Amnesia PascatraumaPost-Traumatic Amnesia
SKDI 2012 menempatkan Amnesia pascatrauma pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Gangguan Neurobehaviour, butir nomor 71, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas. Tingkat 3A berarti dokter mampu membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Tetangganya dalam subkelompok yang sama hanya dua, dan keduanya lebih rendah: butir 72 Afasia tingkat 2 dan butir 73 Mild Cognitive Impairment tingkat 2. Butir ini adalah satu-satunya gangguan neurobehaviour yang diberi tingkat 3. Perbandingan yang lebih penting berada di kelompok Trauma pada tabel yang sama: butir 57 Hematom epidural tingkat 2, butir 58 Hematom subdural tingkat 2, dan butir 59 Trauma Medula Spinalis tingkat 2. Daftar penyakit SKDI tidak memuat butir cedera kepala sama sekali. Artinya tingkat kemampuan tertinggi yang diberikan SKDI di sekitar trauma kepala justru diberikan kepada gejala sisanya, bukan kepada lesinya. Bacaan yang masuk akal adalah bahwa yang diharapkan dari dokter layanan primer bukan menangani hematomnya, melainkan mengenali bahwa otak pasien tidak merekam, menilai beratnya, dan memutuskan ke mana pasien dikirim. Keterampilan yang diperlukan hampir seluruhnya 4A pada SKDI: penilaian tingkat kesadaran dengan skala koma Glasgow butir 38, penilaian orientasi butir 39, penilaian daya ingat atau memori butir 44, dan penilaian konsentrasi butir 45 pada tabel keterampilan Sistem Saraf; penilaian status mental butir 6 dan Mini Mental State Examination butir 25 pada tabel keterampilan Psikiatri. Satu butir tidak ikut, dan ketidaksesuaiannya perlu disebutkan. Butir 43 Penilaian kemampuan belajar baru diberi tingkat 2, padahal kehilangan kemampuan merekam hal baru adalah inti dari amnesia pascatrauma. Tabel keterampilan memberi tingkat tinggi pada penilaian daya ingat dan tingkat rendah pada penilaian kemampuan belajar baru, sedangkan penyakitnya bertingkat 3A.SKDI 2012 places Amnesia pascatrauma in the SISTEM SARAF table, subgroup Gangguan Neurobehaviour, item 71, at competency 3A with no qualifying words. Level 3A means the doctor makes the clinical diagnosis, gives initial treatment in a situation that is not an emergency, decides the most appropriate referral, and follows the patient up afterwards. It has only two neighbours in the same subgroup, and both are lower: item 72 Afasia at level 2 and item 73 Mild Cognitive Impairment at level 2. This is the only neurobehavioural item graded at level 3. The more important comparison sits in the Trauma group of the same table: item 57 Hematom epidural at level 2, item 58 Hematom subdural at level 2, and item 59 Trauma Medula Spinalis at level 2. The SKDI disease list carries no head injury item at all. The highest competency SKDI grants anywhere near head trauma is therefore granted to the sequel rather than to the lesion. The sensible reading is that what is expected of a primary care doctor is not to manage the haematoma but to recognise that the patient's brain is not recording, to grade how severe that is, and to decide where the patient goes. The skills needed are almost all 4A in SKDI: Glasgow coma scale assessment item 38, orientation item 39, memory assessment item 44, and concentration item 45 in the nervous system skills table; mental state assessment item 6 and the Mini Mental State Examination item 25 in the psychiatry skills table. One item does not follow, and the mismatch deserves saying. Item 43, assessment of the ability to learn new material, is graded at level 2, although losing the ability to record new material is the core of post-traumatic amnesia. The skills table grades memory assessment high and new learning assessment low, while the disease itself is graded 3A.
Amnesia pascatrauma adalah keadaan setelah cedera kepala ketika otak pasien belum kembali merekam. Pasien dapat tampak sadar, berbicara, bahkan berjalan, tetapi tidak menyimpan apa yang baru saja terjadi. Tanda paling khasnya bukan hasil pemeriksaan melainkan perilaku: pasien menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali, dan setiap kali jawabannya hilang lagi.
