Anemia Defisiensi Besi Pada KehamilanIron deficiency anaemia in pregnancy
SKDI 2012 menempatkan anemia defisiensi besi pada kehamilan di tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Gangguan pada Kehamilan, butir 39, tingkat kemampuan 4A [2]. Butir itu penutup subkelompoknya, dan letaknya menerangkan mengapa ia menonjol. Subkelompok yang sama memuat 25 butir dan hampir seluruhnya berada di bawah 4A: preeklampsia 3B, eklampsia 3B, hipertensi pada kehamilan 2, diabetes gestasional 2, janin tumbuh lambat 3A, plasenta previa 2 [2]. Hanya dua butir yang tetap 4A, yaitu aborsi spontan komplit butir 19 dan butir 39 ini. Jadi anemia defisiensi besi adalah satu dari dua gangguan kehamilan yang memang dituntaskan dokter layanan primer. Angka itu perlu dibaca bersama isi entrinya [1]: - Diagnosis menuntut apusan darah tepi untuk melihat morfologi eritrosit, dan entri sendiri menyediakan jalur rujukan bila fasilitas itu tidak ada. - Cabang keputusan feritin, serum iron, dan TIBC berada di luar jangkauan laboratorium sederhana puskesmas pada umumnya. - Ketiga kriteria rujukannya tidak memakai satu pun ambang hemoglobin. Anemia defisiensi besi pada perempuan yang tidak hamil adalah butir yang berbeda, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi butir 2, juga 4A, dan memakai nilai rujukan hemoglobin yang berbeda [2][4].SKDI 2012 places iron deficiency anaemia in pregnancy in the Sistem Reproduksi table, Gangguan pada Kehamilan subgroup, item 39, at competency 4A [2]. It closes its subgroup, and where it sits explains why it stands out. The same subgroup holds 25 items and nearly all sit below 4A: preeclampsia 3B, eclampsia 3B, hypertension in pregnancy 2, gestational diabetes 2, fetal growth restriction 3A, placenta praevia 2 [2]. Only two items stay at 4A, complete spontaneous abortion at item 19 and this item 39. So iron deficiency anaemia is one of only two disorders of pregnancy that a primary care doctor is expected to finish. That grade has to be read alongside the entry itself [1]: - The diagnosis calls for a peripheral blood film to see red cell morphology, and the entry provides its own referral route for where that is unavailable. - The ferritin, serum iron and TIBC decision branch sits outside the reach of the simple laboratory most puskesmas have. - None of its three referral criteria uses a haemoglobin threshold. Iron deficiency anaemia in a non pregnant woman is a different item, Sistem Hematologi dan Imunologi item 2, also 4A, and it uses different haemoglobin reference values [2][4].
Anemia dalam kehamilan punya ambangnya sendiri, dan ambang itu bergerak menurut trimester: hemoglobin di bawah 11 g/dl pada trimester I dan III, atau di bawah 10,5 g/dl pada trimester II 1. Angka itu lebih rendah daripada nilai rujukan perempuan tidak hamil, dan perbedaannya bukan kelonggaran melainkan akibat pengenceran fisiologis darah ibu 4.
Penyebab tersering ada tiga: defisiensi besi, perdarahan akut, dan defisiensi asam folat 1. Jadi judul entri menyebut besi, sementara isinya memaksa dokter memisahkan ketiganya lebih dulu, dan alat pemisahnya adalah apusan darah tepi.
Keluhan yang membawa pasien datang 1:
- Badan lemah dan lesu.
- Mudah lelah.
- Mata berkunang-kunang.
- Tampak pucat.
- Telinga mendenging.
- Pica, yaitu keinginan memakan bahan yang tidak lazim.
Keadaan yang mendahului dan perlu ditanyakan 1:
- Perdarahan kronis.
- Riwayat keluarga.
- Kecacingan.
- Asupan besi yang kurang.
