Kompresi Medula Spinalis AkutAcute Spinal Cord Compression

SKDI 2012 menempatkan penyakit ini pada butir 54 tabel Sistem Saraf, kelompok Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang, dengan Tingkat Kemampuan 3B [3]. Artinya: didiagnosis, diberi penanganan gawat darurat, lalu dirujuk. Kata acute pada nama butirnya bukan hiasan; butir itu memberi tingkat 3B justru kepada bentuk yang berkembang cepat. Letaknya di dalam daftar menerangkan maksudnya. Butir ini berdiri di antara dorsal root syndrome yang bertingkat 2 dan radicular syndrome yang bertingkat 3A, dan satu baris sebelum hernia nukleus pulposus yang juga 3A [3]. Mielopati sendiri, sebagai penyakit menahun, hanya bertingkat 2. Jadi yang dinilai 3B bukan penyakit medula spinalis pada umumnya, melainkan penekanan yang datang cepat dan masih dapat dihentikan. Dua halaman SPARK berbatasan langsung dengan halaman ini dan tidak diulang di sini: - Transeksi Medula Spinalis Komplit, butir 48 dengan tingkat yang sama, yaitu keadaan setelah fungsi medula habis. - Spondilitis TB, butir 18 dengan tingkat 3A, yaitu penyebab infeksi yang paling sering menekan medula spinalis di Indonesia beserta seluruh urusan obat anti tuberkulosisnya. PPK FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini, dan itu bukan kelalaian melainkan cerminan cakupannya: PPK ditulis untuk apa yang dituntaskan puskesmas [1]. Karena itu halaman ini bersandar pada PPK Neurologi PERDOSSI dan pada panduan keterampilan pemeriksaan tulang belakang di dalam keputusan menteri yang sama, keduanya dokumen Indonesia [2][4].SKDI 2012 places this disease at item 54 of the nervous system table, in the group of diseases of the spine and spinal cord, at competency level 3B [3]. That means: diagnose, give emergency treatment, then refer. The word acute in the item's name is not decoration; the item gives 3B precisely to the fast moving form. Where it sits in the list explains what it means. This item stands between dorsal root syndrome at level 2 and radicular syndrome at level 3A, one line before herniated nucleus pulposus, also 3A [3]. Myelopathy itself, as a chronic disease, is graded only 2. So what is graded 3B is not spinal cord disease in general but compression that arrives quickly and can still be stopped. Two SPARK pages border this one directly and are not repeated here: - Transeksi Medula Spinalis Komplit, item 48 at the same level, the state after cord function has gone. - Spondilitis TB, item 18 at level 3A, the commonest infective cause of cord compression in Indonesia together with all of its anti tuberculosis drug questions. PPK FKTP carries no entry for this disease, and that is not an oversight but a reflection of its scope: the PPK is written for what a puskesmas completes [1]. This page therefore rests on the PERDOSSI neurology guideline and on the spinal examination skills annex inside the same ministerial decision, both Indonesian documents [2][4].

Kompresi medula spinalis akut adalah penekanan medula spinalis dari luar oleh sesuatu yang tumbuh, pecah, atau bergeser di dalam kanalis spinalis. Medulanya sendiri semula utuh, dan itulah yang membuat penyakit ini berbeda dari transeksi: selama tekanannya dihilangkan sebelum jaringannya mati, sebagian fungsinya masih dapat kembali.

Karena itu penyakit ini diukur dengan jam, bukan dengan derajat. Yang menentukan hasil akhirnya bukan seberapa berat kelumpuhan saat datang, melainkan seberapa cepat pasien sampai ke tempat yang memiliki MRI dan kemampuan bedah tulang belakang.

Jalannya khas dan hampir selalu berurutan: nyeri punggung atau leher lebih dulu, lalu nyeri yang menjalar, lalu kelemahan, lalu ketinggian gangguan rasa, dan terakhir gangguan berkemih dan buang air besar. Gangguan berkemih adalah tanda yang datang terlambat, bukan tanda awal. Menunggu sampai ia muncul berarti menunggu terlalu lama.

SKDI menilai butir ini 3B: didiagnosis, ditangani secara gawat darurat, lalu dirujuk 3. PPK FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini, sehingga halaman ini bersandar pada PPK Neurologi PERDOSSI dan pada panduan keterampilan pemeriksaan tulang belakang di dalam keputusan menteri yang sama 124.

SPARK memuat Spondilitis TB untuk penyebab infeksi yang paling sering di Indonesia, Transeksi Medula Spinalis Komplit untuk keadaan setelah fungsi medula habis, dan Sindrom Radikular untuk lesi yang berhenti di tingkat radiks. Isi ketiganya tidak diulang di sini.

Siapa yang perlu dipikirkan 24:

  • Pasien dengan nyeri punggung yang menetap berminggu-minggu, memberat pada malam hari, atau tidak mereda dengan istirahat.
  • Pasien dengan riwayat keganasan, terutama bila nyeri punggungnya baru.
  • Pasien dengan gejala tuberkulosis dan deformitas tulang belakang.
  • Pasien dengan nyeri punggung disertai demam, atau dengan sumber infeksi di tempat lain.
  • Pasien lanjut usia dengan kifosis torakal yang bertambah, karena itu mengarah ke fraktur kompresi vertebra.
  • Pasien artritis reumatoid dengan nyeri pada C1 sampai C2, karena risiko subluksasi dan penekanan medula spinalis meningkat pada mereka.
  • Pasien dengan nyeri punggung pada usia di atas 50 tahun atau di bawah 20 tahun.

Acute spinal cord compression is pressure on the spinal cord from outside it, by something growing, bursting or slipping inside the spinal canal. The cord itself starts out intact, and that is what makes this different from transection: as long as the pressure is removed before the tissue dies, some function can still return.

So this disease is measured in hours, not in grades. What decides the outcome is not how severe the weakness is on arrival but how fast the patient reaches somewhere with an MRI scanner and spinal surgery.

Its course is characteristic and almost always in order: back or neck pain first, then radiating pain, then weakness, then a sensory level, and last of all bladder and bowel disturbance. Bladder disturbance is a late sign, not an early one. Waiting for it means waiting too long.

SKDI grades this item 3B: diagnose, treat as an emergency, then refer 3. PPK FKTP carries no entry for this disease, so this page rests on the PERDOSSI neurology guideline and on the spinal examination skills annex inside the same ministerial decision 124.

SPARK carries Spondilitis TB for the commonest infective cause in Indonesia, Transeksi Medula Spinalis Komplit for the state after cord function has gone, and Sindrom Radikular for a lesion that stops at root level. None of those three is repeated here.

Who to think about 24:

  • A patient with back pain lasting weeks, worse at night, or not relieved by rest.
  • A patient with a history of malignancy, above all where the back pain is new.
  • A patient with tuberculosis symptoms and spinal deformity.
  • A patient with back pain and fever, or with a source of infection elsewhere.
  • An older patient with increasing thoracic kyphosis, which points to a vertebral compression fracture.
  • A patient with rheumatoid arthritis and pain at C1 to C2, in whom the risk of subluxation and cord compression is raised.
  • A patient with back pain aged over 50 or under 20.

MengenaliRecognising it

Pengenalan adalah hampir seluruh pekerjaan di FKTP pada penyakit ini, karena alat yang menegakkan diagnosisnya tidak ada di sini. Yang ada adalah anamnesis, palu refleks, dan urutan gejalanya.

Urutan itu sendiri adalah alat diagnostik. Nyeri lebih dulu, defisit belakangan, dan jarak antara keduanya adalah waktu yang tersedia untuk merujuk.

Anamnesis 2:

  • Nyeri punggung atau nyeri leher, beserta letak, sifat, penjalaran, lamanya, dan apa yang memperberat atau meringankannya.
  • Nyeri yang bertambah saat batuk, mengejan, atau membungkuk.
  • Kelemahan anggota gerak: letaknya, paraparesis atau tetraparesis, mendadak atau perlahan, dan arah perubahannya.
  • Kesemutan, rasa baal, dan hilangnya rasa, beserta batas atasnya bila pasien dapat menunjukkannya.
  • Gangguan berkemih berupa retensi atau inkontinensia, gangguan buang air besar berupa konstipasi, dan gangguan fungsi seksual.
  • Riwayat penyakit dahulu: keganasan, tuberkulosis, trauma, kelainan tulang belakang, osteoporosis, osteoartritis, diabetes melitus, dan nyeri punggung bawah sebelumnya.
  • Riwayat keluarga: keganasan, kelainan tulang belakang, osteoporosis, dan tuberkulosis.
  • Gejala sistemik: demam, keringat malam, penurunan berat badan, dan nafsu makan yang berkurang.

Recognition is almost the whole job in primary care here, because the test that makes the diagnosis is not available in primary care. What is available is the history, a tendon hammer, and the order in which the symptoms arrive.

That order is itself a diagnostic tool. Pain comes first, the deficit later, and the gap between them is the time available to refer.

History 2:

  • Back pain or neck pain, with its site, character, radiation, duration and what makes it better or worse.
  • Pain that worsens on coughing, straining or bending.
  • Limb weakness: where, paraparesis or tetraparesis, sudden or gradual, and which way it is moving.
  • Tingling, numbness and loss of sensation, with an upper border if the patient can point to one.
  • Urinary disturbance as retention or incontinence, bowel disturbance as constipation, and sexual dysfunction.
  • Past history: malignancy, tuberculosis, trauma, spinal abnormality, osteoporosis, osteoarthritis, diabetes and previous low back pain.
  • Family history: malignancy, spinal abnormality, osteoporosis and tuberculosis.
  • Systemic symptoms: fever, night sweats, weight loss and falling appetite.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, dan perubahannya Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022. Keduanya dicari seluruhnya dan tidak memuat entri untuk kompresi medula spinalis, mielopati, hernia nukleus pulposus, radikulopati, maupun nyeri punggung bawah. Dipakai sebagai pembanding negatif. manuver.tireg7.net
  2. 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Panduan Praktik Klinis Neurologi, 2016. Bab Cedera Medula Spinalis halaman 168 sampai 170; bab Spondilitis Tuberkulosis halaman 195 sampai 196; bab Mielitis Transversa halaman 216 sampai 217, yang menempatkan lesi kompresi medula spinalis sebagai diagnosis banding; bab Nyeri Punggung Bawah halaman 89 sampai 93, termasuk daftar tanda bahaya dan butir kewenangan berdasar tingkat pelayanan kesehatan. Tidak ada bab yang berjudul kompresi medula spinalis. snars.web.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, kelompok Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang, butir 54 Acute medulla compression dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 34. Butir 50 Neurogenic bladder 3A, butir 52 Mielopati 2, butir 53 Dorsal root syndrome 2, butir 55 Radicular syndrome 3A. Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Saraf, butir 57 sampai 62 pemeriksaan tulang belakang 4A, butir 69 Interpretasi X-Ray tulang belakang 4A, butir 74 MRI tingkat 1. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, angka 1 Pemeriksaan Tulang Belakang, Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -1097- sampai -1101-, khususnya bagian analisis hasil pemeriksaan yang menyebut pergeseran vertebra yang dapat menekan medula spinalis, peningkatan kifosis torakal pada fraktur kompresi vertebra, dan nyeri C1 sampai C2 pada artritis reumatoid. manuver.tireg7.net
  5. 5.Singleton JM, Hefner M. Spinal Cord Compression. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.