PPK Neurologi PERDOSSI menempatkan amnesia sebagai bagian dari pemeriksaan baku pada cedera kepala, bukan sebagai catatan tambahan. Pemeriksaan fisiknya mencantumkan pemeriksaan orientasi, amnesia, dan fungsi luhur sebagai butir tersendiri, dan anamnesisnya meminta dokter menanyakan urutan peristiwa sejak sebelum kecelakaan sampai tiba di rumah sakit untuk mengetahui kemungkinan adanya amnesia retrograd 1.
Bab yang sama juga memperingatkan hal yang paling mudah terlewat: pasien tidak selalu pingsan. Pasien dapat terlihat bingung atau disorientasi, yaitu kesadaran yang berubah dan bukan kesadaran yang hilang 1. Pasien seperti inilah yang paling sering dipulangkan terlalu cepat.
Lamanya amnesia adalah ukuran beratnya cedera. Satu-satunya tabel pada pedoman ini yang memakai lama amnesia pascatrauma sebagai penentu kategori berada pada bab cedera kepala anak, dan tabel itu memberi kategori minimal tanpa amnesia sama sekali, kategori ringan dengan amnesia kurang dari 1 jam, kategori sedang dengan amnesia 1 sampai 24 jam, dan kategori berat dengan amnesia lebih dari 7 hari 2. Rentang antara 24 jam dan 7 hari tidak masuk kategori mana pun, dan hal itu perlu diketahui pembaca sebelum memakai tabelnya.
Yang menaikkan kecurigaan:
- Riwayat benturan kepala, sekecil apa pun, termasuk yang tidak disertai pingsan 1.
- Pasien yang mengulang pertanyaan yang sama, atau yang tidak dapat menyebutkan bagaimana ia sampai ke fasilitas kesehatan.
- Cerita yang berbeda antara pasien dan pengantarnya tentang apa yang terjadi.
- Kejang, muntah berulang, atau nyeri kepala hebat setelah trauma 2.
- Usia di bawah 2 tahun, pemakaian antikoagulan, dan penilaian yang sulit misalnya karena intoksikasi alkohol 2.
Kompetensi dokter layanan primer 3A 4. Untuk cedera kepalanya sendiri, PPK Neurologi memberi fasilitas pelayanan kesehatan primer tugas yang sangat sempit dan sangat jelas: tata laksana ABC dan resusitasi awal, lalu rujuk 1.
Post-traumatic amnesia is the state after a head injury in which the patient's brain has not yet started recording again. The patient may look awake, talk, even walk, and still not retain what has just happened. Its most characteristic sign is not a test result but a behaviour: the patient asks the same question over and over, and each time the answer disappears again.
The PERDOSSI neurology guideline makes amnesia part of the standard examination in head injury rather than an afterthought. Its physical examination lists assessment of orientation, amnesia and higher function as an item in its own right, and its history taking asks the doctor to walk the patient through the sequence of events from before the accident to arrival at hospital in order to detect retrograde amnesia 1.
The same chapter warns about the thing most easily missed: the patient is not always unconscious. The patient may simply look confused or disoriented, which is altered consciousness rather than lost consciousness 1. That is the patient most often sent home too early.
How long the amnesia lasts is the measure of how severe the injury was. The only table in this guideline that uses the duration of post-traumatic amnesia to set a category sits in the paediatric head injury chapter, and it gives a minimal category with no amnesia at all, a mild category with amnesia under 1 hour, a moderate category with amnesia of 1 to 24 hours, and a severe category with amnesia over 7 days 2. The span between 24 hours and 7 days falls into no category, and a reader needs to know that before using the table.
What raises suspicion:
- A history of a blow to the head, however small, including one with no loss of consciousness 1.
- A patient who repeats the same question, or who cannot say how they got to the health facility.
- A different account from the patient and from whoever brought them.
- Seizure, repeated vomiting, or severe headache after the trauma 2.