- Gangguan penyerapan besi.
Kompetensi SKDI 4A 2. Yang membatasi kewenangan itu bukan kadar hemoglobin, karena entri ini tidak memakai satu pun ambang hemoglobin sebagai pemicu rujukan; yang membatasinya adalah ketersediaan pemeriksaan penunjang, anemia yang tidak membaik setelah tiga bulan, dan adanya perdarahan kronis 1.
Anaemia in pregnancy has thresholds of its own, and they move with the trimester: a haemoglobin below 11 g/dl in the first and third trimesters, or below 10.5 g/dl in the second 1. Those figures are lower than the reference values for a non pregnant woman, and the difference is not leniency but the physiological dilution of maternal blood 4.
There are three commonest causes: iron deficiency, acute haemorrhage and folic acid deficiency 1. So the title of the entry names iron while its content makes the doctor separate the three first, and the tool for separating them is the peripheral blood film.
The complaints that bring the patient in 1:
- A weak, listless body.
- Tiring easily.
- Flickering vision.
- Looking pale.
- Ringing in the ears.
- Pica, the urge to eat things that are not food.
States that come first and are worth asking about 1:
- Chronic bleeding.
- Family history.
- Worm infestation.
- Poor iron intake.
- Impaired iron absorption.
SKDI competency is 4A 2. What limits that competency is not the haemoglobin figure, because this entry uses no haemoglobin threshold at all as a referral trigger; what limits it is whether the investigations are available, whether the anaemia fails to improve after three months, and whether there is chronic bleeding 1.
MengenaliRecognising it
Pemeriksaan fisik yang khas 1:
- Konjungtiva anemis.
- Atrofi papil lidah.
- Stomatitis angularis, atau keilosis.
- Koilonikia, yaitu kuku sendok.
Pemeriksaan penunjang, dua saja 1:
- Kadar hemoglobin.
- Apusan darah tepi.
Diagnosis klinis 1:
- Hemoglobin di bawah 11 g/dl pada trimester I dan III.
- Hemoglobin di bawah 10,5 g/dl pada trimester II.
- Sesudah anemianya tegak, kerjakan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel darah merah. Morfologi itulah yang menentukan cabang tata laksananya, bukan angka hemoglobinnya.
The characteristic physical findings 1:
- Pale conjunctiva.
- Atrophy of the tongue papillae.
- Angular stomatitis, or cheilosis.
- Koilonychia, the spoon nail.
Investigations, only two 1:
- The haemoglobin level.
- A peripheral blood film.
Clinical diagnosis 1:
- A haemoglobin below 11 g/dl in the first and third trimesters.
- A haemoglobin below 10.5 g/dl in the second trimester.
- Once the anaemia is established, do a peripheral film to see red cell morphology. That morphology is what decides the management branch, not the haemoglobin figure.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Lampiran I Bab II, Huruf N Kesehatan Wanita, angka 3 Anemia Defisiensi Besi Pada Kehamilan, halaman lampiran -723- sampai -726-. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Gangguan pada Kehamilan butir 39 Anemia defisiensi besi pada kehamilan (4A), halaman cetak 48. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf N Kesehatan Wanita angka 1 Kehamilan Normal, halaman lampiran -231- sampai -245-. Rujukan silang untuk suplementasi besi pencegahan dan untuk ambang rujukan anemia pada kehamilan tanpa anemia yang tegak. diskes.badungkab.go.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf B Darah, Pembentukan Darah dan Sistem Imun angka 1 Anemia Defisiensi Besi, halaman lampiran -95- sampai -98-. Rujukan silang untuk nilai rujukan hemoglobin dewasa tidak hamil, komplikasi obstetrik, dan kriteria rujukan berbasis hemoglobin. manuver.tireg7.net
- 5.Hanif N, Rout P, Anwer F. Iron Deficiency and Microcytic Hypochromic Anemia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan dan tautan saja, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov