Abses PerianalPerianal Abscess

Tingkat 3A berarti dokter layanan primer menegakkan diagnosisnya, memberi terapi awal, lalu merujuk. SKDI 2012 menaruh butir 76 Abses (peri)anal pada tingkat 3A, di subkelompok Kolon [2]. Tetangganya di halaman yang sama menjelaskan mengapa halaman ini berdiri sendiri [2]: butir 75 Proktitis 3A, butir 77 Hemoroid grade 1-2 4A, butir 78 Hemoroid grade 3-4 3A, butir 79 Fistula 2, butir 80 Fisura anus 2, butir 81 Prolaps rektum, anus 3A. Dua hal terbaca dari deretan itu. Pertama, penyakit anus yang bernanah dinilai lebih tinggi daripada penyakit anus yang tidak. Kedua, dan ini yang penting untuk konseling pasien, akibat lanjutan abses ini justru dinilai lebih rendah: fistula berada di tingkat 2, artinya dokter umum mengenalinya dan merujuk, bukan menanganinya. Angka 3A itu didukung oleh dokumen yang lebih baru dan lebih spesifik, dan dukungannya berbentuk larangan. PPK FKTP KMK 1186/2022 memberi keterampilan Insisi dan Drainase Abses tingkat 4A kepada dokter layanan primer, lalu pada bagian analisis keterampilan yang sama menyebutkan abses perianal sebagai salah satu abses yang harus dirujuk ke spesialis, dengan alasan anestesi lokal saja tidak cukup untuk mengerjakannya [1]. Jadi kewenangan menoreh abses memang 4A, tetapi abses di halaman ini dikeluarkan dari kewenangan itu oleh pedomannya sendiri.Level 3A means the primary care doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, then refers. SKDI 2012 places item 76 Abses (peri)anal at 3A, in the Colon subgroup [2]. Its neighbours on the same page explain why this page stands on its own [2]: item 75 Proktitis 3A, item 77 Hemoroid grade 1-2 4A, item 78 Hemoroid grade 3-4 3A, item 79 Fistula 2, item 80 Fisura anus 2, item 81 Prolaps rektum, anus 3A. Two things can be read off that row. First, anal disease that suppurates is graded above anal disease that does not. Second, and this matters for what the patient is told, the sequel of this abscess is graded lower: fistula sits at level 2, meaning the GP recognises it and refers rather than treating it. That 3A is supported by a newer and more specific document, and the support takes the form of a prohibition. PPK FKTP KMK 1186/2022 gives the primary care doctor an Incision and Drainage of Abscess skill at level 4A, and then, in the analysis section of that same skill, names perianal abscess among the abscesses that must be referred to a specialist, on the ground that local anaesthesia alone is not sufficient to do the job [1]. So the authority to open an abscess is indeed 4A, but the abscess on this page is taken out of that authority by the guideline itself.

Abses perianal adalah kumpulan nanah di dalam ruang jaringan di sekitar kanalis analis. Pasien datang dengan nyeri dubur yang terus menerus dan berdenyut, bukan nyeri yang muncul hanya saat buang air besar, dan sering disertai demam.

Satu kalimat yang menjadi inti halaman ini: abses ini dikeluarkan nanahnya, bukan diobati dengan antibiotik saja. PPK FKTP menyatakan bahwa begitu abses sudah terbentuk, tindakannya adalah insisi, dan antibiotik bukan pengganti tindakan itu 1. Pedoman kegawatan bedah internasional menempatkan pengendalian sumber infeksi sebagai penentu hasil akhir yang paling penting pada infeksi jaringan lunak, dan pengendalian sumber yang terlambat atau tidak memadai menghasilkan kesakitan dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah 4.

Kalimat kedua sama pentingnya dan menyangkut waktu. Menunda pada pasien diabetes atau pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun berarti memberi kesempatan pada infeksi jaringan lunak nekrotikans di perineum. Diabetes melitus adalah penyakit penyerta yang paling sering menyertai infeksi jaringan lunak nekrotikans, sampai 44,5 persen pasien, dan penderita diabetes umumnya datang dengan infeksi banyak kuman serta hasil akhir yang lebih buruk 4. Pada infeksi itu, pembedahan dalam 6 jam pertama menghasilkan kematian 19 persen dibandingkan 32 persen bila pembedahan tertunda lebih dari 6 jam 4.

Faktor risiko infeksi jaringan lunak nekrotikans yang perlu ditandai pada pasien abses perianal 4:

  • Diabetes melitus.
  • Gangguan fungsi ginjal.
  • Penyakit arteri.
  • Penggunaan narkoba suntik.
  • Indeks massa tubuh di atas 30.
  • Penyakit hati.
  • Keadaan imunosupresi.
  • Tuberkulosis.
  • Riwayat operasi baru atau luka trauma.

Tingkat kemampuan dokter umum 3A: mendiagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk 2. Drainasenya sendiri tidak dikerjakan di FKTP, dan alasannya bukan keberanian melainkan anestesi: PPK FKTP menyatakan abses perianal harus dirujuk ke spesialis karena anestesi lokal saja tidak cukup 1.

A perianal abscess is a collection of pus in the tissue spaces around the anal canal. The patient presents with constant, throbbing anal pain rather than pain that appears only on defaecation, and often with fever.

