penjalaran tersering ke lengan kiri, dan dapat pula ke punggung, rahang, leher, atau lengan kanan. Nyeri dapat terasa di epigastrium, leher, rahang, gigi, dan bahu 1.
- Kualitas: rasa tertekan benda berat, diperas, atau panas. Sebagian pasien hanya mengeluh dada tidak enak karena tidak sanggup menerangkannya 1.
- Hubungan dengan aktivitas: timbul saat berjalan cepat, tergesa-gesa, mendaki, atau naik tangga. Pada kasus berat, mandi, menggosok gigi, makan terlalu kenyang, atau emosi sudah cukup mencetuskannya. Nyeri hilang begitu aktivitas dihentikan 1.
- Lama serangan: 1 sampai 5 menit. Rasa tidak enak di dada kadang masih tertinggal sesudah nyerinya hilang 1.
- Gejala penyerta: sesak napas, rasa lelah, keringat dingin, mual, muntah, dan pucat 1.
History. The diagnosis of angina rests mostly on the character of the chest pain 1.
- Site: over or below the sternum, often impossible to point to with one finger, or on the left side of the chest. It radiates most often to the left arm, and may go to the back, jaw, neck or right arm. The pain may also be felt in the epigastrium, neck, jaw, teeth and shoulder 1.
- Quality: pressure as if from a heavy weight, squeezing, or burning. Some patients report only chest discomfort because they cannot describe it 1.
- Relation to activity: brought on by walking fast, hurrying, walking uphill or climbing stairs. In severe cases bathing, brushing the teeth, a large meal or an emotional upset is enough. The pain stops as soon as the activity stops 1.
- Duration: 1 to 5 minutes. Chest discomfort sometimes lingers after the pain itself has gone 1.
- Associated features: breathlessness, tiredness, cold sweat, nausea, vomiting and pallor 1.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf F Kardiovaskuler, angka 1 Angina Pektoris Stabil, halaman lampiran -269- sampai -275-. manuver.tireg7.net
- 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut, edisi ke-5. Jakarta: PERKI; 2024. Penanganan gawat darurat dan sasaran waktu jaringan layanan. inaheart.org
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Kardiovaskular, butir 4 Angina pektoris dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 42. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi Dewasa. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/4634/2021, tata laksana hipertensi pada penyakit jantung koroner, halaman 67. kemkes.go.id
- 5.Gillen C, Shams P, Goyal A. Stable Angina. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov