AIDS dengan komplikasiAIDS with complications

SKDI 2012 memecah HIV menjadi dua butir yang berurutan pada tabel SISTEM SARAF, dan pemecahan itulah yang menentukan isi halaman ini. Butir 13 HIV AIDS tanpa komplikasi dinilai 4A, butir 14 AIDS dengan komplikasi dinilai 3A, keduanya pada halaman 53 versi cetak yang bernomor 33 [3]. Tingkat 3A berarti dokter layanan primer menegakkan diagnosisnya, memberikan terapi awal, lalu merujuk. Karena itu halaman ini tidak memuat regimen definitif infeksi oportunistiknya. Pirimetamin dengan sulfadiazin untuk ensefalitis toksoplasma dan antijamur intravena untuk meningitis kriptokokus adalah terapi pusat rujukan, dan menuliskannya di sini akan mengajarkan kewenangan yang tidak diberikan [2]. PPK FKTP membaca batas yang sama dari sisi rujukannya: pasien HIV/AIDS dengan komplikasi disebut sebagai kriteria rujukan tersendiri pada entri HIV/AIDS tanpa komplikasi [4]. Penemuan kasus, penegakan stadium, profilaksis kotrimoksazol, penapisan tuberkulosis, dan pengaturan waktu rujukan tetap pekerjaan layanan primer.SKDI 2012 splits HIV into two consecutive items in the nervous system table, and that split decides what belongs on this page. Item 13, HIV AIDS without complication, is graded 4A; item 14, AIDS with complication, is graded 3A; both sit on page 33 [3]. Grade 3A means the primary care doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, then refers. This page therefore carries no definitive regimen for the opportunistic infections. Pyrimethamine with sulfadiazine for toxoplasma encephalitis and intravenous antifungals for cryptococcal meningitis are referral centre therapy, and setting them out here would teach an authority that was never granted [2]. The PPK FKTP reads the same boundary from the referral side: a patient with HIV/AIDS and complications is named as a referral criterion of its own inside the uncomplicated HIV entry [4]. Case finding, staging, cotrimoxazole prophylaxis, tuberculosis screening, and getting the timing of the referral right all remain primary care work.

AIDS adalah tahap ketika infeksi HIV sudah menurunkan pertahanan tubuh sampai kuman yang biasanya tidak berbahaya menimbulkan penyakit berat. Pasien pada tahap ini jarang datang mengeluhkan HIV. Ia datang dengan keluhan infeksi yang menyertainya: batuk lama, nyeri kepala yang tidak kunjung reda, kejang, nyeri menelan, diare berbulan-bulan, atau berat badan yang terus turun 12.

Batas dengan butir tetangganya tegas. SKDI 2012 menilai HIV AIDS tanpa komplikasi 4A dan AIDS dengan komplikasi 3A 3. Bentuk tanpa komplikasi dituntaskan di layanan primer dan ada pada entri Atlas HIV/AIDS tanpa komplikasi. Halaman ini adalah bentuk yang sudah berkomplikasi: dikenali, ditangani seperlunya, lalu dirujuk. PPK FKTP menempatkan pasien HIV/AIDS dengan komplikasi sebagai kriteria rujukan tersendiri 4.

Di Indonesia tuberkulosis mendominasi tahap ini. Risiko tuberkulosis pada orang dengan HIV 16 sampai 27 kali lebih besar, satu dari lima kematian terkait AIDS bertaut dengan tuberkulosis, dan penyebab utama kematian itu adalah diagnosis yang terlambat 1. Tata laksana koinfeksinya ada pada entri Atlas Tuberkulosis dengan HIV.

Keadaan penanda yang paling sering ditemui di layanan primer 12:

  • Tuberkulosis paru dan tuberkulosis ekstraparu.
  • Kandidiasis mulut, dan kandidiasis esofagus yang membuat menelan terasa nyeri.
  • Ensefalitis toksoplasma.
  • Meningitis kriptokokus dan meningitis tuberkulosis.
  • Pneumonia Pneumocystis jirovecii.
  • Diare kronis lebih dari satu bulan.
  • Sindrom wasting HIV.

Bahasa yang dipakai di depan pasien ikut menentukan hasilnya. Orang yang merasa dihakimi berhenti datang, dan pada penyakit yang pengobatannya seumur hidup, berhenti datang adalah penyebab kematian tersendiri.

AIDS is the stage at which HIV has worn the immune defences down far enough that organisms which normally cause no trouble produce severe disease. Patients at this stage rarely arrive complaining of HIV. They arrive with the illness that came with it: a long cough, a headache that will not settle, seizures, pain on swallowing, months of diarrhoea, or weight that keeps falling 12.

The boundary with the neighbouring item is firm. SKDI 2012 grades HIV AIDS without complication 4A and AIDS with complication 3A 3. The uncomplicated form is completed in primary care and sits in the Atlas entry for uncomplicated HIV/AIDS. This page is the complicated form: recognise it, do what can be done, then refer. The PPK FKTP names a patient with HIV/AIDS and complications as a referral criterion in its own right 4.

In Indonesia tuberculosis dominates this stage. The tuberculosis risk in people with HIV is 16 to 27 times higher, one in five AIDS related deaths is tied to tuberculosis, and the main driver of those deaths is late diagnosis 1. Management of the co-infection sits in the Atlas entry for tuberculosis with HIV.

The marker conditions most often met in primary care 12:

  • Pulmonary and extrapulmonary tuberculosis.
  • Oral candidiasis, and oesophageal candidiasis that makes swallowing painful.
  • Toxoplasma encephalitis.
  • Cryptococcal meningitis and tuberculous meningitis.
  • Pneumocystis jirovecii pneumonia.
  • Chronic diarrhoea lasting more than one month.
  • HIV wasting syndrome.

The language used in front of the patient shapes the outcome. People who feel judged stop coming back, and in a disease whose treatment is lifelong, not coming back is a cause of death in itself.

MengenaliRecognising it

Kapan memikirkan AIDS dan bukan HIV saja. Pasien yang sudah diketahui positif dan datang dengan keadaan stadium 3 atau stadium 4, atau dengan hitung CD4 di bawah 200 sel/mm3, berada pada tahap ini 1. Sama pentingnya adalah arah sebaliknya: sejumlah infeksi oportunistik justru menjadi pintu masuk diagnosis HIV, sehingga tes HIV dianjurkan pada setiap pasien dengan gambaran klinis dan pencitraan otak yang mencurigakan ke arah toksoplasmosis serebral 2.

When to think AIDS rather than HIV alone. A patient already known to be positive who presents with a stage 3 or stage 4 condition, or with a CD4 count below 200 cells/mm3, is at this stage 1. The reverse direction matters just as much: several opportunistic infections are the way the HIV diagnosis is first made, so an HIV test is advised in every patient whose clinical picture and brain imaging raise suspicion of cerebral toxoplasmosis 2.

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immunodeficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual. Lampiran Bab VII, penentuan stadium klinis dan tata laksana infeksi oportunistik, profilaksis kotrimoksazol dan terapi pencegahan tuberkulosis, pengobatan antiretroviral beserta pengaturan waktunya, dan pemantauan sindrom pulih imun. peraturan.bpk.go.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/90/2019, bagian kapan memulai terapi antiretroviral, profilaksis infeksi oportunistik, Neuro-AIDS meliputi meningitis kriptokokus dan ensefalitis toksoplasma, manifestasi oral, dan tata laksana dukungan gizi. keslan.kemkes.go.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, subkelompok Infeksi, butir 14 AIDS dengan komplikasi dengan Tingkat Kemampuan 3A dan butir 13 HIV AIDS tanpa komplikasi dengan Tingkat Kemampuan 4A, halaman 33. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri HIV/AIDS Tanpa Komplikasi sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf B angka 2, halaman lampiran -105- sampai -113-. Dipakai untuk kriteria rujukan dan tabel stadium kliniknya; tidak ada entri PPK tersendiri untuk AIDS dengan komplikasi. diskes.badungkab.go.id
  5. 5.Swinkels HM, Nguyen AD, Samandari T, Gulick PG. HIV and AIDS. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.