Anemia Defisiensi BesiIron deficiency anaemia
Level 4A: dokter umum mendiagnosis dan menuntaskan penanganannya secara mandiri. Angka itu perlu dibaca bersama isi entri PPK-nya, karena entri yang sama menyerahkan pemastian jenis anemia kepada laboratorium layanan sekunder dan merujuk setiap anemia yang sudah bergejala tanpa melihat kadar Hb. Jadi 4A di sini tidak berarti setiap pasien selesai di FKTP. Bentuk anemia lain berada di level yang lebih rendah dan memang harus dirujuk: anemia hemolitik 3A, anemia makrositik 3A, anemia aplastik 2, anemia megaloblastik 2. Pembagian itu sejalan dengan kriteria rujukan PPK.Level 4A: the GP diagnoses and completes management independently. That number has to be read alongside the PPK entry itself, because the same entry hands confirmation of the anaemia type to a secondary-level laboratory and refers any anaemia that has become symptomatic whatever the haemoglobin figure. So 4A here does not mean every patient finishes in primary care. Other anaemias sit lower and are meant to be referred: haemolytic anaemia 3A, macrocytic anaemia 3A, aplastic anaemia 2, megaloblastic anaemia 2. That split matches the referral criteria of the same PPK entry.
Anemia adalah sindrom, bukan diagnosis akhir. Massa eritrosit turun sampai oksigen yang sampai ke jaringan perifer tidak lagi mencukupi, dan defisiensi besi hanya salah satu sebabnya 1. Halaman ini mengikuti PPK FKTP dan berlaku untuk dewasa yang tidak hamil; kehamilan punya entri PPK sendiri dengan definisi anemia, aturan besi, dan kriteria rujukan yang berbeda 2.
Pasien datang dengan lemah, cepat lelah, pusing, telinga berdenging, dan sesak. Ambangnya memakai nilai rujukan WHO, yaitu laki laki di atas 13 g/dL dan perempuan di atas 12 g/dL, dan anemia ditegakkan bila Hb berada di bawah nilai itu 13.
Kompetensi SKDI 4A 4 tidak berarti setiap pasien selesai di FKTP. Anemia yang sudah bergejala dirujuk berapa pun kadar Hb, anemia tanpa gejala dirujuk bila Hb di bawah 8 g/dL, dan pemastian jenis anemianya adalah pekerjaan laboratorium layanan sekunder 1.
Kelompok berisiko 1:
- Ibu hamil.
- Remaja putri.
- Status gizi kurang.
- Keterbatasan ekonomi.
- Infeksi kronik.
- Vegetarian.
Anaemia is a syndrome, not a final diagnosis. Red cell mass falls until peripheral tissue no longer receives the oxygen it needs, and iron deficiency is only one of the causes 1. This page follows the PPK FKTP and covers non-pregnant adults; pregnancy has its own PPK entry with a different definition of anaemia, different iron rules and different referral criteria 2.
Patients come in with weakness, tiring easily, dizziness, ringing in the ears and breathlessness. The threshold uses the WHO reference values, above 13 g/dL in men and above 12 g/dL in women, and anaemia is diagnosed when haemoglobin sits below them 13.
SKDI competency 4A 4 does not mean every patient finishes in primary care. Symptomatic anaemia is referred whatever the haemoglobin, asymptomatic anaemia is referred below 8 g/dL, and confirming which anaemia it is belongs to a secondary-level laboratory 1.
Who gets it 1:
- Pregnant women.
- Adolescent girls.
- Poor nutritional status.
- Limited economic means.
- Chronic infection.
- A vegetarian diet.
MengenaliRecognising it
Anamnesis dan pemeriksaan fisik 1.
- Keluhan: lemah, lesu, letih, lelah, penglihatan berkunang kunang, pusing, telinga berdenging, konsentrasi menurun, dan sesak napas.
- Cari pucat di konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, dan dasar kuku.
- Tanda yang mengarah ke defisiensi besi dan bukan sekadar ke anemia:
- Disfagia.
- Atrofi papil lidah.
- Stomatitis angularis.
- Koilonikia.
Pemeriksaan penunjang di FKTP 1.
History and examination 1.
- Complaints: weakness, listlessness, fatigue, tiredness, flickering vision, dizziness, ringing in the ears, poor concentration and breathlessness.
- Look for pallor at the conjunctiva, oral mucosa, palms and nail beds.
- Signs that point at iron deficiency rather than at anaemia in general:
- Dysphagia.
- Atrophy of the tongue papillae.
- Angular stomatitis.
- Koilonychia.
Testing available in primary care 1.
RujukanReferences
- 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf B angka 1 Anemia Defisiensi Besi, halaman lampiran -95- sampai -98-. manuver.tireg7.net
- 2.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf N angka 3 Anemia Defisiensi Besi Pada Kehamilan, halaman lampiran -724- sampai -727-. manuver.tireg7.net
- 3.World Health Organization. Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Vitamin and Mineral Nutrition Information System. Geneva: WHO; 2011. WHO/NMH/NHD/MNM/11.1. who.int
- 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi. pd.fk.ub.ac.id
- 5.Hanif N, Rout P, Anwer F. Iron Deficiency and Microcytic Hypochromic Anemia. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov