Anemia MakrositikMacrocytic Anaemia

SKDI 2012 memberi Anemia makrositik tingkat 3A, yaitu mendiagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk [5]. Satu hal pada tabel yang sama perlu dibaca bersamanya: Anemia megaloblastik, yang merupakan salah satu bentuk anemia makrositik, diberi tingkat 2 pada baris terpisah, yaitu dikenali lalu dirujuk [5]. Jadi begitu gambarannya mengarah ke megaloblastik, tingkat yang diberikan dokumen yang sama untuk penyakit bernama itu adalah 2, dan kewenangan mengobatinya tidak meluas ke sana. PPK FKTP berjalan searah. Kriteria rujukan entri anemia defisiensi besi menyebut anemia megaloblastik dengan namanya sebagai anemia yang penyebabnya di luar kompetensi dokter layanan tingkat pertama [1]. Terapi awal yang tersisa karena itu sempit dan sudah dituliskan pedoman hanya untuk satu keadaan, yaitu ibu hamil, pada entri yang berbeda [2].SKDI 2012 grades Anemia makrositik at 3A: diagnose, give initial treatment, then refer [5]. One thing in the same table has to be read alongside it. Megaloblastic anaemia, which is one form of macrocytic anaemia, is given level 2 on a separate row, meaning recognise and refer [5]. So once the picture points to a megaloblastic process, the level the same document gives that named disease is 2, and the authority to treat does not extend there. The PPK FKTP runs the same way. The referral criteria of the iron deficiency entry name megaloblastic anaemia as an anaemia whose cause lies outside the competence of the primary care doctor [1]. The initial treatment that remains is therefore narrow, and the guideline writes it out for one situation only, the pregnant patient, inside a different entry [2].

Anemia makrositik adalah anemia dengan eritrosit yang berukuran lebih besar daripada normal. Perhatikan bentuk kalimat itu: yang mendefinisikannya adalah hasil pemeriksaan, bukan keluhan. Lemah, lesu, letih, lelah, pusing, telinga berdenging, dan sesak napas adalah keluhan setiap anemia, sehingga tidak satu pun di antaranya membedakan makrositik dari defisiensi besi 1.

Karena itu halaman ini bergantung pada dua hal yang tidak selalu ada di puskesmas, yaitu MCV dari alat hitung otomatis dan apusan darah tepi. Tanpa salah satunya, sebuah anemia tidak dapat disebut makrositik, dan pedoman sendiri sudah menyiapkan jalan keluar untuk keadaan itu: bila apusan darah tepi tidak tersedia, pasien dirujuk ke layanan sekunder untuk penentuan jenis anemia dan pengobatan awalnya 2.

PPK FKTP tidak memuat entri tersendiri untuk anemia makrositik. Yang ada hanya penyebutan di tiga tempat berbeda, yaitu pada entri anemia defisiensi besi pada kehamilan 2, pada entri malabsorbsi makanan 4, dan pada keterampilan pemeriksaan hematokrit 3. Tidak ada satu pun di antaranya yang mencantumkan angka batas MCV, sehingga nilai rujukan laboratorium yang dipakailah yang berlaku.

Penyebab yang disebut dokumen nasional:

  • Defisiensi asam folat dan vitamin B12 24.
  • Penyakit hati 3.
  • Hipotiroidisme 3.
  • Malabsorbsi, yang menghambat penyerapan asam folat dan vitamin B12 4.

Bentuk megaloblastiknya berada di luar kewenangan dokter layanan primer dan dirujuk 15.

Macrocytic anaemia is anaemia in which the red cells are larger than normal. Notice the shape of that sentence: what defines it is a test result, not a complaint. Weakness, tiredness, fatigue, dizziness, ringing in the ears and breathlessness belong to every anaemia, so none of them separates a macrocytic anaemia from iron deficiency 1.

This page therefore depends on two things a puskesmas does not always have, the MCV from an automated counter and a peripheral blood film. Without one of them an anaemia cannot be called macrocytic, and the guideline has already written the way out of that situation: where a blood film is not available, the patient is referred to the secondary level so the type of anaemia can be established and initial treatment given 2.

The PPK FKTP carries no entry of its own for macrocytic anaemia. It is mentioned in three separate places, in the entry on iron deficiency anaemia in pregnancy 2, in the entry on food malabsorption 4, and in the haematocrit skill 3. None of them prints an MCV cut off, so the reference range of the laboratory being used is what applies.

The causes named by national documents:

  • Folate and vitamin B12 deficiency 24.
  • Liver disease 3.
  • Hypothyroidism 3.
  • Malabsorption, which blocks the uptake of folate and vitamin B12 4.

Its megaloblastic form lies outside the primary care doctor's authority and is referred 15.

MengenaliRecognising it

Anemia ditegakkan lebih dulu, dan baru sesudah itu ukurannya menentukan arah. Ambangnya memakai nilai rujukan WHO, yaitu laki-laki di atas 13 g/dL dan perempuan di atas 12 g/dL, dengan perempuan hamil di atas 11 g/dL, dan anemia berarti hemoglobin berada di bawah nilai itu 1. Pada kehamilan, entri PPK tersendiri memakai batas kurang dari 11 g/dl pada trimester I dan III atau kurang dari 10,5 g/dl pada trimester II 2.

Anaemia is established first, and only then does cell size point the way. The threshold uses the WHO reference values, above 13 g/dL in men and above 12 g/dL in women, with above 11 g/dL in pregnancy, and anaemia means a haemoglobin below that value 1. In pregnancy the separate PPK entry uses below 11 g/dl in the first and third trimesters or below 10.5 g/dl in the second 2.

History, because the anaemia symptoms themselves separate nothing:

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf B angka 1 Anemia Defisiensi Besi, halaman lampiran -95- sampai -98-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf N angka 3 Anemia Defisiensi Besi Pada Kehamilan, halaman lampiran -723- sampai -726-, termasuk alur morfologi darah tepi dan Tabel 14.7. manuver.tireg7.net
  3. 3.Kemenkes RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, keterampilan pemeriksaan hematokrit, halaman lampiran -1296-. manuver.tireg7.net
  4. 4.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C angka 5 Malabsorbsi Makanan, halaman lampiran -129- sampai -131-. manuver.tireg7.net
  5. 5.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, nomor 4 Anemia makrositik tingkat 3A dan nomor 5 Anemia megaloblastik tingkat 2. pd.fk.ub.ac.id
  6. 6.Killeen RB, Adil A. Macrocytic Anemia. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.