One sentence is the core of this page: this abscess is drained, not treated with antibiotics alone. PPK FKTP states that once an abscess has formed the procedure is incision, and antibiotics are not a substitute for it 1. The international emergency surgery pathway places source control as the single most important determinant of outcome in soft tissue infection, and states that delayed or inadequate source control produces preventable morbidity and mortality 4.

The second sentence matters just as much and is about time. Delay in a patient with diabetes or with reduced immunity gives a necrotising soft tissue infection of the perineum its opportunity. Diabetes mellitus is the commonest comorbidity associated with necrotising soft tissue infection, in up to 44.5 per cent of patients, and patients with diabetes generally present with polymicrobial infection and have poorer outcomes 4. In that infection, surgery within the first 6 hours carried 19 per cent mortality against 32 per cent when surgery was delayed beyond 6 hours 4.

Risk factors for necrotising soft tissue infection worth marking in a patient with a perianal abscess 4:

  • Diabetes mellitus.
  • Renal impairment.
  • Arterial disease.
  • Injecting drug use.
  • Body mass index above 30.
  • Liver disease.
  • Immunosuppression.
  • Tuberculosis.
  • Recent surgery or a traumatic wound.

GP competency is 3A: diagnose, give initial treatment, then refer 2. The drainage itself is not performed in primary care, and the reason is anaesthesia rather than nerve: PPK FKTP states that a perianal abscess must be referred to a specialist because local anaesthesia alone is not sufficient 1.

MengenaliRecognising it

Yang khas dari nyeri abses perianal adalah bahwa ia tidak menunggu defekasi. Nyerinya terus menerus, berdenyut, dan memberat sendiri dari hari ke hari. Bandingkan dengan tetangganya: hemoroid interna berdarah tanpa rasa sakit, dan fisura ani memberi tenesmus ani, dan keduanya adalah pembanding yang memang disebut PPK FKTP pada penilaian perdarahan saluran cerna bagian bawah 3.

Anamnesis:

  • Sejak kapan nyerinya, dan apakah ia menetap di antara waktu buang air besar.
  • Demam, menggigil, dan rasa sakit yang membuat pasien tidak dapat duduk.
  • Riwayat abses perianal atau fistula sebelumnya.
  • Faktor risiko yang mengubah kecepatan rujukan: diabetes melitus, gangguan fungsi ginjal, penyakit arteri, penggunaan narkoba suntik, indeks massa tubuh di atas 30, penyakit hati, keadaan imunosupresi, tuberkulosis, dan riwayat operasi baru atau luka trauma 4.

What is characteristic of the pain of a perianal abscess is that it does not wait for defaecation. It is constant, throbbing, and worsens on its own from day to day. Compare its neighbours: an internal haemorrhoid bleeds painlessly, and an anal fissure produces anal tenesmus, and both of those comparisons are ones PPK FKTP itself draws when assessing lower gastrointestinal bleeding 3.

History:

  • How long the pain has been present, and whether it persists between bowel movements.
  • Fever, rigors, and pain that stops the patient sitting down.
  • Previous perianal abscess or fistula.
  • Risk factors that change the speed of referral: diabetes mellitus, renal impairment, arterial disease, injecting drug use, body mass index above 30, liver disease, immunosuppression, tuberculosis, and recent surgery or a traumatic wound 4.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis Bagi Dokter, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf Q Lain-Lain, subbagian Bedah Minor, angka 21 Insisi Dan Drainase Abses dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -1184- sampai -1186-; dengan angka 17 Anestesi (Infiltrasi, Blok Saraf Lokal, Topikal) dan angka 19 Pemberian Analgesik, keduanya Tingkat Keterampilan 4A, pada subbagian yang sama. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas, subkelompok Kolon, butir 76 Abses (peri)anal dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 46. Butir pembanding: 75 Proktitis 3A, 77 Hemoroid grade 1-2 4A, 78 Hemoroid grade 3-4 3A, 79 Fistula 2, 80 Fisura anus 2, 81 Prolaps rektum, anus 3A. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C Digestive, angka 9 Perdarahan Gastrointestinal huruf b Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah, halaman lampiran -159- sampai -161-. Dipakai untuk pembanding sifat nyeri hemoroid interna dan fisura ani. Huruf C tidak memuat entri abses perianal. manuver.tireg7.net
  4. 4.Sartelli M, Coccolini F, Kluger Y, dkk. WSES/GAIS/WSIS/SIS-E/AAST global clinical pathways for patients with skin and soft tissue infections. World Journal of Emergency Surgery. 2022;17:3. Dipakai untuk tanda infeksi jaringan lunak nekrotikans, faktor risikonya, indikasi antibiotik tambahan, dan pengendalian sumber, karena tidak ada pedoman nasional Indonesia untuk abses perianal yang dapat dijangkau. pmc.ncbi.nlm.nih.gov
  5. 5.Malik AI, Nelson RL, Tou S. Incision and drainage of perianal abscess with or without treatment of anal fistula. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2010;(7):CD006827. Dipakai untuk proporsi abses perianal yang memunculkan fistula ani dan untuk hasil perbandingan drainase saja terhadap drainase disertai tindakan terhadap fistulanya. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
  6. 6.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Pasal I angka 3 dan angka 4. Dipakai sebagai pembanding negatif: angka 21 Insisi Dan Drainase Abses tidak termasuk bagian Lampiran II yang diubah maupun ditambah. diskes.badungkab.go.id
  7. 7.Conner JN, Eren S, Dsouza R. Anorectal Abscess. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini dan tidak ada kalimatnya yang dikutip. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.