- Age under 2 years, anticoagulant use, and an assessment made difficult by, for example, alcohol intoxication 2.
Primary care competency is 3A 4. For the head injury itself, the neurology guideline gives a first level facility a very narrow and very clear task: airway, breathing and circulation with initial resuscitation, then refer 1.
MengenaliRecognising it
Yang membuat diagnosis ini. Riwayat trauma kepala, ditambah bukti di hadapan dokter bahwa pasien tidak menyimpan informasi baru, pada pasien yang kesadarannya tidak berkabut dan yang tidak memperlihatkan kemunduran menyeluruh fungsi kognitif 1 3 4.
Anamnesis. Bab cedera kepala PPK Neurologi memberi daftar yang sudah cukup, dan dua butirnya khusus tentang ingatan 1:
- Sifat kecelakaannya.
- Kapan terjadinya, berapa jam atau berapa hari sebelum pasien dibawa.
- Ada tidaknya benturan kepala langsung.
- Keadaan pasien saat kecelakaan dan perubahan kesadarannya sampai saat diperiksa.
- Bila pasien dapat diajak berbicara, tanyakan urutan peristiwanya sejak sebelum terjadinya kecelakaan sampai saat tiba, untuk mengetahui kemungkinan adanya amnesia retrograd.
- Ada tidaknya muntah.
- Bab itu menutup daftarnya dengan peringatan yang menentukan: pasien tidak selalu pingsan, dan dapat kelihatan bingung atau disorientasi, yaitu kesadaran yang berubah 1.
What makes the diagnosis. A history of head trauma, plus evidence in front of the doctor that the patient is not retaining new information, in a patient whose consciousness is not clouded and who shows no global decline of cognitive function 1 3 4.
History. The head injury chapter of the neurology guideline gives a list that is already sufficient, and two of its items are specifically about memory 1:
- The nature of the accident.
- When it happened, how many hours or days before the patient was brought in.
- Whether there was a direct blow to the head.
- The patient's state at the time of the accident and how consciousness has changed since.
- Where the patient can talk, walk them through the sequence of events from before the accident to arrival, in order to detect retrograde amnesia.
- Whether there has been vomiting.
- The chapter closes its list with the warning that decides matters: the patient is not always unconscious, and may simply look confused or disoriented, which is altered consciousness 1.
RujukanReferences
- 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Cedera Kepala, halaman 165 sampai 167, termasuk anamnesis amnesia retrograd, pemeriksaan orientasi dan fungsi luhur, pedoman resusitasi dan penilaian awal, dan bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
- 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Cedera Kepala pada Anak, halaman 295 sampai 300, termasuk tabel kategori berat ringannya cedera kepala yang memakai lama amnesia pascatrauma, indikasi CT scan absolut dan relatif, serta tata laksana cedera kepala ringan. snars.web.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai untuk penilaian daya ingat dan pemisahan gangguan amnesia dari delirium dan demensia, penilaian konsentrasi beserta penyebab performa buruknya, dan konfabulasi. Lampiran I keputusan yang sama dipakai sebagai temuan negatif, karena Huruf H Neurologi tidak memuat entri cedera kepala maupun amnesia pascatrauma. manuver.tireg7.net
- 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, subkelompok Gangguan Neurobehaviour, butir 71 Amnesia pascatrauma, Tingkat Kemampuan 3A; Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Saraf butir 38, 39, 43, 44 dan 45, tabel Psikiatri butir 6, 21, 24 dan 25, serta butir kegawatdaruratan dewasa 70 sampai 73. pd.fk.ub.ac.id
- 5.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.02.02/MENKES/73/2015, Huruf A Delirium dan Huruf B Demensia. Dipakai untuk kriteria diagnosis keduanya sebagai diagnosis banding amnesia pascatrauma. kemkes.go.id
- 6.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Pasal I. Dipakai untuk menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak menambahkan entri cedera kepala maupun amnesia pascatrauma. diskes.badungkab.go.id
- 7.Ginsburg J, Smith T. Traumatic Brain Injury. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov